Pidato Buah Apel, eh, Buah Simalakama | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Pidato Buah Apel, eh, Buah Simalakama Reviewed by maztrie on 5:36 AM Rating: 4,5

Pidato Buah Apel, eh, Buah Simalakama

MASYARAKAT takon-tinakon. Kresna pidato pakai Kiyai iPad. Pusaka ini sik tergolong langka di negeri Dwarawati. Ndak kabeh orang punya berkah untuk memilikinya. Untuk memperoleh Kiyai iPad tak jarang warga Gerbang Jagad... itulah arti Dwarawati... harus pergi ke negara tetangganya Temasek.

Kekuatan Kiyai iPad sangat luar biasa. Ngedapedapi. Melebihi kemampuan aji Bandung Bondowoso maupun Blabak Pangantolan Bima. Padahal dengan kedua ajian itu saja Bima sudah sanggup ..hmm.. ibaratnya melangkah sejarak satu gunung dan pesat berkecepatan laksana angin.

Kiyai iPad juga lebih dahsyat dibanding aji Panglimunan maupun Jayeng Katon milik Arjuna. Tahu kan ampuhnya ajian tersebut? Ya, dengan itu Arjuna bisa tak kelihatan. Sebaliknya ia tetap bisa melihat bahkan menerawang bangsanya lelembut yang tak kasat mata.

”Di mana sih Paduka Yang Mulia berpidato pakai iPad?” tanya seorang warga negara Dwarawati alias Dwaraka.

”Wah, kamu kok ketinggalan kereta api. Itu lho, ketika beliau berpidato soal monarki.”

Dan seterusnya. Di warung kopi, di warung Tegal dan di mana-mana, obrolan semacam itu terus berlangsung setelah suatu sore Kresna berpidato menggunakan Kiyai iPad.

Telisik punya Telisik, ternyata masyarakat Dwarawati geger bukan karena Kiyai iPad. Sebenarnya yang mereka ributkan sehari-hari bukan soal kedigdayaan atau kesaktian Kiyai iPad. Mereka justru meributkan lambang Kiyai bikinan Pak Lik Sam ini. Sebenarnya itu buah apel kecakot codot atau buah-buah lain yang ada di seputar Kota Gudeg seperti buah Nangka untuk bikin gudeg, maupun salak pondoh?

***

Pidato Buah Apel, eh, Buah Simalakama
Warung tegal dengan spanduk bertulisan ”Hare gene nggak makan pajak? Apa kata dunia? Mau makan warung Tegal?”

Di dalam warung itu beberapa warga yang sempat mengambil foto pidato Kresna soal monarki jadi ikut penasaran. Mereka memperbesar hasil jepretannya masing-masing. Memang, sih, ada yang melihat bahwa ternyata itu bukan lambang buah apel digrowoti kalong. Jelas sekali ketika diperbesar, itu gambar nangka. ”Di foto saya malah buah salak growong ...” ujar yang lain.

Sambil menyambar tempe, ponokawan Petruk yang saat itu sedang berada di tengah keduanya menengahi. ”Sudah nggak usah ribut,” kata Petruk yang lagi-lagi melahap tempe, ”Mau lambang pidato itu nangka atau salak, yang penting duaduanya kan memang ada di seputar Kota Gudeg. Kecuali kalau lambangnya apel. Apel lambang kotanya kaum Aremania. Itu baru problem. Masa’ pidato itu tentang Kota Gudeg kok simbolnya kota Aremania. Jelas?”

Warga lain di warung tegal yang sama, berasal dari kawasan Pajajaran, terkekeh-kekeh menyaksikan itu. ”Bener kan yang saya omong?” katanya, ”Tidak mungkin Prabu Kresna berpidato dengan lambang apel. Ingat Tragedi Buah Apel dari penyanyi rock Kota Kembang, Nicky Astria...”

”Ingat...ingat...”

”Lho, bukannya itu lagu tempo dulu? Yang nyanyi Anita Sarawak? Nicky Astria itu nyanyi Tangan-Tangan Setan, ” potong warga yang berasal dari negeri Temasek.

”Hehe ...” Petruk kembali menengahi, ”Meski saya ponokawan, saya tidak cuma tahu gendinggending Jawa seperti Asmorondono dan Kinanti Sandung. Tragedi Buah Apel itu memang yang nyanyi Nicky Astria, rocker dari Tatar Sunda. Tapi Anita Sarawak juga bawakan lagu itu. Cuma ngomongnya bukan Apel, tapi Epal. Tragedi Buah Epal.”

Dialog berkembang dari soal iPad yang digunakan dalam pidato Kresna, sampai ke Anita Sarawak. Belum selesai obrolan mereka, datanglah Bagong dan Gareng tergopoh-gopoh ke tempat Petruk bersama fotografer serta orang-orang dari Parahyangan dan negeri singa, di warung Tegal yang mulai dipajaki.

Sejenak Gareng dan Bagong bertanya-tanya apa maksud spanduk warung Tegal. Bagong ndak mudeng.

”Di pesawat tadi pramugarinya aneh, Truk,” kata Gareng. ”Anehnya,” sambung Bagong, ”kita kan dari Amarta ke Dwarawati ... masa’ pramugari bilangnya dari Jakarta ke Yogya...”

