DEWA RUCI | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
DEWA RUCI Reviewed by maztrie on 5:41 AM Rating: 4,5

DEWA RUCI

ORANG semakin banyak tak percaya pada KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi. Paling puoooolll ndak percaya ya ke polisi dan kejaksaan. Nah, kira-kira seperti itulah kawula Kurawa dan Pandawa tidak mempercayai Dorna.

Mahaguru para keturunan darah Bharata ini dianggap licik. Ia mengajar Yudistira dan adikadiknya, serta Duryudana dan segenap adikadiknya punya pamrih pribadi. Yaitu, membalaskan dendam sang guru pada Prabu Drupada, raja Pancala, ayahanda Srikandi.

Kisah kesumat itu begini. . . . .

Dulu waktu Dorna masih muda, masih bernama Bambang Kumbayana, ia bertualang datang dari negeri atas angin ke Nuswantara. Waktu itu sang perjaka menemui Kawan seperguruannya yang telah menjadi raja di Pancala bernama Drupada.

Karena merasa bekas temen seperguruan yang pernah selapik-seketiduran sesama murid Resi Baratwaja, tata cara protokoler keraton tak diindahkan oleh Bambang Kumbayana. Langsung saja ia naik tangga istana dan meluk-meluk Sucitra.

Sucitra sebenarnya juga kangen berat pada saudara seperguruan yang pernah senasib senanggungan itu. Hulu balang kerajaan tampak geram. Sang Prabu memberi aba-aba mereka agar tamu ini diberi perlakuan khusus. Baru saja Prabu Sucitra alias Drupada akan membalas Rangkulan Kumbayana ...wah...bumi gonjang ganjing...patih Kerajaan Drupada, Raden Gandamana, sudah turun tangan.

Kuduk Kumbayana dicengkiwing Gandamana. Pemilik aji pamungkas Blabak Pangantolan dan Bandung Bondowoso itu menggelandang Durna Ke alun-alun. Hajar bleh hajar bleh...Akibatnya Bambang Kumbayana yang semula tampan dan gagah menjadi remuk penuh cacat persis Durna yang ada sekarang.

Sambil merayap-rayap meninggalkan Pancala, Bambang Kumbayana sesumbar bahwa kelak akan membalaskan dendam ini pada pucuk pempimpin Pancala...

Maka ketika kakek Pandawa-Kurawa, Resi Bisma mengangkat Durna sebagai guru cucu-cucunya, semangatlah Durna. Durna sekelabat bisa melihat potensi Bima dan Arjuna. Wah, pikirnya, inilah kesempatan untuk mendidik mereka agar nanti bisa melampiaskan dendamnya pada orangorang Pancala.

Itulah akal bulus Dorna...Pandita dari Sokalima...

Tak heran masyarakat sudah tak percaya lagi kepada Durna, sama persis dengan mereka sudah tak percaya lagi pada KPK, polisi dan kejaksaan...


***
DEWA RUCI
Bukan cuma kawula yang heran melihat muridmurid Durna terutama Pandawa masih saja berbakti pada sang guru. Ponokawan Gareng, Petruk Bagong termasuk yang selalu kaget-kaget. Baru saja Durna menyuruh Bima mencari Kayu Gung Susuhing Angin (Kayu Gede Sarangnya Angin). Bima mau-mau saja. Mana ada angin punya sarang seperti burung?

Waduh. Blaen. Menurut Durna, sarang angin itu adanya di Gunung Wreksamuka. Waduh gawat. Dunung Wreksamuka alias Candramuka ini angkernya kaliwat-liwat.

Padahal Pononakawan baru dapat bocoran dari Limbuk dan Cangik (ponokawan perempuan) bahwa itu akal-akalan Durna untuk membunuh Bima. Durna harus membunuh Bima atas permintaan Kurawa. Raja Duryudana ingin kekuatan Pandawa dihilangkan satu agar kelak gampang menumpasnya dalam Perang Bharatayuda.

Ponokawan kepontal-pontal mengikuti Bima meski cuma boleh sampai lereng gunung. Benarlah, sampai di pucuk gunung penuh hantu itu, Bima bertemu dengan raksasa kakak-beradik Rukmuka dan Rukmakala. Untungnya dalam pertempuran itu Bima menang. Kedua raksasa itu berubah wujud menjadi Batara Indra dan Batara Bayu.

Bima malah dikasih cincin pusaka. Rambut Bima yang terurai pun digelung oleh kedua dewa itu. Keduanya menamakan Gelung Minangkara.

Ponokawan lagi-lagi terbengong-bengong melihat Bima masih hidup dan turun gunung. Yang paling kaget adalah para Kurawa. Mereka memastikan Bima sudah sirna karena tak akan ada manusia yang sanggup melawan raksasa kembar penunggu gunung. Ganti para Kurawa sekarang yang marah-marah pada Durna. Mereka mengganggap Durna penipu.

”Kalau begitu benar kata rakyat, bahwa Bapa Durna adalah guru majenun...!!!” kata Duryudana sambil mengepal-ngepalkan tangannya...

