MEMASUKI MILENIUM SENGKUNI | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
MEMASUKI MILENIUM SENGKUNI Reviewed by maztrie on 5:45 AM Rating: 4,5

MEMASUKI MILENIUM SENGKUNI

SATU-satunya harta yang diwarisi Limbuk adalah wayang kulit tokoh Sengkuni. Wayang itu tak dijualnya. Setahun-dua-tahun setelah bapaknya meninggal, beruntung Limbuk masih punya pekerjaan. Wayang Sengkuni masih tak perlu dilegonya. Perempuan gembrot itu masih bekerja sebagai abdi dalem di NKRA, Negara Kerajaan Republik Astina.

Upahnya cukup untuk hidup sehari-hari meski pas-pasan. Bahkan sekali-dua-kali beli pulsa per bulan.

Tapi kemudian NKRA yang semula gemah, ripah loh jinawi, akhirnya memasuki masa sandyakala. Negara tempat Limbuk menghabiskan hari-harinya semula gemah, banyak para pedagang hilir-mudik menjajakan jualan. Ripah, duyunan orang mancanegara berdatangan untuk mengadu nasib dan menuntut ilmu. Loh, segala yang tertanam tumbuh subur. Jinawi, seluruh yang dijajakan terjangkau harganya oleh masyarakat.

Keadaannya kini jauh bumi dari langit......



Sekarang malah banyak teman-teman Limbuk yang berangkat ke negeri njaban rangkah untuk menjadi TKA, Tenaga Kerja Astina. Teman Limbuk sesama SD malah pernah pulang kampung sebentar, baliknya ke luar negeri membawa teman-temannya yang lain. Semakin kesepianlah Limbuk. Sehari-hari hanya ditemani oleh guguran bunga kamboja di rumah kontrakannya, serta kicau burung betet dari tetangga.

Hari ini sedikit tabungan sisa kerjanya sudah ludes. Limbuk terantuk pandang pada wayang Sengkuni di dinding kamarnya. ”Kok nggak ini saja yang saya jual ya,” Limbuk pikir-pikir.


***
MEMASUKI MILENIUM SENGKUNI
Semua pasar sepi. Satu-satunya pasar yang lumayan ramai adalah pasar kaget di alun-alun. Pengunjungnya wisatawan-wisatawan asing yang sudah bosan dengan keindahan. Mereka lebih senang mengunjungi negara-negara kumuh. Wisatawan jenis ini senang sekali blusak-blusuk permukiman padat dekat rel kereta api, merundukrunduk di antara jemuran pakaian di pinggiran rel maupun bantaran sungai. Di pasar kaget dekat alun-alun, di antara beringin kembar, yang para wisatawan cari itu wayang.

Limbuk senang.

Malangnya, kemudian Limbuk tahu bahwa yang banyak dicari adalah wayang-wayang Pandawa seperti Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kera sakti berbuluh putih dari zaman Ramayana, Hanuman, juga banyak diburu turis asing. Saking banyaknya peminat sampai harganya berlipat-lipat.

Kabarnya sejak UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan dunia beberapa tahun lalu, orang-orang asing gemar menempel wayang di dinding rumahnya. Tapi mereka juga membaca buku-buku tentang wayang termasuk buku-buku ensiklopedi wayang. Mereka jadi tahu mana tokoh yang berkarakter baik, mana tokoh berwatak gelap. Mereka hanya mau menempel tokoh-tokoh baik seperti Kumbakarna, Kresna dan Dewi Kunti.

”Saya tidak mau Sengkuni,” kata seorang bule yang wajahnya mirip Petruk.

”Lho, Sengkuni itu baik, Tuan,” kata Limbuk ngotot. Limbuk sendiri sebenarnya tidak tahu menahu tentang siapa itu Sengkuni.

”No. No...Sengkuni ini tokoh jahat. Sengkuni atawa Tri Gantalpati eee...dia punya kerjaan senangnya ngipas-ngipas, and bikin panas situasi. Rajanya, Duryudana dipanas-panasi..untuk membenci Pandawa. Permainan dadu Pandawa-Kurawa sebenarnya kan Pandawa yang menang. Tapi Sengkuni curang...Iya kan?”

Limbuk tak bisa berkata-kata. Badan gembrotnya yang belakangan semakin susut karena kurang makan tampak semakin pucat. Dengan loyo ia tinggalkan pasar kaget.


***

Di tepi alun-alun Limbuk bertemu turis dari Asia, agak pendek dan hitam, wajahnya mirip Gareng. Iseng-iseng Limbuk menawarkan wayang Sengkuni. Eh, rupanya turis kecil ini berminat. Wayang Sengkuni ditimang-timangnya. Pengetahuannya tentang wayang ternyata jauh lebih baik dibanding turis mirip Petruk.

”Ini bukan cuma Sengkuni atau Tri Gantalpati,” kata turis ”Gareng” itu kepada Limbuk, ”Nama aliasnya banyak. Dia juga Gandaraputra atau Suwalaputra. Artinya putranya Prabu Suwala. Raja di Plasajenar atau Awu-awu Langit.”