Gareng nyambung lagi, ”Iya, Truk. Masa’ pas mau mendarat, pramugari pengumumannya gini: para penumpang, perhatian-perhatian, sebentar lagi kita akan mendarat di Yogya. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Yogya...Cuma ada perbedaan pendapat.”

Bagong mengoreksi. ”Ndak gitu. Yogya dan Jakarta bukan cuma beda pendapat. Gini lho Truk pramugarinya: Para penumpang, perhatianperhatian, sebentar lagi kita akan mendarat di Yogya. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Yogya...cuma ada perbedaan presiden ... !!!”

Bagong langsung lari kabur habis menyampaikan omong kosong itu. Petruk mengejarnya. Belum terlalu jauh Petruk mengejar, Ndoro Abimanyu su dah keluar dari Kraton Ndwarawati. Berarti putra Arjuna ini sudah selesai mohon petunjuk ter hadap Pak De Kresna untuk mencapai citacitanya. Petruk segera menghadap majikan mudanya itu. Begitu juga Bagong. Ketiganya, bersama Gareng, segera meneruskan laku yaitu melamar Dewi Utari sebagai istri Abimanyu.

***

Orang percaya, reog Ponorogo melambangkan kesatuan antara macan dan merak. Jika di bawah ada macan, hati-hati di atasnya. Pasti ada merak. Begitu juga, jika di bawah ada Abimanyu, Ksatria dari Palangkawati, di atasnya pasti terbang si Gatutkaca, anak Bima. Gatutkaca memang sangat menyayangi saudara sepupunya itu, Abimanyu alias Jaka Pengalasan. Kali ini Gatut tak sendirian. Ia ditemani Pak Lik kesayangan, adik sang bunda Arimbi, yaitu Kala Bendana, raksasa yang tak pernah bohong.

Sesampai di depan Dewi Utari yang masih ter hitung sebagai eyang Abimanyu, Abimanyu langsung melamarnya sebagai istri.

Pucuk dicinta ulam tiba. Sudah lama Dewi Utari yang tetap awet muda bagai Dayang Sumbi itu memang mendambakan sosok Abimanyu. Sayangnya negeri tempat Utari hidup, Wirata, bukanlah negeri yang modern. Jangankan iPad, handphone saja belum ada. Kok handphone, koran dan televisi saja belum ada. Komunikasi sangat minim. Utari tak tahu kabar apa-apa soal Abimanyu. Maka Utari perlu bertanya, ”Apakah kamu masih perjaka, Abimanyu?”

Ternyata Utari belum mendengar kabar termasuk dari infotainment, bahwa Abimanyu sudah mempunyai istri bernama Siti Sundari. ”Saya belum menikah dengan siapa pun, Eyang Utari,” kata Abimanyu.

”Bohong!”

Gatutkaca menoleh ke pamannya yang nyeletuk. Seketika Gatutkaca menepuk pipi Kala Bendana. Maksud Gatutkaca cuma mau wanti-wanti agar pamannya gak usah ngomong ini-itu. Gatutkaca lupa kalau kedua tangannya sudah kadunungan aji Brajamusti dan Brajalamatan. Seketika Kala Bendana meninggal.

Utari kaget mendengar kesaksian Kala Bendana. Utari meminta agar Abimanyu kembali berkata, benarkah ia belum menikah. Abimanyu ngotot bilang belum.

”Jika saya berbohong, Eyang, biarlah nanti dalam Bharatayuda Jayabinangun tubuh saya tatu arang kranjang, ditancapi ribuan panah oleh Kurawa sehingga badan saya menyerupai landak...”

”Ah, itu kuno,” di luar dugaan, begitulah jawaban Utari. ”Aku minta kamu melakukan sumpah yang lain...”

Abimanyu mohon diri sebentar pada Utari. Di luar Ia berembuk dengan ponokawan. Kepada Gareng, Petruk dan Bagong, Abimanyu mengatakan, ia ingin menikah dengan eyang Utari bukan sembarangan. Baru saja Abimanyu mendapatkan Wahyu Widayat. Padahal, wahyu ini punya pasangan, yaitu Wahyu Cakraningrat yang kini ber mukim di sukma Dewi Utari. Jika pemilik ke dua wahyu itu bergabung, kelak akan lahirlah generasi raja-raja di Nusantara.

”Kalau aku jujur mengaku sudah menikah dengan Siti Sundari, aku akan baik sebagai suami. Dewi Utari tak akan mau aku nikahi. Tapi tanggung jawabku untuk menurunkan raja-raja di Nusantara akan jadi terbengkalai...”

Atas usul Gareng, Petruk dan Bagong, dan disetujui oleh Dewi Utari, Abimanyu berpidato di depan rakyat Wirata. Podiumnya pakai semacam iPad yang waktu itu belum pernah ada di Wirata. Sebenarnya bukan iPad-nya yang penting buat pengujung tulisan ini.

Lambangnya itu lho. Itu yang lebih penting. Lambangnya bukan buah apel tetapi buah simalakama... [sujiwotejo]