SEMAR MBABAR MANUK DADALI | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
SEMAR MBABAR MANUK DADALI Reviewed by maztrie on 6:30 AM Rating: 4,5

SEMAR MBABAR MANUK DADALI

Ooooo...

Surem-surem dwiwangkoro kingkin

Lir manguswo kang layoooon..

Matahari pucat pasi seperti mengendus bela sungkawa kematian di muka bumi.

Di dalam wayangan, tembang suluk itu disebut tlutur untuk melukis rasa sungkawa. Pas Dewi Sinta ditawan di Alengka, pas kangennya mencapai puncaknya kangennya pada suaminya Prabu Rama nun jauh di negeri Ayodya. Pas Kunti ditampik oleh anaknya Adipati Karno di tepi Kali Gangga. Kunti mengajak Karna bersatu dengan Pandawa. Karna berprinsip membela Tanah Air-nya, Astina, dan berperang melawan dinda para Pandawa. Dalang membuaibuaikan tlutur.
Suluk tlutur tidak dialunkan dengan gegap gempita. Tak seluruh perangkat gamelan bertalu. Vokal dalang yang sayup-sayup mengelus-elus duka cita itu cuma secara minimalis diiringi oleh instrumen gamelan gender, gambang, rebab, suling, dan gong.



Sedih. Nglangut. Getir.

Kemurungan itulah mungkin warna langit tengah malam di atas Karang Tumaritis, tempat Batara Ismaya meminjam raga Semar untuk berdenyut di muka bumi. Telah berkumpul anak-anak Semar di padepokan sederhana namun asri itu. Bayangan rembulan pada pohon-pohon sawo dan kecipir berhinggapan di tanah Karang Tumaritis. Sulung Gareng datang dari Dusun Bluluk Tibo. Petruk kepontal-pontal dari dukuhnya, Kembang Sore. Bungsu Bagong, dari kampung Pucang Sewu, sudah sejak senja Tumaritis nongkrong di situ.

Mungkin lantaran di mayapada banyak kerusuhan makin mengharu-biru. Tarakan. Ampera Raya. Penyerbuankantor-kantor polisi. Bentrok antar-agama. Dan lain-lain. Lalu pagi itu kereta api bertabrakan di Pemalang. Puluhan korban jatuh meninggal.

Masih patutkah melucu dalam situasi begini?

***

SEMAR MBABAR MANUK DADALI
Tak ada dagelan dari Gareng tengah malam itu. Tak ada kejenakaan dari Petruk pangkal dini hari itu. Di penghujung malam itu, Bagong pun tak mengeluarkan guyonan baik sengaja maupun tidak. Ketiganya muram merindukan kehadiran Semar yang telah moksa bersama kepergian Gus Dur. Mereka lantas seperti melihat Semar dalam busana serbaputih, bersinggasana di antara sawo jajar Karang Tumaritis. Suaranya parau. Batuknya berulang batuk. Pesannya:

Anak-anakku, Gareng, Petruk dan Bagong, eeeh aku merasa situasi seperti sekarang terjadi lantaran banyak kere munggah bale. Tak kurang-kurang anjing-anjing buduk naik ke peraduan manusia. Sebetulnya kere munggah bale itu tidak terjadi pada saat anakku, kowe, Petruk, jadi raja.

Mbegegek ugek-ugeg sadulito hemmel.. hemmel...

Sejatinya underaning lakon Petruk Dadi Ratu itu ya sedang hebat-hebatnya terjadi di alam demokrasi ini. Coba lihatlah dengan jatining pramono, di alam demokrasi inilah para kere benar-benar bisa munggah bale asalkan punya duit atau diduiti para cukong, agar terpilih sebagai pemimpin maupun wakil rakyat.

Ooo, Th ole, Nolo Gareng, Kantong Bolong, dan Bawor...

Kere tidak harus gembel dan gooombal amoh. Kere bisa berwujud orang kaya, orang lulusan universitas tapi mentalnya mental kere, yaitu manusia yang teleng batinnya cuma memikirkan diri sendiri atau keluarganya sendiri. Kalau dalam kepercayaan zaman mbah-mbahmu dulu, kere itu disebut sudra atau paria.

Nah, di alam demokrasi orang bermental kere, sudra atau paria bisa menjadi wakil rakyat maupun pemimpin karena demokrasi itu perkara benarnya orang banyak. Asal kamu punya duit dan sarana berkampanye dan membentuk citra diri, makin seabrek orang yang memilih kamu. Karena demokrasi memang soal benarnya orang banyak.

Ingat kan, thole, anak-anakku kabueeh? Kebenaran itu ada tiga. Benarnya sendiri. Benarnya orang banyak. Dan benar yang sejati.Contoh benarnya orang banyak, he he he, ketika kamu sebut air bening dengan air putih karena ba nyak orang wis kadung menyebutnya air putih. Mestinya air susu mbokmu itulah air putih. Tapi demi demokrasi maka kalian sebut juga air bening itu air putih.

