Hujan Bola di Negeri Orang, Hujan Tangis di... | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Hujan Bola di Negeri Orang, Hujan Tangis di... Reviewed by maztrie on 6:26 PM Rating: 4,5

Hujan Bola di Negeri Orang, Hujan Tangis di...

DI kampung Bluluk Tibo ada beberapa orang penggemar Pak SBY, penggemar Pak JK, dan penggemar Ebiet G. Ade. Soal penggemar Mas Ebiet, yangpaling maniak ya mas-mas yang tinggal di pertigaan itu. Iya, bener, yang ada gardu ronda merah-kuning-hijaunya itu. Namanya Mas Cakrawangsa. Dia hapal pol lagu-lagu Ebiet. Camelia 1 dan 2, terus Lagu untuk Sebuah Nama, terus… wah dan sebagainyalah. Dan yang paling Mas Cakra gandrungi adalah Perjalanan. Sering dengar juga kan?

Perjalanan iiiiiini

Terasa saaaangat menyedihkan

Sayang engkau tak duduk di saaaampingku, Kawan

Baaaanyak...

Banyak penduduk yang tahu demenannya Mas Cakra. Ndak cuma para tetangga teparo. Tukangtukang ojek, tukang sayur, tukang sedot WC, pemulung, dan lain-lain semua juga sudah tahu. Pagi sebelum berangkat kerja, Mas Cakra muter lagu-lagu puitis Ebiet itu keras-keras sampai para jiran alias tetangga denger. Maka pas ada tabrakan sepur nduk Pemalang, mereka saling guyon, ’’Habis Mas itu lagunya Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan sih...’’

’’Suruh jadi menteri perhubungan saja.’’’’Siapa? Mas Cakra atau Mas Ebiet?’’’’Hehehe...Ya dua-duanya...’’’’Betul, itu. Betul. Hmmm...Menteri perhubungankalau bisa tiga orang. Kasihan kalau cuma satu orang...’’’’Iya. Kewalahan nanti. Presiden kalau perlu ya tiga orang.’’

’’Setuju! Kalau ada acara bareng, semua bisa kebagian presiden. Kasihan Pemilihan Putri Indonesia nggak bisa dihadiri presiden. Presidennya ke bal-balan Indonesia-Uruguay.’’

’’Huahahaha... Presidennya tiga ya? Biar bingung tuh Belanda. Mau nangkep presiden Indonesia yang mana...’’

Gareng yang mengepalai kampung Bluluk Tibo menengahi guyonan pagi itu. ’’Hayo, konco-konco,’’ katanya, ’’Sekarang aku kowe kabeh kembali fokus ke pemilihan ketua RT XIII nanti malam di lapangan voli.’’

***

Hujan Bola di Negeri Orang, Hujan Tangis di...
Hiburan pemilihan ketua RT XIII malam itu ada lah pertandingan bola. Sejak tiga tahun ini ponokawan sepakat kembali memasyarakatkan bal-balan. ’’Ini bagus, asalkan tidak bal-balan ma syarakat,’’ kata Petruk. Setiap hajatan apa pun, termasuk uleman mantenan, khitanan, tedak siti (ba yi turun tanah), harus nanggap bal-balan.

Begitulah Bagong di kampung Pucang Sewu.Begitu juga Petruk di kampung Kembang Sore.Hasilnya lumayan, sekarang dari tiga kampung itu muncul regenerasi pemain. Dengar-dengarnDPR mau studi banding ke tiga kampung itu untuk dapat wangsit bagaimana menyusun rege nerasi PSSI dan Pak Nurdin Halid.

Kebetulan penggemar sekaligus pemain bola yang juga Adipati Banjarjunut, Raden Dursasana, sedang mampir ke kampung Bluluk Tibo. Salah satu pentolan Kurawa ini akan pergi ke Kerajaan Sruwantipura.Perlunya melamar Dewi Saltani. Ia akan meminta bantuan Arjuna melalui ponokawan.

Bagong sebetulnya keberatan di kampung para ponokawan ada Dursasana, orang yang selalu terkekeh-kekeh, selalu bergerak-gerak, bahkan tidur pun tangan dan kakinya ketayalan bergerakgerak sambil ngorok dan terpingkal-pingkal.

Gareng alias Cakrawangsa berbeda pendapat. Justru di zaman sekarang ketika para punggawa kerajaan terkesan kacau-balau tidak memikirkan kawula alit, diperlukan orang-orang yang siang malam bisa terbahak-bahak kemekelen seperti Dursasana.

Petruk melihat hasilnya. Baru dua hari musuh Raden Setyaki dan Bima itu tinggal di kampung Bluluk Tibo, semua warga kini ketularan hahahihi siang malam. Mendengar Anggodo dimenangkan oleh Mahkamah Agung, tukang-tukang sayur dan tukang ojek terpingkal-pingkal sampai matanya nangis.

Orang gak suka marah lagi. Mendengar Pak Presiden tidak jadi berangkat ke Belanda, satpam, hansip, dan tukang ronda ngakak ibaratnya sampai berguling-guling. Lha burung menco atau beonya Pak Karto di gang buntu sekarang siang-malam kemekelen terus terbahak-bahak sampai ngompol.

Biang keroknya ya si Dursanana itu. Tapi Gareng, selaku ponokawan yang paling cerdas, sebetulnya punya agenda tersembunyi.Ia oke akan menyampaikan maksud Dursasana ke si bos Playboy di Ksatrian Madukara, tapi menahan Dursasana sampai sepekan supaya bisa main bola pas pemilihan ketua RT XIII kampung Bluluk Tibo.