”Sabar, anak Mas Duryudana. Mungkin kedua raksasa di Gunung Wreksamuka itu masih kalah sakti dibanding Bima. Sekarang Bima akan saya suruh mencebur laut selatan...Mustahil Bima bisa kembali lagi ke Nusantara...”

Duryudana langsung memeluk Durna.

***

”Haaaaa....Hmmm....Guru Durna. Aku tidak mendapat Kayu Gung Susuhing Angin, tapi ini... lihat...cincin. Dan ini ...lihat...sekarang rambutku sudah digelung...” kata Bima ketika menghadap Durna di Padepokan Sokalima.

”Oalah wale gembor monyor-monyor..emprit gantil buntute omah joglo...Ya sudah syukur kalau gitu, Bima, aku ikut seneng..Sorganya guru itu kalau muridnya mendapat anugerah.. hehehe...”

”Hmmmm....”

”Ada apa lagi, Bima, wong bagus, muridku wong asigit?”

”Tahukah kamu khasiat kalpika di jariku ini...dan tahukah kamu maksud gelunganku ini?”

Weladalah. Durna mendadak marah. ”Kamu pikir aku orang goblok, Bima!!! Aku tahu khasiat cincinmu itu bisa membuatmu tak tenggelam jika kamu berjalan di atas air!!! Aku tahu nama gelunganmu itu Gelung Minangkara!!!Sangat rendah di depan, tapi sangat tinggi di belakang. Artinya Bima adalah orang yang mestinya menempatkan kebodohannya di depan. Kepinterannya disembunyikan di belakang. Yang kamu pamer-pamerkan adalah kebodohanmu. Bener apa nggak!!!? Dan yang ngasih cincin kamu, yang nggelung rambutmu itu Batara Indra dan Batara Bayu...bener apa ndak!!!?”

”Hmmmmm....Aku minta maaf...” Bima hanya bisa nggereng..

”Sekarang, Bima, karena kamu sudah tidak percaya aku lagi..kamu sudah meragukan kemampuanku...pakai ngetes ini itu...aku hukum kamu...segera nyeburlah ke laut selatan!!! Baru setelah itu aku maafkan kamu!!!”

Ponokawan yang menguping pembicaraan itu langsung berlari ke markas Pandawa. Kunti, ibu Pandawa, langsung pingsan mendengarnya. Siuman dari pingsannya perempuan perkasa yang bernama alias Prita itu langsung tergopohgopoh menemui Bima.

”Kamu jangan percaya Durna, Bima...Anakku... Kamu jangan termakan Durna...Durna itu tukang tipu...Durna itu njlomprongke...Mana ada guru ngasih PR murid njegur segoro kidul...”

”Haaaa....Kanjeng Ibu Prita..Biarlah orang-orang bicara apa pun tentang guruku. Kalau memang benar Guru Durna menipu aku, biar dia sendiri kelak yang akan menerima karmanya...”

”Tapi kamu akan mati, ngger, anakku, Bima,” tangis Kunti mulai pecah.

”Haaaa....bukannya aku tak menghormati ibu... Tapi ingatkah ibu akan pesan-pesanmu sendiri tentang bagaimana seyogianya berguru...?”

”Ya..Bima...Waktu itu aku wanti-wanti, kalian harus percaya, harus yakin total kepada guru...”

Bima langsung bablas. Ponokawan Gareng, Petruk Bagong terjengkang karena tak sengaja kena langkah kaki Bima ke laut selatan. Kunti kembali pingsan.

***

Cincin khasiat tak bisa dipakai oleh Bima. Perintah Durna adalah mencebur samudera. Bukan melenggang berjalan di atas samudera. Di dasar samudera, Bima dihadang oleh naga raksasa. Hampir saja Bima mati. Untung tak sengaja Kuku Pancanaka-nya mengenai moncong naga. Seketika Naga sirna berdarah-darah menjelma Dewa Ruci.

Ruci mewejang Bima bahwa korupsi di negaranya tak akan bisa diselesaikan cuma dengan mengganti ketua KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian.

”Korupsi bangsamu akan tetap ada selama masyarakat sudah tidak punya gairah untuk hidup bersama. Hidup bersama sudah tidak dianggap penting ketika masyarakat tak punya tujuan hidup bersama. Ketika tujuan hidup bersama sudah tidak ada, buat apa orang memikirkan orang lain? Lebih baik memikirkan keluarganya maupun kelompoknya sendiri.”

***

Lakon Dewa Ruci cukup sak gitu dulu, karena jatah waktu dari panitia juga pas-pasan. Panitia, yaitu Pak Gareng, Petruk Bagong juga agak keberatan omongan Dewa Ruci kok mulai ngaco. Kita masih harus berbagi waktu dengan yang lain-lain. Termasuk ceramah tentang ”orang bijak, taat pajak” oleh Bapak Gayus Sudarsono...

Begitulah monolog Dewa Ruci oleh Pak Gentolet dalam acara Hari Guru di depan para pemuda sekecamatan. Pak Gentolet menekankan pentingnya tujuan bersama, karena di awal bermonolog ia kaget. Ia bertanya ke anak-anak muda apa tujuan hidup mereka.

Jawabnya: Kenapa kami hidup harus punya tujuan? Wong negara saja ndak punya tujuan kok? Apalagi kami-kami... [sujiwotejo]