Ini satu contoh lagi benarnya orang banyak. Uhuk uhuk uhuk..hmmm...bumi disebut datar. Sampai ada orang-orang khusus yang dikasih wangsit dan pengetahuan bilang eh enggak, bumi itu ternyata bulet. Misalnya Kanjeng Kiai Christophorus Columbus. Baru banyak orang ngeh, oh mbelgedes jebul bumi itu bundar to.

Dapatkah kamu bayangkan kalau keputusan bundar atau datarnya bumi diserahkan pada proses demokrasi, nyoh diblakrakno pada benarnya orang banyak?

***

Di antara bayang-bayang sawo yang berebahan di tanah Karang Tumaritis tengah malam itu panakawan Gareng, Petruk dan Bagong masih duduk mencangkung alias sendeku.Semar yang seolah-olah hadir meneruskan keluh-kesahnya, dengan batuknya, dengan dahaknya:

Hehehe... Kalian sekarang tidak lucu lagi. Mungkin uhuk uhuk...hmmm... Mungkin karena prihatin sampai ada orang suci bersamadi di tengah jalan tol, atau mungkin karena mantan Mentri Negara Manca keseleo lidahnya bilang ’’infl asi’’ jadi ’’oral sex’’...hehehe...uhuk... hooowek....hmmm...

Semua itu ndak lucu... Ndak... Ndak lucu...

Tapi maukah kalian aku kasih satu hal yang sebetulnya lucu? Yaitu, percaya kepada keris dianggap klenik, percaya kepada wangsit dianggap klenik, tapi percaya kepada demokrasi tidak dianggap takhayul. Bagaimana baik atau buruknya penyanyi ditentukan secara demokratis oleh banyak-banyaknya SMS yang masuk?

Apa tidak sebaiknya keputusan itu diambil melalui musyawarah-mufakat, seperti dalam sila keempat. Tetapi rembukan atau jagongan itu dipimpin atau dimoderatori oleh orangorang yang sudah teruji jiwa kebangsaannya atas dasar sila ketiga. Mereka adalah kaum ksatria. Kaum weisya yang cuma mementingkan kelompoknya, belum bisa. Apalagi gedibal kere-kere alias kaum sudra dan paria.

Jangan salah, thole, pada mulanya kasta-kasta bukan untuk membeda-bedakan kaya miskinnya manusia, tapi membeda-bedakan kesadaran mental dumadi.

***

Ponokawan Gareng, Petruk, dan Bagong yang tengah malam itu merasa tak patut lagi melucu dalam situasi sekarang, tetap sendeku mendengarkan Semar.’’ Lalu siapa tokoh-tokoh yang berjiwa kebangsaan, yang berhak memimpin buk-rembukan itu ta’ iye?’’ tanya Semar.Hmmm merekalah, jawab Semar, orang-orang yang punya kecintaan pada sesama manusia di seluruh muka bumi seperti sila kedua. Pembelaannya pada bangsa bukan karena ngrumangsani bangsanya paling unggul. Tidak. Pembelaannya kepada bangsa karena didorong oleh keinginannya mempertahankan keanekaragaman dunia, agar jangan semuanya jadi orang Amerika, agar jangan semuanya menganut agama yang sama.Lihatlah pekarangan Karang Tumaritis. Aneka ragam tanaman. Tumpang sari. Bukankah tumpang sari itu cara bijak pertanian dari leluhur?

Meski demikian, para pemimpin musyawarah mufakat itu bukan saja orang berjiwa kebangsaan atas dasar kemanusiaan. Mereka juga berketuhanan.Cintanya kepada manusia tinggi tapi lebih tinggi dibanding cintanya kepada Tuhan. Itulah inti sila pertama. Tirulah Ndaramu Prabu Yudistira. Dia punya harta. Tapi jika kebangsaan dan kemanusiaan memanggilnya, atas nama Gusti ia kasih harta benda itu. Bahkan darah-dagingnya sendiri beliau kasih untuk bangsa dan kemanusiaan. Jangan kamu mengaku punya Tuhan Yang Mahaesa, jika kamu lebih menuhankan harta dan tahta.

***

Bagong meski tetap tak melucu, pada akhirnya bertanya tentang sila kelima. Sebelum menjawab, Semar bernyanyi-nyanyi kecil Manuk Dadali dari tatar Sunda, yang berarti burung mirip garuda

Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang

Meberkeun janjangna bangun taya karingrang

Burung yang menjulang tinggi di dirgantara membuat semua manusia memandang kepakan sayapnya yang tiada tanding. Setelah nyanyian sunyi itu Semar melanjutkan jawabannya.

Sebetulnya sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia, itu tujuan. Eh, seluruh rakyat Indonesia. Kok jadi ikut-ikutlan keseleo kayak mantan Mentri Prancis dan Pak Taufi q Kiemas. Dasarnya adalah sila pertama sampai ketiga. Sila keempat adalah cara untuk mencapai itu.

Tapi aku sungguh tidak tahu... Bulan lalu Tanah Airmu ribut karena banyak orang digendam lalu dicopet, tapi tak banyak yang ribut bahwa dunia pendidikan sudah berpuluh- puluh tahun menggendam kita dan mencopet akal sehat kita sehingga percaya pada demokrasi.

Surem-surem dwiwangkoro kingkiiiiin...

Lir manguswo kang layooon...

Ooooo...