PETRUK JADI RATU | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
PETRUK JADI RATU Reviewed by maztrie on 5:54 AM Rating: 4,5

PETRUK JADI RATU

ADA atau belum ada internet, getok tular kabar cepat sampai. Sejak ada yang melihat wajah Petruk muncul di puncak Merapi, seluruh kerajaan ribut.

Ada yang bilang itulah salah satu penunggu gunung teraktif di dunia. Ya, Petruk memang dipercaya sebagai Mbah berhidung panjang sang penunggu, selain Mbah Sapu Jagad dan beberapa lagi.

Ada juga yang bilang, ah itu cuma Pinokio. Ada juga yang bilang, inilah gara-gara atau pertanda Obama pasti akan datang, tak batal lagi. Tapi seorang pedagang bakso nggak sreg dengan jawaban itu.

”Ndoro Obama memang orang Amerika. Tapi dia kan tidak mancung seperti Petruk?” tanyanya dalam kepulan asap bakso sore di suatu sisa gerimis.

”Sebetulnya mancung. Sayangnya pernah tinggal di Nusantara, makanya ketularan nggak mancung,” kata pegawai pegadaian.

”Ah, masa hidung pesek kok nular. Yang nular itu korupsiiii...” kata tukang jamu sembari beberes botolbotolnya di antara kuli-kuli pekerja bangunan.

”Suiiit ...Suiiiiiiiiit...Cerdaaaaasss....” para kuli bangunan termasuk tukang gali menyuit-nyuiti bakul jamu gendongan manis itu, yang berjalan makin menjauh, yang sekali-sekali menengok dan tersenyum.
Pindah tempat. Di waktu yang sama. Di bunderan jalan raya.

”Ya kalau bukan Obama bukan Pinokio, berarti Petruk,” kata Pak Polantas di jalanan kepada pengendara sepeda motor. Nggletek wae dari jauh tampak sedang menilang warga. Begitu kita nguping dari dekat, ternyata obrolannya soal asap berbentuk Petruk di puncak Merapi.

”Pantesan...Pantesan...” seorang ibu-ibu di Posyandu panik, ”Pantesan Yogya sekarang gawat...Karena Mbah Petruk di atas Merapi itu menengok ke arah Yogya...”

***

Saking hebohnya soal Petruk, di suatu sekolah, mata pelajaran sampai berganti karena muridmurid meminta guru menjelaskan soal Petruk.

”Ya sudah, anak-anak, ” kata Bu Guru matematika,

”Sekarang Ibu akan bercerita soal Petruk. Tadinya ibu akan menerangkan soal Pythagoras, seorang matematikawan abad ke-5 Sebelum Masehi... dari Yunani. Anak-anak tahu Yunani...?”

”TahuBuuuuu....Negarayangdikunjungibapaksaya...”

”Wah hebaaat...Pasti bapakmu seorang pelaut... seorang kapiten...melanglang buana ke manamana...”

”Bukan...Bapak saya seorang anggota...hmmm... anggota apa gitu...tapi katanya wakil rakyat...”

”Ooohh xixixixi...Itu namanya Anggota DPR. Hebaaat. Sekarang kalian maunya ibu cerita soal Petruk apa anggota...”

”Petruk Buuuuu.....!!! ” suara seisi kelas seperti berpadu.

Dan mulailah Bu Guru Banuwati bercerita: Ada beberapa versi tentang Petruk, yang kalau di Sunda biasa disebut Dawala. Dulunya Dawala alias Pentung Pinanggul itu putra seorang raja gendruwo (Mendengar kata ”Gendruwo” murid-murid panik. Bu Banuwati menenangkan.)

Raja gendruwo itu bernama Prabu Prabu Bausasra. Punya anak bernama Kuncir dan Kuncung. Tapi ibu tirinya kejam. Akhirnya kedua kakak-beradik ini pergi...jalan-jalan...

”Studi banding, Bu Guru...”

Husssh...Lain...Jalan-jalan ya jalan-jalan...

”Tapi kata tante saya...Jalan-jalan itu studi banding Bu Banuwati...”

Ooooke deh...Akhrnya Kuncir dan Kuncung melakukan studi banding sampai tersesat ke dukuh Karang Kadempel. Di dukuh itu keduanya ditempukan oleh Lurah Janggan Asmarasanta alias Semar. Yang Kuncir diberi nama Gareng. Si Kuncung diberi nama Petruk.

***

Petruk dadi Ratu
Mata pelajaran tentang Petruk belum selesai. Bu Guru Banuwati melanjutkan: Versi kedua. Gareng dan Petruk semula bernama Bambang Sukadadi dari Padepokan Bluluk Tibo, dan Bambang Precupenyukilan dari Padepokan Kembang Sore. Dua-duanya gagah. Dua-duanya tampan. Kok ndilalah dua-duanya punya kesenangan yang sama yaitu jalan-ja...eh studi banding. Siang berganti malam, malam lingsir menjadi pagi, dua orang tampan dari tempat yang terpisah jauh itu melakukan studi banding ke hutan gunung sawah lautan...sampai akhirnya bertemulah di pojok alun-alun. Kebetulan ketika itu ada aktris Pamela Anderson sedang berlalu. Bambang Sukadadi merasa Pamela Anderson melirik dirinya.