Turis ”Gareng” melanjutkan: Sengkuni adik Dewi Gendari. Gendari itu nantinya jadi Ibu Duryudana, Raja Astina.

”Lho, Raja saya sendiri to,” tanya Limbuk, ”Baru tahu saya.”

”Ya, mungkin saja itu rajamu. Nah, wayang ini adalah pakleknya, yang nanti sekaligus menjadi Patih Kerajaan Astina.”

”Wah, ini patih kerajaan saya juga ya...NKRA ...Negara Kerajaan Republik Astina..Bukan wayang sembarang wayang ya, Tuan. Berarti harganya mahal kan?”

Turis ”Gareng” tampak berpikir.

Memang, baginya, wayang Sengkuni mestinya mahal. Kedudukannya tinggi. Patih di suatu negara adidaya lho. Tapi mana ada orang mau masang wayang Sengkuni di rumahnya. Seandainya turis ini membeli Sengkuni dari Limbuk, pasti turis itu sudah tak bisa memajang di rumah, juga tak bisa menjualnya lagi. Siapa yang mau beli wayang yang mulutnya cengengesan terus itu?

Apalagi Sengkuni menjadi Patih di Astina juga melalui jalan yang curang.

Waktu itu negara Astina sedang akan memperluas jajahannya. Mereka, dipimpin Patih Astina Raden Gandamana menyerbu kerajaan raksasa Pringgandani. Di dalam pertempuran Gandamana terjebak di dalam lubang sumur alias luweng, eh malah diuruk oleh Sengkuni. Sengkuni balik ke keraton, lapor bahwa Gandamana sudah mati. Sejak itu diangkatlah Sengkuni sebagai patih Astina.

Wah, wah, wah...

Turis ”Gareng” kembali menimang-nimang wayang Sengkuni. Setelah itu lama ia pandangi langit, lalu bilang ke Limbuk, ”Ehmm...Nggak ah.. maaf saya tidak jadi membeli wayang ini...”



***

Di kiri kanan rel kereta api. Di antara jemuran pakaian permukiman padat. Di siang yang terik. Limbuk bertemu turis pendek dan gemuk dan berkulit seperti orang Jepang. Wajahnya mirip Bagong. Aneh sekali tiba-tiba matanya tak lepas pandang dari wayang Sengkuni yang ditenteng Limbuk. Malah turis berkulit kuning mirip Bagong itu mengejar-ngejar Limbuk.

”Bu, itu wayang Sengkuni ya? Dijual? Berapapun akan saya beli. Saya suka sekali,” katanya.

Yang aneh pula, dari mulut Limbuk tak terucap syukur. Limbuk malah panik, ”Jangan,Tuan. Nanti Tuan malah repot punya Sengkuni. Ini saya tadi juga baru tahu, nggak ada orang yang mau masang wayang Sengkuni...ndak ilok, orang Sunda bilang pamali... Tuan juga repot nanti mau ngejual ke siapa?”

”Tidak apa-apa, Bu. Saya juga tahu wayang ibu itu wayang tokoh buruk...Tahu Begawan Abiyasa? Dia leluhur Kurawa dan Pandawa. Waktu sang Begawan membagikan minyak Tala untuk kekebalan kulit, mereka rebutan, seperti kalau ada pembagian apa itu...ehmmm...zakat...Waktu itu Kunti, ibu Pandawa sampai pingsan kena senggol kanan-kiri. Sengkuni lirik kini-kanan. Kesempatan itu dipakainya untuk membuka dan merobek kemben Dewi Kunti...Waduh... Ibu masa gak tahu?”

Limbuk menggeleng.

”ck ck ck ...Saat itu terucap sumpah Dewi Kunti: Tidak akan menggunakan semekan, penutup dada itu, kalau tidak terbuat dari kulit Sengkuni...”



***

Tak ada yang mendengar transaksi antara turis mirip Bagong dan Limbuk. Bahkan anak-anak kecil yang bermain gobak sodor sekitar situ juga tak mendengarnya.

Orang-orang hanya tahu bahwa rumah Limbuk sekarang sudah cukup mewah. Halamannya luas dengan mobil yang kinclong kemerahan. Limbuk tak perlu kehilangan bibir seperti salah seorang rekannya yang menjadi Tenaga Kerja Astina di Arab Saudi.

Ternyata turis yang kayak orang Jepang dan mirip Bagong itu menguasai teknologi luar angkasa. Ia menjual Sengkuni ke planet lain. Di sana sedang marak-maraknya iklim Sengkuni, alias Haryo Suman. Di mana-mana ada simbol maupun sosok Sengkuni. Cangkir-cangkir, suvenir, kaus-kaus, ballpoint...semuanya bergambar Sengkuni.

Di planet itu tak ada tokoh yang sifatnya kayak Sengkuni, mereka hanya menggunakan simbol Sengkuni untuk melampiaskan sifat buruknya agar tak dipendam terus-menerus. Bedanya dengan suatu negeri di bumi, di negara itu banyak orang malu memakai simbol Sengkuni, tapi kelakuannya Sengkuni sekali...

Sampai kapan?