Sumpah Soto Indonesia | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Sumpah Soto Indonesia Reviewed by maztrie on 6:03 AM Rating: 4,5

Sumpah Soto Indonesia

PADEPOKAN di perbatasan Amarta-Astina geger. Terutama jurusan ketabibannya. Cikal bakal universitas di berbagai belahan dunia itu ribut karena tiba-tiba ada pasien muncul punya daun telinga, punya gendang telinga, punya saraf.. wah pokoke punya segala uba rampe pendengaran, tetapi, weladalah, kok budeg? Padahal, belum pernah ada penelitian soal itu. Yang sudah-sudah, penelitian dilakukan terhadap orang-orang yang menderita gangguan pendengaran tetapi organ pendengarannya memang terganggu.

Obat-obatan termasuk alat sedot cairan telinga ditemukan dan dikembangkan dari penelitian itu.

Kasus ini lain dari biasanya.

Untung Bagong punya usul. ”Teliti saja para anggota DPR. Mereka telinganya normal. Tapi ndak punya pendengaran. Kurang bengak-bengok kayak apa lagi para kawula. Mbok di zaman prihatin begini jangan jalan-jalan dulu. Eh, masih saja ngotot plesiran ke Yunani, ke Itali..ke..ah ndak tahu ke mana lagi..”

Kakak Bagong, Petruk, bikin eling. ’’Nyebut Gong, tenang. Anggota Parlemen mlaku-mlaku itu ada undang-undangnya. Sah. Boleh. Kok cocotmu ribut ndak karu-karuan. Mereka boleh jalan-jalan ke mana saja yang mereka suka...” Sulung Panakawan, Gareng, menimpali, ”Lagi pula, kalau anggota Dewan cuma bisa mlakumlaku nang Tunjungan, apa bedanya mbarek Cak Mus Mulyadi?”

Sumpah Soto Indonesia
Petruk dan Gareng akhirnya kepukul telak ketika si bungsu Bagong bawa-bawa Romo Semar. Kata Semar, bener belum tentu pener. ”Bapak-bapak dan ibu-ibu karo mbak-mbak DPR itu benar, tapi tidak pener. Pener itu masalah empan papan. Masalah situasional...”

”Ck ck ck.. Bahasamu Gong...Apa karena ini bulan Sumpah Pemuda, bulan Bahasa..?”

”Sstt diem dulu. Situasinya lagi tidak memungkinkan.

Lagi ada Bencana Merapi. Bencana Mentawai... kok mereka maksa berangkat. Nuwun sewu seandainya anggota DPR itu wedhus, pasti membatalkan diri berangkat karena segimbal-gimbalnya wedhus pasti masih punya perasaan..!”

Sebet byar kataliko...

Karena Bagong sudah terlalu emosional, Gareng dan Petruk sepakat menghentikan obrolan. ”Meski tidak mendengar, telinga anggota DPR toh masih ada gunanya, yaitu untuk cantolan kaca mata,” kata Petruk. Mereka lalu ajak-ajak Ba gong jalan-jalan ke sawah di belakang posko ponokawan, Karang Kadempel. Mata Bagong diarahkan ke langit, ke layang-layang, ke mega dan awan-awan...

***

Omongan Bagong siang itu tidak sia-sia. Padepokan akhirnya meneliti struktur telinga para anggota dewan. Kesimpulan mereka, untuk bisa mendengar, manusia tak cuma memerlukan organ telinga. Lebih dari sekadar itu, manusia butuh memiliki hati nurani.

Eling pasien yang dulu datang menderita gangguan pendengaran padahal telinganya normal?

Akhirnya sekarang sudah bisa disembuhkan. Mereka diminta pergi ke para pemuka agama atau kepercayaan. Dan mereka diminta sering-sering bergaul dengan orang-orang yang sering lapar dan menangis di sudut-sudut pasar maupun alun-laun.

Tak kurang-kurang Bagong menerima ucapan terima kasih dari orang-orang yang sebelumnya ”punya telinga tapi budeg”. Bentuknya muuacem-macem mulai dari beras, pisang, kelapa sampai ternak seperti sapi. Lebih-lebih tempat Bagong, dusun Pucang Sewu, sedang dilanda banjir bandang.

”Kamu kena karma Gong,” kata Gareng dan Petruk yang bertandang ke Pucang Sewu. Dusun

Gareng, Bluluk Tibo, dan dusun Petruk, Kembang

Sore, ndilalah luput dari banjir bandang. Bagong

terheran-heran, karma yang mana?

”Dulu kamu sudah bagus-bagus punya usulan meneliti wakil-wakil rakyat yang bertelinga tetapi tak berpendengaran. Tetapi kamu keliru menyebut peristiwa Merapi dan Mentawai itu bencana alam. Kamu sudah kurang ajar pada alam...” Gareng mulai mewejang.

”Alam tidak pernah bermaksud buruk pada manusia...Yang menganggap itu bencana ya manusia sendiri...”

”Lha, terus, aku harus menyebut apa...”

”Sak karep-karepmu Gong,” Petruk nyamber,

”Sing penting ojok nyebut bencana alam. Ndak ilok. Kurang ajar pada alam...”

”Tapi kan semua orang, sarjana-sarjana, sampai penyiar-penyiar televisi nyebutnya bencana alam...” Bagong kembali ngotot.

