Tumpeng Tak Bernasi di Sumur Jalatunda | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Tumpeng Tak Bernasi di Sumur Jalatunda Reviewed by maztrie on 6:18 PM Rating: 4,5

Tumpeng Tak Bernasi di Sumur Jalatunda

lir-ilir, ilir-ilir

Tandure wus sumilir

Kang ijo royo-royo

Ta’ sengguh penganten anyar

Cah angon, cah angon

Pene’no blimbing kuwi

Lunyu-lunyu pene’no

Kanggo masuh dodotiro

Dodotiro, dodotiro

Kumitir bedah ing pinggir

Domono dlumatono

Kanggo sebo mengko sore

Mumpung padang rembulane

Mumpung jembar kalangane...

Yo surako, surak, horeee...

***

Tembang Ilir-ilir itu ngawali ular-ular atau sambutan ponokawan Petruk dalam kenduri di kampungnya, Kembang Sore. Tembang yang ringkas dan sangat dikenal masyarakat penggemar wayang. Penggubahnya tak jelas, entah Sunan Kalijaga. Entah Sunan Bonang, gurunya. Yang sudah pasti bukan karya Pak Haji Rhoma Irama sebagai sesama penyebar Islam. Apakah tafsir tembang yang singkat dan bersahaja itu?

Ilir-ilir tandure wus sumilir...O, betapa membangkitkannya suasana kelahiran. Penuh semangat seperti gairah pohon dan perdu kehijauan yang meriap-riap disapu angin pagi hari. Itulah pula degup jantung, desir darah, dan denyar nadi tatkala titah sedang menapaki birahi pengantin baru. Bocah angon, bocah angon...Wahai khafilah, wahai penggembala, panjatkan doa, panjatlah belimbing itu...Belimbing bersegi lima. Selicinlicin apa pun pohon itu ayo panjatlah hitunghitung sambil membilas kain-kainmu... pakaianmu...

Dodotiro, dodotiro kumitir bedah ing pinggir... Aaah, kini lihatlah kainmu sobek berkibar-kibar menjadi perca. Lekas jahitlah. Tisiklah. Tak jadi soal nanti akan kembali koyak, robek kembali. Itulah hayat. Ibarat orang mandi, sudah tahu akan kotor, masih mandi pula, berdebu lagi, mandi kembali, gupak pulutnya hidup keseharian, sucikan lagi...untuk penghadapan di nanti senja.

Mumpung padang rembulane... Mumpung waktu masih tersedia. Mumpung masih ada ruang. Sebelum detik-detik tiba menjelang engkau disembahyangkan. Sulung ponokawan, Gareng, dan si bungsu Bagong saling melirik, menduga-duga ke mana kira-kira arah sambutan Petruk dengan pembukaan tembang Ilir-ilir.



***
Dalam kenduri petang itu, di kampung Kembang Sore, hadirin duduk bersila di atas tikar pandan, mengepung lauk-pauk tumpeng, potongan ayam, urap-urap, gereh, sambel goreng tempe-kentang, perkedel, sayatan telur dadar dan sebagainya, kecuali nasi. Ya, nasi tumpengnya tanpa nasi! Maklum kenduri untuk selamatan kampung itu diselenggarakan pas Gerakan Nasional Sehari Tanpa Nasi.

Tumpeng Tak Bernasi di Sumur Jalatunda
Hadirin celingukan satu sama lain sembari garukgaruk kepala. Seolah-olah warga Kembang Sore bertanya, ’’Kok ndak ada nasi, ya?’’ Dalam situasi itulah Petruk melanjutkan sambutannya. ’’Saya akan bercerita tentang lakon Bima Suci,’’ kata Petruk. Bagong di sebelahnya menjawil, ’’Lakon itu sudah pernah, Truk,’’ katanya, ’’Pas kenduren tujuh belasan. Itu kan pas Ndoro Bima njegur laut selatan ketemu Nyi Roro Kidul...’’ ’’Ngawur kamu, Gong,’’ sela Gareng. ’’Itu lakon Dewa Ruci. Ketemunya juga bukan dengan Kanjeng Ratu. Tapi dengan Dayang Sumbi. Nek lakon Bima Suci belum. Sudah, Truk, sana lanjutkan...’’

