Si Buta dari Kerajaan Astinapura | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Si Buta dari Kerajaan Astinapura Reviewed by maztrie on 5:59 AM Rating: 4,5

Si Buta dari Kerajaan Astinapura

PONOKAWAN Gareng, Petruk dan Bagong akhirnya sepakat tidak ikut demo 20 Oktober. Si bungsu Bagong ngotot ikutan demo, daripada nganggur. Petruk antara iya dan tidak. Dia sudah males teriak-teriak di jalanan. Tapi dia kangen nang bekas pacarnya yang sekarang hidup di Timor Leste. Siapa tahu dengan ikut demo, wajahnya masuk koran atau televisi. Dengan begitu Siti Nurhaliza, matannya, bisa melihat wajah Petruk buat tombo ati dan tombo kangen.

Sulung ponokawan, Gareng, agak berbeda pendapat. ”Pertama-tama kita harus belajar etika ke Yunani,” katanya sambil bikin wayangwayangan dari rumput tetangga. ”Di Yunani kita belajar etika merokok, etika berbicara dan misuhmisuh.

Di Yunani kita juga belajar etika bengakbengok di jalanan...Nah, setelah itu, baru kita nanti bisa demo lagi...”
”Ooo Kang Gareng mau ikut-ikutan para wakil rakyat? Beliau-beliau belajar tata krama ke negeri para filsuf itu...terus kita mau ke sana juga Kang?”

”Lho, Truk, ikut siapapun kan boleh, Truk. Ikut bawahan juga ndak papa. Hidup kan nggak harus ngangsu tulodo dari atasan..”

”Sori maksudmu bawahan itu DPR?” celetuk Bagong yang masih menggebu-gebu ingin demo.

”Ya, betul, anggota DPR itu, Gong. Mereka kan wakil kita. Namanya wakil ya bawahan kita...

Daun-daun sawo gugur di halaman Karang Tumaritis tempat ponokawan bercengkerama. Gareng masih menganyam wayang-wayangan dari rumput tetangga. Angin ke utara, menyapu sawo, terus ke sawah, ke gunung-gunung. Petruk membantu Gareng merajut rumput tetangga.

Bagong masih asyik dengan radio kecil yang selalu dibawanya ke mana-mana. Penyanyi Ahmad Albar melantunkan Panggung Sandiwara dari radio usang itu:

...Kisah Mahabrata...atau tragedi dari Yunaniiiii...

”Tuh, dengar, Kang Gareng, ” sela Petruk, ”Ke India kita belajar Mahabarata. Ke Yunani belajar tragedi, bukan etika...”

”Ya, nggak papa juga, Truk. Sambil belajar etika, kita juga belajar tragedi...bersiap-siap tabah dan sabar jika tragedi tiba-tiba menyambar kita sebelum 2014...”


***
Si Buta dari Kerajaan Astinapura
Belum rampung wayang rumput yang dibikin Gareng dibantu Petruk, di halaman Karang Tumaritis, datang seorang pengembara. Seorang perempuan berperawakan mungil, rambutnya lurus dan ia cantik. Dia mengaku dari Malaysia.

Pergi ke Indonesia hanya karena alasan sederhana. Negerinya kena kemelut asap dari kebakaran hutan di Riau. Namanya Putri Sarinande.

”Nama kamu kok tidak mengandung Malaysia...?” ponokawan bertanya.

”Sebetulnya saya punya nama asli Malaysia,” jawabnya tidak dalam bahasa Melayu, tapi malah dalam bahasa Indonesia berlogat Jawa pula.

”Tapi saya tertarik pada lagu Sarinande...Sarinande..

Aduh papa..adulah mama...Lah asap api masuk di mata...Kebakaran hutan di negara tuan, sangat jembe’i, sangat nyebahi...Bikin kami ndak betah. Makanya saya pergi kemari. Terima kasih, kalian tadi sudah meminta saya mampir pas saya lewat...Terima kasih juga air putihnya...”

”Ancene ke mata sakit, asep itu, di Malaysia?”

”Oh, sakit sekali,” kata Putri Sarinande, ”Kita ngucek-ngucek mata terus. Tapi kan kami diajar untuk sabar yen kataman, tri legowo nelongso srah ing Batoro (sabar dan pasrah kepada Tuhan). Kami pergi dari Malaysia tidak dengan marah... tapi ya pengin melancong saja...”

Ponokawan kaget. Bukan saja pengembara dari negeri jiran ini tahu lagu Sarinande. Bahkan putri cantik ini juga mengetahui seluk-beluk kebudayaan Jawa. Cuplikan kata-kata Jawa tadi berasal dari tembang Macapat Pocung.

”Kenapa kalian terbengong-bengong. Saya kan masih beruntung, cuma sakit mata. Prabu Destarata, ayah kaum Kurawa, malah buta sama sekali... Iya kan? Iya kan? Iya kan, Mas Cakrawangsa?”

