Jamurdipa Itu Pedas Harganya | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Jamurdipa Itu Pedas Harganya Reviewed by maztrie on 4:54 AM Rating: 4,5

Jamurdipa Itu Pedas Harganya

SOPO sing salah kalau raja gemar pidato pakai taburan kata-kata monco negoro?

Bungsu ponokawan Bagong langsung salahkan si raja. Kan semua sudah tahu Pak ALim Markus dari Jawa Timur selalu pekik-pekik “cintailah produk-produk Iiiiiindonesia”? Ini kok malah rajanya yang bersinggasana di provinsi pusat masih cas-cis-cus keminggris.

“Tembung-tembung, kata-kata, ukoro-ukoro kita sendiri itu kan termasuk produk-produk Indonesia to?” tukas suami Dewi Bagnawati itu.

Ah, moso’.

Petruk masih seperti biasa, seperti adat lupiyonya, tak menyalahkan siapa-siapa. Raja bisa saja salah. Tapi kawula juga bisa keliru. Ngaku sajalah. Wong penyiar radio, televisi, pemirsa, penonton, semua kita sekarang kebanyakan njeplaknya ya kelondo-londoan. “Lha bojoku dewe... itu...si Undonowati, kalau ngajak aku mangun asmoro bilangnya “Ayo kang, ML”. Nek dia SMS-an mbarek aku, bilang kangen saja kiss and big hug...Pas duit belanja abis, aku tuduh macem-macem, nini Undonowati njawabnya ‘aku ndak beli apa-apa kok, ndak boros, semua cuma abis karena harga cabai naik-naik ke puncak gunung, sumpah Mas, Swear. Trust me deh’...”

Hehehe...

Ringkasnya, ponokawan dari dukuh Kembang Sore ini ndak nyalahno raja tok.

Lain kota lain rujak cingurnya. Lain Petruk lain pikiran Gareng. Kalau bagi ahli pikir si sulung ponokawan Gareng sudah jelas bahwa yang ndak bener ya kawula. Kata si Cakrawangsa itu,“Dalam situasi normal, situasi tidak ada perubahan- perubahan besar seperti zaman kanjengkanjeng nabi dan wali-wali, pemimpin itu cuma cermin dari rakyatnya ... Kalau rakyatnya moto duiten, dapatnya pemimpin ya sidang para mata duitan. Nek rakyatnya sarwo ragu-ragu, dapatnya pemimpin ya tukang ragu-ragu...”

Jamurdipa Itu Pedas Harganya
No...no...no...

Bagong protes. Hidup rakyat itu kebanyakan sudah tambah megap-megap bukan cuma oleh harga cabai. Pembeli kejet-kejet. Petani lombok seneng? Ndak! Mereka juga menggehmenggeh.

Petani tidak menikmati kenaikan harga cabai. Embuh duitnya mampir-mampir nduk mana. “Mbok ngomong jangan waton njeplak, Kang Gareng. Kawula alit makin morat-marit sandang pangannya, masih kamu salah-salahkan...”

Wah. Dingototi orang dari dukuh Pucang Sewu, Gareng dari Bluluk Tibo makin ngotot pula.

“Yang salah tetep rakyat!” Gareng tandas.

“Kenapa raja ngomongnya banyak Inggrisnya karena rakyat terlalu sibuk dengan sepakbola, terlalu sibuk memikirkan naturalisasi Gonzales, sampai mereka lupa belum menaturalisasi presidennya, eh, rajanya...”

Perbincangan siang ketiganya masih akan panjang seandainya istri Gareng, Dewi Sariwati tidak mengingatkan adanya panggilan raja tadi pagi. Ponokawan dipanggil ke istana kerajaan Wirata, negeri eyang para Pandawa.

***

Upacara persiapan berburu di Hutan Mandeki sedang dipersiapkan di kerajaan Wirata. Semua berlangsung atas perintah raja Basumurti kepada patih Jatikanda. Sang patih dibantu oleh para penggede kerajaan Wirata seperti Basuketi dan Basunanda sedang menyiapkan banyak sesaji termasuk menata pergelaran macapat serta tari-tarian. Ponokawan diminta terlibat dalam pembacaan macapat bertema mbebedag alias perburuan. Para pembaca, termasuk Gareng, Petruk dan Bagong duduk bersila, melingkar, membaca macapat secara bergilir.

Pas giliran Petruk yang membaca, semua celingukan. Petruk tiba-tiba tidak ada dalam lingkaran orang-orang bersila di atas tikar itu.

Ternyata Petruk diem-diem menghampiri seseorang yang dari tadi pagi duduk dekat gapura.

Kerjanya cuma memperhatikan para penari berlatih untuk pergelaran nanti malam.

O ya, Lelaki aneh itu berkacamata dan pakai wig.

***

Lakon pindah lokasi dari tempat macapat di atas tikar pandan tadi ke tangga marmer di bawah pohon kamboja dekat gapura.

“Sstttt...” kata lelaki itu ketika Petruk cengengas- cengenges menghampiri.

Petruk: Aduh aduuuuh kok kamu bisa ada di Wirata ini...kita kan juga pernah ketemu di Pulau Dewata waktu nonton bakso tenis?

“Sssssttttt....”

Petruk: Kok sat set sat set terus Mas..eh, Bang....

“Ssssttttt....”

Petruk: Jawab dulu ah...Kalau situ ndak mau jawab ...saya akan bengak-bengok di sini...saya akan bilang bahwa...

“Ah, dasar kau Truk, apa pula itu bengak-bengok

Bah... Gak ada yang istimewa kenapa aku bisa pergi ke sini nonton tari. Aku itu pecinta kebudayaan. Dengar ada tari-tarian, wah, bagus... ya aku minta supaya bisa pergi ke sini...”