Gareng: Lho, kalau semua orang njegur sumur, apa kamu juga ikut njegur sumur? Waktu siang itu kamu nyebut bencana alam, sebenarnya atiku sudah mak tratap. Tapi aku dan Petruk diem saja karena Sabtu Pon itu emosimu sedang umup. Kamu agak nganeh-nganehi, biasanya kamu malah paling punya pendirian di antara kami bertiga... sekarang kok malah ikut-ikutan salah kaprah nyebut kejadian Merapi itu bencana...wah wah wah...

Petruk: Jadi, Gong, mbalik lagi, sak karep-karepmu kamu mau menyebut apa...yang penting jangan kurang ajar pada alam. Tetanggaku ada yang usul ”bencana alam” diganti ”peristiwa alam”, ”ekspresi alam”...ada yang usul ”Sabda Alam”.

Hmmm....

Para pembaca Wayang Durangpo, jika berkenan memperhatikan obrolan ponokawan, berarti kita perlu mempertimbangkan lagi nama resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Termasuk kita juga perlu nimbang-nimbang lagi nama instansi yang dipimpin oleh Dr Surono, yaitu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi... Itulah etika dari leluhur. Belajar etika tidak usah jauhjauh sampai ke Yunani. Contoh, masyarakat pulau

Simuelue di kawasan Aceh tidak menyebut tsunami sebagai bencana. Mereka menyebut Smonk (tsunami) adalah kolam mandiku, gempa adalah ayun-ayunanku, halilintar adalah cahaya hidupku...Ingatlah, pas tsunami Aceh beberapa tahun lalu, ketika ratusan ribu manusia meninggal, pulau itu hanya kehilangan 7 sampai 8 nyawa saja...Mereka bersatu dengan Sabda Alam, hidup menyesuaikan diri dengan Sabda Alam… tak pernah menghina apalagi mencerca alam...

***

Pertemuan kecil ponokawan bertiga itu akhirnya berlanjut menjadi pertemuan yang agak besar sekaligus memperingati hari Sumpah Pemuda. Sebagian besar masyarakat yang tak setuju mengutakatik nama atau istilah, akhirnya setuju.

”Mau namanya Badan Nasional Penanggulangan Bencana, mau diganti Badan Nasional Harmonisasi Sabda Alam...aduuh apa bedanya… Apalah arti sebuah nama kata Kiai Shakespeare.. Iya kan?” begitu biasanya rata-rata respons pertama masyarakat.

Bagong yang kini berbalik justru aktif berkampanye pentingnya mengutak-atik lagi bahasa, di bulan Sumpah Pemuda, di bulan Bahasa. ”Kalau memang nama tidak penting...namakan saja anakmu dengan comberan, wedhus, coro...”

Weladalah...!

Satu dua orang yang semula merasa tak perlu mementingkan nama akhirnya tersentak sadar. Mereka diikuti oleh yang lain-lain, sampai terjadilah pertemuan itu di Karang Kadempel. Hadirin datang dari dusun Blukuk Tibo, Kembang Sore dan Pucang Sewu.

Akhirnya yang mereka bahas bukan cuma kata ”bencana”. Kata ”Pemerintah” juga mereka perbincangkan. Menurut Limbuk dan Cangik, ponokawan perempuan, ”pemerintah” berarti ”tukang perintah”. Ini bertentangan dengan semangat hidup gotong royong dan kekeluargaan. ”Pemerintah” lebih dekat ke pengertian ”Pangreh Praja”.

”Diganti Pengurus saja!” kata seseorang.

”Jangan,” seru yang lain. ”Pengurus itu tukang bikin kurus. Nanti rakyat malah dibikin jadi kurus-kurus...”

”Setujuuuuu....Pesta demokrasi juga jangan disingkat Pemilu... Cari singkatan yang lain. Pemilu berarti tukang bikin pilu rakyat...”

Akhirnya, setengah disepakati dalam anjangsana yang belum rampung itu, ”Pemerintah” diganti kata-kata yang lebih dekat dengan ”Pamong Praja”.

Ada usulan, bagaimana kalau ”Pengayom”?

Break...Break...

Sarasehan Sumpah Pemuda rehat sebentar, diisi dengan makan soto. Kebetulan warga sekitar Karang Kadempel adalah warga yang bineka. Mereka membawa aneka jenis soto, sejak soto Madura, Ambengan, Lamongan, Kudus, Tegal, Ban dung, Betawi, Padang sampai coto Makassar.

Menjelang sarasehan babak II, Bagong punya ide dari rehat tadi, bagaimana kalau sarasehan diawali dengan Sumpah Soto Indonesia. Usulan diterima. Semua hadirin berdiri dan memekik, mengikuti kata-kata Bagong.

”Sumpah Soto Indonesia: Kami soto-soto dari berbagai daerah dan pelosok, berbahasa satu, soto Indonesia. Penggemar soto Padang tidak pernah menghina penggemar soto Banjar. Begitu juga yang lain-lain. Orang Madura boleh pindah keyakinan jadi menggemari soto Betawi dan sebaliknya. Tidak ada orang tua yang tak merestui pernikahan anaknya karena berbeda selera soto. Tidak ada front pembela soto ini dan front pembela soto itu. Bagimu sotomu. Bagiku sotoku.”

Plok...plok..plok...

Terdengar teriakan dari yang telat-telat datang: Soto koya Probolinggo juga....Pak Bagong...hadir Soto ceker Klaten...hooiiii Soto sawaaaaah...Soto Nggadiiiiing ojo lali...Soto Gubeng Pojooook... Soto Karangasem Baliiii...Soto Sokarajaaaa.... euy...dan seterusnya.... [sujiwotejo]