Ponokawan tambah kaget. Putri Sarinande bukan saja tahu tentang Prabu Destarata, anak Begawan Abiyasa yang menguasai Astina. Putri Sarinande bahkan tahu nama alias dari Gareng, Cakrawangsa. Ia pun tahu nama alias Petruk, yaitu Kantong Bolong dan Pentung Pinanggul. Bagong dipanggilnya pula dengan Bawor, salah satu nama aliasnya.

Belum komplit kebingungan itu mereka tunjukkan di bawah pohon sawo, angin dan siang hari, Putri Sarinande sudah berkisah tentang Prabu Destarata. Beginilah tutur Sang Putri Sarinande.

***

Mohon maaf Kang Gareng dan adik-adik semuanya. Saya tidak memakai versi India. Iyek Ahmad Albar toh juga tidak pernah meminta belajara Mahabarata dari India kan? Terserah dari mana saja, yang penting tetap Mahabarata. Hanya tragedi yang seyogyanya kita belajar dari Yunani.

Waktu itu, dulu sekali, Prabu Krisnadwipayana alias Abiyasa dari istri, Dewi Ambika, mempunyai putra sulung bernama Destarata. Dari istrinya yang lain, Dewi Ambalika, Abiyasa mempunyai anak bernama Pandudewanata. Karena Destarata itu tuna netra, maka tahta kepemimpinan Astina diwariskan oleh Abiyasa kepada Pandu yang matanya normal.

O ya, kenapa kok Destarata buta. Ceritanya begini: Abiyasa itu tidaklah tampan. Kulitnya hitam legam dan kasar. Maka setiap kali bersenggama dengan Abiyasa, Dewi Ambika selalu pejam matanya.

Petruk: Lho, bukannya semua perempuan kalau digituin ya pejam matanya...?

Gareng: Putri Sarinande, itu perlambang bahwa perempuan tak kuasa menggambarkan hmmm... betapa indahnya cinta...

Bagong: Alah Gombal. Itu karena perempuan sedang membayangkan cowok-cowoknya yang lain.... Kang Gareng, saya teruskan cerita saya...

Apapun alasan kalian tentang terpejamnya Dewi Ambika ketika Abiyasa melakukan ulah kridaning priyo wanodya apulang asmoro andon katrestan, ternyata terpejamnya Dewi Ambika karena gilo...karena enek melihat suaminya yang memang buruk rupa. Maka lahirlah bayi yang buta. Ya si Destarata itu.

Ketika dalam sayembara Kunti di kerajaan Mandura, Pandudewanata mendapatkan tiga putri, yaitu Kunti dari Mandura, Madrim dari Mandaraka dan Gendari dari Awu-awu Langit, pada saat itu Pandu yang berbudi baik meminta kakaknya, Destarata,

memilih salah satu untuk diperistri. Adik Gendari, Sengkuni alias Harya Suman tak ingin dipilih oleh Destarata yang buta. Lagi pula, yang menjadi raja Astina adalah Pandu. Sengkuni dan Gendari sendiri lebih menginginkan diperistri oleh Pandu. Maka Sengkuni meminta Gendari berlumur air rendaman ikan busuk, agar pas upacara pemilihan tak terpilih oleh si buta Destarata... Ooo...bumi gonjang ganjing...

Ternyata garis hidup tak bisa diubah. Pada saat upacara pemilihan itu mendadak roh Destarata disusupi oleh Taksaka, naga laut. Destarata yang buta ketika mengendus bau busuk Gendari justru makin bergairah...Dipilihlah Gendari sebagai istrinya....

***

Wayang yang dituturkan oleh Putri Sarinande terpenggal sampai di situ. Petruk dan Bagon berpendapat bahwa lebih untung Prabu Destarata buta. Dia tidak perlu bersedih melihat keindahan patung-patung di Nusantara tiba-tiba kini dipakaiin baju. Destarata tetap hanya bisa membayangkan keindahan itu, persis ketika dahulu para leluhur mungkin membuatnya tanpa maksud-maksud pornografis.

Gareng malah berpendapat lain. Seandainya orang-orang se-Nusantara buta seperti Destarata, mungkin malah tidak perlukan aksi pengenaan busana pada seluruh patung-patung itu.

Tanpa sadar ketika ketiganya sedang berbincangbincang, Putri Sarinande sudah pergi. Wayang rumput bikinan Gareng sudah rampung. Di luar dugaan ternyata bentuknya mirip Destarata yang buta, Raja Astina setelah Prabu Pandudewanata mangkat.

”Kok matanya melek?” tanya Bagong.

”Lho, Destarata itu pernah melek sekali dalam seumur hidup. Yaitu ketika melihat Kresna menjadi duta Pandawa sedang ngamuk bertiwikrama menjadi Raksana segunung gedenya.”

”Tapi kan Kresna triwikrama wayangnya ndak ada sekarang,” Bagong tetap ngeyel. ”Bener. Kita belum bikin wayang rumput tetangga Kresna triwikrama...”

Gareng: Mbok anggep demo di berbagai kota 20 Oktober itu bukan wujud lain dari Kresna

triwikrama? Yuk sekarang kita ke Yu Nani, jangan lupa mampir dulu ke Yu Paijem... [sujiwotejo]