Ah, enggak. Bambang Precupenyukilan merasa, ketika Pamela Anderson berjalan mau menghantar bantuan pengungsi Merapi itu melirik dia. Keduanya akhirnya cekcok. Dari cekcok rebutan perhatian bintang seksi, akhirnya adu mulut soal siapa yang tampan.

Bambang Precupenyukilan merasa dialah yang lebih tampan karena ada keturunan bule. Sebaliknya Bambang Sukadadi merasa dialah yang lebih tampan, karena ada keturunan orang Hitam, persis Obama yang akan menjadi tamu.

Adu mulut berlanjut dengan adu fisik. Berhari-hari sampai debu tanah perkelahian mereka membubung 9 km ke udara persis debu Merapi. Keduanya saling meremukkan. Tanding yuda yang ampuh. Tak ada warga yang berani melerai perkelahian bukan warga setempat di alun-alun mereka itu. Kecuali Semar.

Semar datang tergopoh-gopoh melerainya.

”Sudah.Sudah.Sudah...Rukun agawe santosa... Kalian tidak lebih tampan satu-sama lain,” tutur Semar, ”Sekarang coba lihat rupamu di genangan air becek di tengah alun-alun ini...”

Kagetlah ketiga keduanya mengaca diri. Duaduanya menjadi berwujud Gareng dan Petruk.

Bambang Sukadadi berubah wujud Gareng. Bambang Precupenyukilan menjadi Petruk. Keduanya lantas menganggap Semar sebagai ayahnya.

***

Versi ketiga belum sempat dijelaskan oleh Bu Guru, karena sekolahan itu tiba-tiba didatangi ribuan rombongan manusia yang diantarkan oleh para tentara. Mereka pengungsi dari Wasior, Mentawai, dan Merapi. Seluruh ruang kelas dihampari tikar. Pelajaran ”matematika Petruk” bubar.

Terjadi sedikit cekcok ketika datang menyusul, rombongan pengungsi dari kasus lumpur Lapindo.

”Kenapa kami nggak boleh masuk?” kata juru bicara korban Lapindo, ”Mentang-mentang kami bukan korban baru seperti dari Merapi terus dilupakan?

Sudah hampir empat tahun, kami terlunta-lunta...”

Akhirnya rombongan penyusul dari kawasan Sidoarjo itu diterima dengan rasa nasib sepenanggungan oleh pengungsi Mentawai, Merapi dan Wasior.

Problem belum selesai. Ketika Petruk, Gareng dan Bagong ingin mengunjungi para pengungsi, setiap orang yang ditolehi Petruk, langsung lari ketakutan, menghindari tolehan Petruk. Para pengungsi kalang kabut. Termasuk anakanak kecilnya.

”Jangaaaannn....Jangan menengok ke awakku Pak Petruk...Nanti bagaimana saya dan keluarga...Setelah Mbah Marijan tiada...lalu muncul Petruk nengok ke arah Yogya...apa yang terjadi? Ooooo Jangaaaan...”

Akhirnya ponokawan Gareng dan Bagong menyuruh Petruk pulang saja. Hanya mereka berdua yang tinggal di pengungsian. Petruk keberatan, karena banyak relawan yang cantik di sekitar situ. Senyumnya adem-adem.

”Sudahlah, Truk. Sana pulang. Kalau memang jodohnya, pasti nanti-nanti akan ketemu lagi, Truk,” kata Gareng.

Bagong: Percayalah, Truk, jodohmu belum mati.

***

Itu sudah lewat tengah malam. Tapi murid-murid Bu Banuwati tak bisa menahan penasarannya. Satu dua mereka ada yang sempat melihat kaum pengungsi takut sekali ke Petruk. Kepana ya? Maka mereka lantas kompak mengajak mendatangi rumah Bu Guru.

”Kenapa mereka takut pada Mbah Petruk, Bu...?”

Bu Banuwati sambil keriyepan dan ngucekngucek mata:

Karena dalam salah satu lakon terkenal di alam wayang, Petruk pernah menjadi raja, alias ratu.

Judulnya Petruk Dadi Ratu. Julukannya Prabu Tong Tong Sot Belgeduwelbeh. Kesaktiannya sangat tinggi.

Tak seorang ksatria pun sanggup menandinginya.

”Arjuna, Bu?”

Arjuna kalah.

”Bima..Bima..?”

Bima pun keok. Karena senjata Prabu Tong

Tong Sot adalah Jimat Kalimasada. Jimat unggul itu dicurinya dari Pandawa.

”Jimat Kalimasada itu apa Bu Banuwati...?”

Jimat Kalimasada itu...hmmm...hmmm...Ya kalau sekarang seperti Pancasila... Karena Pancasila nggak pernah dipakai, ditaruh di gudang, dipakailah oleh Petruk...Sayang daripada dibuang...Kalian pernah dengar Pancasila?

”Pernah..Bu..hehe..Akulah ”pendukulm”...”

Husssh...Akulah pendukungmu...

”Kalau Pancasila dipakai oleh Petruk karena sayang daripada dibuang...” celetuk suami Bu Guru. Ia terbangun oleh murid-murid yang gaduh dini hari. ”..Dan kalau Petruk adalah simbol rakyat...

Kenapa rakyat takut pada Petruk sekarang ini?”

Karena kita ditakut-takuti Maaaasssss!!! [sujiwotejo]