***

Dan pertandingan bola malam itu terjadilah, an tara RT V dan RT VIII. Di luar dugaan, RT VIII ternyata juga menampilkan pemain tamu, yaitu

Cakil. Usut punya usut, yang mendatangkan Cakil ke situ Bagong. Malah sudah sehari setengah raksasa lincah dengan tari bagai breakdance itu ada di Bluluk Tibo.’’Cakil minta bantuan aku,’’ kata Bagong. ’’Aku dimintai tolong nyampein pesan ke Ndoro Arjuna.

Katanya kalau ada pertunjukan wayang Ndoro Arjuna nggak usah keluar-keluarlah. Di dalam kotak saja. Soalnya kalau Arjuna muncul, Cakil pasti muncul juga dan hanya untuk dibunuh setelah pencilakan. Padahal dia sudah capek petakilan...’’

Pantesan, pikir Petruk, gerak tawa orang-orang Bluluk Tibo lebih dinamis dibanding gerak tawa Dursasana sendiri. Mungkin penduduk juga terpengaruh Cakil. Mereka menggabungkan tawa Dursasana dan pencilakan-nya Cakil. Pas pemimpin DPR bertemu Pak Kumis calon Kapolri, kan konon mestinya calon belum boleh bertemu DPR, wah masyarakat Blubuk Tibo pundaknya bergerak irama patah-patah seperti Cakil, mulutnya mangap ngakak seperti Dursasana.



***

Pertandingan bola antara Dursasana dan Cakil ternyata ramai sekali. Belum ada seorang pun merasa pernah menonton wayang kulit maupun wayang orang, yang Dursasana bisa ketemu perang sama Cakil. ’’Ternyata bisa juga ya?’’

’’Ho’o...Wong bisa gitu kok, Satria Banjarjunutface to face Cakil.’’

’’Satunya tinggi besar... seperti pemimpin...di mana itu...?’’

’’Iya aku tahu...tahu. Dan satunya kecil-kecil. Dagu panjang maju... seperti… pokoknya salah satu orang terkaya…haha...’’Plok plok plok plok...

Riuh sekali. Biarpun ramai pertandingan malam itu, ternyata yang lebih gaduh adalah pemilihan ketua RT. Pasalnya, tak satu warga pun bersedia dicalonkan menjadi ketua RT. Kalau tidak orangnya sendiri yang marah-marah dicalonkan, biasanya istrinya yang mencak-mencak.’’Ueeenak tenan bojoku mbok dadekno RT...Gak!!!...Gak!!!’’

Suasana ribut. Pidato Petruk dari kampung Kembang Sore lu mayan menyejukkan malam Jumat Wage itu.’’Sekarang terbukti kan,’’ ujar Petruk tenang.’’Mengapa kita semua tidak mau menjadi ketua RT. Karena jabatan ketua RT betul-betul jabatan pengabdian. Jabatan Kapolri bukan jabatan pengabdian. Menteri bukan. Presiden apalagi.Makanya semua orang berebutan.’’

’’Ibu-ibu, Bapak-bapak, dan Sedulur-sedulur semuanya...Saya mewakili kakak saya, Gareng, ingin mengatakan satu hal. Yuk, mulai sekarang, kita jangan percaya lagi kalau ada pejabat bilang bah wa mereka mengabdi. Jujur mereka akui saja bahwa mereka sedang bekerja. Cari uang. Sama dengan konco-konco ojek, sayur...semua bekerja untuk mencari uang. Sehingga...’’ Acara terhenti karena kedatangan Batari Durga.

***

Batari Durga di dalam wayang adalah malihan dari Dewi Uma, istri penguasa kahyangan Batara Guru. Ia adalah sang ibu Dewasrani. Desas-desusnya sih ibu sekaligus istri.

Tapi, di malam Jumat Wage, di kampung Bluluk Tibo, Betari Durga adalah julukan warga RT XIII terhadap istri Mas Cakrawangsa penggemar Ebiet. Nama aslinya tak ada yang tahu. Yang jelas perempuan ini nggak mau ada rame-rame yang bisa mengganggu tidurnya. Itu yang diketahui seluruh warga sampai burung-burung emprit di RT itu juga mahfum.

Batari Durga memprotes keramaian pemilihan ketua RT, termasuk pertandingan bola. Tak usah diceritakan di sini yok opo kelanjutan acara pemilihan ketua RT dan sepak bola Dursasana-Cakil yang berakhir 1-7. Yang jelas, pagi harinya, seluruh warga mendengar teriakan orang minta tolong.

Sebentar... seperti suara perempuan.’’Toloooooong....Toloooooong...’’

Usut punya usut ternyata teriakan itu berasal dari dalam rumah Batari Durga. Warga tergopoh-gopoh sudah berkerumun di depan rumah Batari Durga.

Pas mau masuk, ternyata di ruang tamu ada suaminya, Mas Cakrawangsa. Si Mas tak mendengar teriakan istrinya. Si Mas masih goyang-goyang manggutmanggut berirama mendengar musik via walkman.

Mungkin lagu Perjalanan Ebiet.’’Mas, Mas Perjalanan ini....

Maaf, istri Mas terkunci di kamar mandi...’ [sujiwotejo]