Senjakala Comberan Bisma | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Senjakala Comberan Bisma Reviewed by maztrie on 5:29 AM Rating: 4,5

Senjakala Comberan Bisma

SEHABIS panah Srikandi menghunjam tubuh Maharesi Bisma, di dalam Perang Baratayuda, di Palagan Kuru Setra, banyak kejadian aneh. Anehnya, kata-kata Bisma alias Dewabrata yang sudah sekarat itu banyak disalahtafsirkan. Sang Ganggaputra, juga nama lain Bisma, pesan bantal untuk mengganjal kepalanya yang kian lunglai.

Raja Duryudana berbisik ke adiknya, Dursasana. Ksatria dari Banjarjunut ini tergopoh-gopoh mengambil bantal dan guling dari istana Astina. Ternyata Bisma malah menampik bantal dan guling berenda benang emas itu. ’’Bukan ini bantal seorang prajurit perang,’’ Bisma berkata sambil tersengal-sengal.

Bala tentara Kurawa dan Pandawa yang mengitari kakek mereka semakin bingung di dalam tepekurnya masing-masing.

Bisma melanjutkan dalam kalimat yang makin terbata-bata, bercampur darah kental yang keluar dari mulut, ’’Yudistira, tolong ambilkan aku bantal...

Bantal... Bantal... Hmmmm... Bantal…’’

Angin berarak dari utara. Kawanan burung gagak siap menukik, memangsa siapa pun yang sebentar lagi menjadi bangkai. Orang-orang Kurawa-Pandawa masih tertunduk. Batara Kresna yang menjadi penasihat Pandawa berbisik ke Yudistira. Kresna berpesan agar sulung Pandawa itu memerintahkan sesuatu pada Arjuna.



Kocap kacarita.

Arjuna membidik tanah. Ia memanah secara nracabala, sekali memanah bisa ribuan anak panah melesat dari busurnya. Ribuah anak panah yang tegak lurus dengan langit itu membentuk bantal lengkap dengan ranjangnya. Bisma tersenyum. Meminta tubuhnya dibopong, digeletakkan di atas pangkal-pangkal ribuan panah. Tubuh sesepuh Pandawa-Kurawa itu tampak mengapung di atas tanah. Tepatnya di atas batang-batang panah yang matanya menancap bumi, pangkalnya menancap badan sang Bisma bagai landak. Darah semakin dleweran dari badannya sekujur.

’’Hmmm... terima kasih... terima kasih... Inilah bantal yang aku maksud... bantal kaum ksatria di medan laga...,’’ kata Bisma terus memejam.

***

Senjakala Comberan Bisma
Pembaca Jawa Pos yang budiman. Sebagai dalang, saya sangat berterima kasih kepada Pak Sudarko Prawiroyudho yang mengingatkan detik-detik terakhir Bisma. Penggiat wayang senior itu menunjukkan banyaknya kemiripan saat-saat sandyakalaning Bisma tersebut dengan situasi terakhir Tanah Air.

Tetapi ponokawan Gareng malah membantah.

’’Ndak sama to Caaak, Cak,’’ kata si alias Cakra wangsa ini. ’’Bisma ndak klira-kliru omong. Tapi orang-orang Kurawa itu yang salah penerimaan. Bantal yang ada di pikiran Eyang Bisma, berbeda dengan di kepalanya Duryudana sak-Dursasana-nya.’’

Maksud Cakrawangsa, yang terjadi di Tanah Air kan memang klira-kliru omong. Misalnya, tenaga kerja nduk Saudi Ngarabiah dikasih handphone. Ya mana ada juragan yang mau.

Ndara Arjuna dan Subadra kurang beradab bagaimana to, tapi kan nggak suka juga kalau ponokawan suka main handphone. Apalagi orangorang yang mungkin kelasnya tidak seunggahungguh keluarga Ndara Arjuna. Pasti emoh pembantunya ber-handphone-ria.

’’Aaaalah, Bantal ya Bantal,’’ Bagong membantah kakaknya. ’’Sing salah malah Bisma. Kita-kita yang dengar pitungkas kakek Bisma ndak salah, Rek. Dursasana ndak salah ngambil bantal benang emas dari keraton. Guling renda-renda emas dari keraton. Bantal ya bantal. Sing kebangeten Kresna lah. Nduk toko furniture mana wae nek namanya bantal ya gitu. Masa bantalnya panah...

Tambah getihen kecubles-cubles la’an...’’

Petruk hanya cengengesan mendengar Bagong bantah-bantahan ambek Gareng. Kata orang Madura kareggingan. Mungkin karena Kantong Bolong ini bingung mau naruh badan di pihak Gareng apa Bagong.