Petruk: Baiklah, ehm..ehm..ehm... saya lanjutkan... Sedulur-sedulur semua sesama warga Kembang Sore, termasuk sedulur papat limo pancer...

’’Apaan tuh Om? Saik (asyik) nggak?’’ teriak pemuda punk di sudut, mewakili bapaknya yang tak bisa hadir karena sudah 40 hari geringgingen. Petruk tersinggung. Masa’ sedulur papat limo pancer saja ndak ngeh. Kalau dibesar-besarkan, biasanya setelah tersinggung wayang akan marah. Setelah marah, benci. Setelah benci, dendam. Setelah dendam, menghancurkan, embuh menghancurkan musuhnya embuh menghancurkan diri sendiri.

Hadirin hening. Sedikit tegang. Untung sebelum menginjak tahap marah, Gareng cepet-cepet menepuk-nepuk pundak Petruk. Ia bisik-bisik, ’’Wis to Truk, nama aliasmu itu Kantong Bolong, artinya apa saja yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Jawab saja anaknya Pak Durmolegowo itu. Anak punk kan juga berhak tidak tahu sedulur papat limo pancer. Ke kuda saja kita harus menghargai. Apalagi ke manusia yang cuma’ rambutnya saja seperti kuda… Petruk: Baiklah, ehm, ehm...sedulur papat limo pancer itu adalah hati nurani, kakang kawah, adi ari-ari, darah, dan puser. Ooo...gitu...

Setelah menjelaskan itu Petruk mengembuskan napas rileks. Tapi, yang bikin kaget semua hadirin, tiba-tiba Petruk berdiri seperti Thukul Arwana, matanya mendelik ke pemuda punk itu sambil menghardik: Puas!? Puas!? Puas!?

Anak muda punk itu gumregah berdiri. Petruk menghambur akan menjotosnya sampai-sampai langkah kakinya hampir memorat-maritkan tumpeng (tak bernasi). Bagong malah senang dapat hiburan gratis. Untung seluruh hadirin kenduri, terutama Gareng, melerai benih huruhara

itu, di suatu petang, di Kembang Sore.

Setelah beberapa saat hening, lipatan dan tekuktekuk tikar kenduri pun telah dirapikan, Petruk melanjutkan dongengnya tentang Bima Suci.

***

’’Kocap kacarita...Dalam lakon Bima Suci tersebutlah negara sedang geger. Bagaimana mereka tak geger,

wong masyarakat mendengar makanan-makanan instan dikabarkan mengandung zat berbahaya, wong masyarakat melihat presiden langsung turun tangan sendiri membantu sampai tuntas evakuasi korban banjir bandang di Wasior, wong...’’

’’Eh, Om, Om Petruk..,’’ timpal pemuda punk rileks. Marahnya ke Petruk juga mulai reda. ’’Itu di Cile, Om. Bukan di Wasior, Papua. Nama presidennya Sebastian Pinera. Yang ditolong bukan korban banjir bandang, tapi penambang emas dan tembaga. Mereka tuh tertimbun sampai kedalaman ratusan meter...Lagian Bima Suci tidak bikin geger recot Indonesia... Yang dibikin geger adalah negara-negara Amerta, Astina, dan lain-lain...’’

’’Lho, Le, kamu ternyata tahu juga lakon Bima Suci...’’

’’Ya tahulah Om, kan bisa googling di internet... Nyuwun pirso Mbah Google, Mbok Wikipedia, dan lain-lain...Memangnya semua anak muda kalau di warnet nggoleki situs porno? Jangan netink (negative thinking) ke kami anak-anak punk ya...’’

Di luar dugaan sidang kenduri dan Gareng, Petruk ternyata tidak tersinggung. Semua senang kecuali Bagong yang gagal melihat hiburan gratis, orang berkelahi. Petruk malah terkekeh-kekeh sambil menyilakan anak muda punk itu bercerita tentang Bima Suci. ’’Siapa tahu kalo meninggal nanti namamu dijadikan nama jalan, seperti dalang suwargi Ki Hadi Sugito. Asmanya baru saja diresmikan sebagai nama jalan di Kulonprogo,’’ kata Petruk sumringah.