Petruk: Segampang itu?

“Ah, bodoh kali kau. Kau pikir duit yang ada di aku itu cuma duit aku? Duit titipan banyak oranglah. Kalau aku tak boleh pergi, aku bongkarlah nama-nama mereka...Keder gak? Sudah sana..kau kembalilah ke ..apa itu...baca puisi pakai lagu-lagu itu...”

Petruk: Macapat...

“Yup...Macapat ...Sudah sana..kau kembalilah ke sana ...Aku mau nonton latihan tari-tarian ini ...Elok-elok penarinya...hmmm...”

Petruk tak kunjung balik ke lingkaran macapat.

Masih pringas-pringis. Duduknya malah semakin nempel ke lelaki berkacamata pakai wig itu. Lalu si Abang-abang ini membeselkan duit ke saku Petruk. Petruk alias Kantongbolong merasakan ketebalan fulus di kantongnya.

“Waduh, kuranglah Bang..Saya kan tidak sendirian Bang. Ada Bagong, ada Gareng,” bisiknya. Si Abang-abang kembali membeselkan duit. “Total Rp 300 juta. Bagi bertiga ya,” kata Si Abang. Baru bablas wes-ewes-eweslah si Petruk.

Sampai di lingkaran macapat, ternyata tema macapat sudah bebas, tidak cuma melulu soal perburuan seperti tadi. Gareng sedang membawakan macapat Pangkur...

Mingkar-mingkur ing angkoro..

 Akarono karenan mardi-siwi

(Pendidikan adalah satu-satunya tumpuan harapan untuk menyiapkan generasi yang sanggup menghadapi bahaya zaman)

Baru dua baris Gareng membawakan macapat klasik berjumlah tujuh baris itu. Pembacaan berikutnya terpotong-potong karena bisikan Petruk yang baru nompo duit Rp 300 juta. Malah tak jarang bisikan Petruk kebawabawa di dalam tembang Gareng. Peserta macapat thingak-thinguk..

“Sinaaaaawung reeeesminng kiiiiii....”

Petruk: Sssssttt, Kang Gareng, ini ada duit ... “Sinaaaaawung reeesmining Duuuuuit...”

Petruk: Duitnya dari laki-laki yang pakai wig di sana itu...

“Sinubo sinuuuuung Gaaaaayuuuuuuus....”

Petruk: Duitnya buat kita bertiga. Aku cuma dikasih Rp 3 ribu. Suruh dibagi rata. Pas. Adil.

Seribu-seribu ma Bagong...”

“Mriiiih ketarto pakartining sewuuuuu... sewuuuu....”

Hmmm...Macapat akhirnya dibubarkan karena Gareng semakin ngaco. Setelah malam hari usai pergelaran tari, upacara dilanjutkan di Hutan Mandeki, dipimpin oleh Kestu, Brahmana kerajaan. Raden Basuketi yang juga adik raja Prabu Basumurti turut pula dalam upacara itu. Salah satu bentuk upacara untuk keselamatan tuwa buru, pemburu, adalah menyantuni fakir miskin sekitar Hutan Mandeki.

***

Tersebutlah sosok manusia bernama Janaloka.

Dia penunggu pohon keramat yang dijuluki pohon Sriputa. Janaloka satu-satunya fakir yang tak mau menerima BLT, bantuan langsung tunai. Basuketi tersinggung. Ia menjadi manusia pertama yang berani tanpa ragu menebang pohon tersebut. Setelah pohon roboh, anehnya, keluar cahaya dari patahan batangnya.Kemilaunya menyusup masuk ke ubunubun Basuketi. Janaloka langsung sungkem, “Duh, Raden Basuketi, padukalah yang sesungguhnya pantas memimpin negeri ini.”

Ponokawan agak tertawa menguping ramalan Janaloka. Ternyata ramalan mungkin benar. Pada saat itu juga di istana Wirata, Prabu Basumurti sakit keras tak sanggup memimpin lagi.

Dalam pakem wayang, Prabu Basumurti langsung digantikan oleh yang walafi at, adiknya, Raden Basuketi. Pandita Kraton Brahmana Kestu berubah wujud menjadi flora Jamurdipa. Jamur memancarkan sinar, merasuk ke ubun-ubun Basuketi. Pertanda Prabu Basuketi semakin disengkuyung keprabuannya.

Tapi ini bukan wayang tenan. Ini wayang Durangpo.

Basuketi tetap tak mau menggantikan Prabu Basumurti. Ujarnya kepada Dewi Jatiswari, istri Prabu Basumurti, “Sakit total ndak papa.. Lha wong terdakwa di rumah tahanan saja bisa dilantik jadi wali kota kok.

Memimpin tempat yang jauh, Tomohon, dari rumah tahanan di Jakarta.”

Dalam wayang Durangpo, Brahmana Kestu yang moksa tidak berubah jadi pohon Jamurdipa, tapi jadi pohon cabai. Cahayanya tidak angslup ke dalam

Raden Basuketi. Cahaya itu hanya berbunyi: “Cabai yang pedes ini untuk mengingakan sedulur-sedulur. Hati-hatilah, jangan terkecoh berita-berita soal Gayus. Yang lebih penting sebenarnya mafi a pajak di sekeliling Gayus... siapa mereka...siapa saja...kenapa dilindungi...

Tanya ...Don’t stop bertanya..”

Nek ndak percoyo si pohon cabai ngomong gicu, tanya ke Bagong deh. #Eaaa... [sujiwotejo]