Wong dua-duanya ada bener-nya. Menurut Petruk pemimpin itu bener, sesuai yang dimaksud oleh yang bersangkutan sendiri ketika berbicara soal Monarki di wilayah Kanjeng Ratu Kidul.

Tapi ketika kemudian di Pulau Dewata pemimpin itu bicara bahwa demokrasi tak bisa dipaksakan dari luar, orang-orang bisa salah tangkap. Orang-orang sak enak udelnya bilang bahwa, kalau demikian, maka demokrasi bisa dipaksakan dari dalam. Padahal pasti ndak gitu to maksude?

***

Bisma seperti mak gregah bangun dari sekaratnya. ’’Haus....haus...,’’ katanya lirih dan pegat-pegat.

Orang-orang Kurawa berlari ke istana. Berbagai minuman dalam dan manca negara, semua yang terbaik, dihidangkan. Tapi semua ditampik sang resi. Bisma sudah tak mampu geleng-geleng.

Tapi kedipan matanya menandakan beliau menolak mentah-mentah seluruh minuman bergengsi itu.

Belajar dari pengalaman tentang bantal, ponokawan segera berlari ke got. Ambil air peceren.

Terbirit-birit balik lagi ke tempat Bisma dikerumuni Pandawa-Kurawa. Tapi Bisma kembali berkedipkedip tanda tak mau.

’’Sokor! Kamu ditolak, Kang Gareng,’’ kata Bagong.

’’Kamu tadi kan punya angan-angan Kakek Bisma akan bilang...matur nuwun... matur nuwun Reng... air comberan ini air yang aku maksud, air kaum prajurit di medan laga...preeeeet.....’’

Petruk membatin, memang perkara jadi ruwet seperti keadaan sekarang. Apa yang dimaksud Ndoro Kakung belum tentu kita semua paham. Sebaliknya, apa yang kita maksud, belum tentu Ndoro Kakung paham.

Sekali lagi Kresna berbisik pada Yudistira. Yudistira lalu memberi kode kepada Arjuna. Arjuna memanah bumi di sebelah ranjang panah. Serta merta muncrat mata air dari tanah itu.

Bisma mengangakan mulutnya menadah air yang terjun dari semburan tanah. Seluruh wajah dan tubuhnya kuyup.

Kata Bisma sambil megap-megap menyongsong air, ’’Matur nuwun Arjuna...Matur nuwun Pandawa... inilah air yang aku maksud ... air buat ksatria di medan laga...’’

***

Bantal sudah disajikan.

Minuman sudah disuguhkan.

Di dirgantara semakin terdengar suara burungburung gagak yang menyamber-nyamber. Belum rampung. Sang ksatria Bisma, sang Jenderal, ingin mendengar kata-kata terakhir dari alam fana yang akan dibawanya moksa.

’’Darah itu merah, Jendral, tapi duit lebih berwarna-warni deh..!’’ kompak kembar Citraksa- Citraksi dari Kurawa.

Kakek Bisma tak bereaksi apa pun selain cuma Mesam-mesem. Jadi belum jelas apakah sang jenderal berkenan dengan kalimat itu. Ponokawan Togong dan Mbilung yang menemani kaum Kurawa membisikkan sesuatu pada sekjen Kurawa Kartawarma.

Ksatria dari Tirtatinalan itu berteriak: Siap Jendral, kita adalah pemegang pedang terdepan dalam mengganyang korupsi. Tetapi kenapa kasus Gayus dibonsai. Menurut pakar hukum Adnan Buyung Nasution, kenapa diserahkan pada kepolisian? Mengapa tidak diserahkan kepada KPK saja?’’

Bisma sekali lagi tidak bereaksi apa-apa mendengar omongan Kartawarma. Kerumunan

Kurawa-Pandawa menjadi panik. Ponokawan perempuan Limbuk dan Cangik membisikkan sesuatu kepada orang Kurawa berbadan gemukpendek, Durmogati.

Durmogati teriak: Siap Jendral, meski sudah berjanji akan membeli ternak sapi-sapi pengungsi Merapi, sebaiknya tidak usah ditepati. Nanti malah dikira melakukan ’’Politik Dagang Sapi’’.

Bisma tetap tak bereaksi. Bahkan Batara Kresna pun bingung harus mengucapkan kata-kata apa sehingga Bisma berkenan mendengarnya di saat-saat akhir hayatnya.

Hmmm...Di tengah semua pada memeras batin dan otak untuk mencari kata-kata yang tepat buat sang Jenderal...sebenarnya sudah ada yang meninggal di Kuru Setra itu.

Kresna yang dikenal bermata seribu pun tak tahu...Tapi Burung-burung gagak di angkasa paham, apa yang telah terjadi saat itu... Menukiklah mereka dari angkasa dengan kecepatan tak terkira, kecepatan yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata... [sujiwotejo]