Sebelum memulai kisahnya, anak muda itu pun sedikit nglunjak pada tuan rumah, mempersilakan hadirin memakan tumpeng (tak bernasi) sambil mendengarkan kisah wayangnya. Itu pun tak membuat Petruk tersinggung. Ia malah leyeh-leyeh ke punggung adiknya, Bagong.

***

Di suatu kawasan yang ada sumur tuanya, di sebut Sumur Jalatunda, bersemayam seorang pandita mirip Bima. Berpeparap Bima Suci. Kerajaan Amerta, Dwarawati dan sebagainya pusing karena manusia yang menjadi umatnya makin hari makin berjubel. Kerajaan Astina pusingnya malah dobeldobel. Pertama, rakyatnya makin banyak yang ngangsu kawruh kepada Pandita Bima Suci. Kedua, pandita tinggi besar itu tak meminta izin tempat padahal pihak Kurawa mengklaim Sumur Jalatunda berada di teritorial mereka.

Tapi Pandita Bima Suci merasa bumi Jalatunda adalah kawasan tak bertuan. Dan Kurawa pontangpanting dalam pertempuran perebutan wilayah hanya dengan ’’hmm...’’, hanya dengan nggerengnya Bima Suci, tanpa bantuan seorang pun dari jutaan umat yang menjadi saksi di Jalatunda.

Terakhir datanglah titisan Wisnu, Prabu Sri Batara Kresna dari Kerajaan Dwarawati. Begitu datang, seperti adatnya kalau berjumpa Bima lelaki tegap dari ksatrian Jodipati, Kresna langsung ngrangkul-ngrangkul sembari cekikikan dan berujar, ’’Adiku Diiii...Adiku...Wong Jarot..Wong Jenthot ... Wong asigit...’’

Sosok yang dirangul-rangkul tetap mematung, lama-lama Kresna menerawang kanthi wiyar

keblating paningal datan kasangsoyo sipating pandulu bahwa Bima Suci di hadapannya hanya kasat mata saja raga Bima, sang adik di Pandawa, tapi isinya sudah kuyup dengan ’’Roh Ketuhanan’’. Mak jleg, Kresna langsung sembah sujud di kaki Bima Suci dan memohon wejangan.

Sang Begawan beneran memulai wejangannya dengan menyampaikan lebih dahulu perihal inti. Bahwa semua agama baik, termasuk kepercayaan, sepanjang tidak merusak liyan. Manusia tidak diukur dari agama maupun kepercayaannya, tapi dari sejauh mana ia bermanfaat bagi sesama. Segi lima belimbing tak cuma bisa ditafsirkan sebagai rukun tertentu dari suatu agama. Ia bahkan bisa ditafsirkan sebagai pancaindra maupun wahyu Pancasila.

Lantas Resi Bima Suci mulai akan ngonceki, akan menguraikan satu per satu inti yang telah dikemukakan. Bahwa sembah itu berjenis-jenis. Bahwa sembah terbagi ke dalam...

***

Belum selesai pemuda punk mengisahkan Bima Suci, terdengar duyunan manusia berteriak-teriak memasuki kampung Kembang Sore. Pekik dan yel-yel mereka terdengar meminta agar ceramah soal wayang dihentikan. Mereka menuduh wayang bisa mengacaukan iman. Kenduri ya kenduri saja.Ndak usah pakai wayang-wayangan.

Hadirin menyangka bahwa mereka pastilah para pemuda punk yang kurang kerjaan. Ternyata meleset. Setelah makin dekat, tampak mereka mengacung-acungkan golok, kayu, dan lain-lain, tapi mereka bukan punk.

Sidang kenduri bubar mawut. Ada yang masih sempat-sempatnya membungkus makanan sebagai berkat buat keluarga.

Malang tak dapat ditolak. Di Kembang Sore ada perempuan- perempuan maniak nasi. Istri itu sontak naik pitam karena suaminya pulang membawa cuma bungkusan aneka lauk-pauk tanpa sebutir nasi pun.

’’Pasti kamu tadi mampir-mampir ya. Nasinya kamu kasih ke simpenanmu. Aku cuma keduman lauknya...Orang lain sekali merdeka tetap merdeka, kamu sekali buaya tetap buajul, ayo ngaku!!!’’ [sujiwotejo]