Menang tanpo Ngasorake alias 2-1 | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Menang tanpo Ngasorake alias 2-1 Reviewed by maztrie on 4:48 AM Rating: 4,5

Menang tanpo Ngasorake alias 2-1

Soal nglurug tanpo bolo... memperjuangkan cita-cita tanpa pengerahan massa... justru itulah yang patut kita renungkan bersama pada awal 2011. Kita sudah capek melihat dema-demo... Yang jelas, butir-butir kata-kata bijak di dalam wayang pasti bukanlah kata-kata kosong yang tak bisa kita terapkan.

*********

BAGONG biasanya selalu ngeyel. Kata yang paling sering digunakan untuk membantah atau menyanggah teman berbincangnya itu adalah ’’halah... halah... halah...’’ dan pokoknya ’’halah...’’

Ketika mendengar wejangan menang tanpo ngasorake, Bagong juga ngeyel. ’’Halah,’’ tukasnya,

’’Menang ya menang. Kalah ya kalah. Menang kok kalah. Menang ya nggak kalah. Kalah ya nggak menang... Ngarang kamu Reng... Reng...’’


Kalau Gareng lagi sabar, biasanya sulung ponokawan itu diam saja dibantah Bagong. Tak jarang Gareng malah sambil mesam-mesem. Yang kemudian bisa kasih penjelasan ke Bagong adalah kejadian-kejadian nyata. Biasanya suatu hari Gareng dengar-dengar kabar dari Petruk tentang peristiwa yang berhubungan dengan petuah Gareng. Misalnya, Indonesia menang 2-1 lawan Malaysia. Tapi, Indonesia tidak membikin Malaysia keok dalam turnamen bola AFF 2010 itu.

’’Itu lho Gong, bukaen maaatamu,’’ seru Gareng atas kemenangan Garuda di Dadaku... kemenangan yang namun tidak membuat sang macan menjadi kalah.

Petruk tak kurang terpingkal-pingkal dibanding Gareng. Melihat si bungsu ponokawan yang biasanya ngotot tersebut cuma diam saja, Petruk tak kalah kemekelen dibanding Gareng. Sayangnya, kegembiraan Gareng-Petruk tak berlangsung lama. Si bungsu dari Kampung Pucang Sewu kembali bertanya. Suami Dewi Bagnawati itu kembali ngotot.

’’Yo wis, aku mudeng saiki apa itu Kalah tanpo Ngasorake... Tapi, yok opo nek sugih tanpo bondo, nglurug tanpo bolo, digdoyo tanpo aji... (Kaya tanpa harta-benda, menyerang tanpa pasukan, sakti tanpa mantera)’’.

Soal yang terakhir, Gareng cepat tanggap. ’’Ada, Gong,’’ katanya, ’’Digdoyo tanpo aji itu ketika Prabu Puntadewa melawan Prabu Salya dalam Perang Baratayuda...’’

Petruk kasih tambahan penjelasan. Katanya, pemimpin Pandawa yang punya pusaka andalan Jamus Kalimasada itu semula menghadapi Prabu Salya dari Mandaraka dengan seluruh aji-ajinya.

Tergopoh-gopohlah penasihat Pandawa, Kresna. Titisan Wisnu itu kasih saran bahwa yang bisa menghadapi aji Candabirawa milik Prabu Salya justru penyerahan diri total. Saat itu, Puntadewa alias Yudistira menanggalkan seluruh manteranya.

Menang tanpo Ngasorake alias 2-1
Maka, miliaran raksasa bajang yang bermunculan dari aji Candabirawa milik Prabu Salya hanya dihadapinya dengan kepasrahan. Satu per satu raksasa tewas lantas semua lenyap dan turut lenyaplah sang penggembala raksasa bajang, Prabu Narasoma alias Salya.

Petruk dan Gareng merasa bangga bisa membuat Bagong sadar. Ponokawan dari Dusun Kembang Sore dan Bluluktibo tersebut hendak pulang ke kampung masing-masing, tapi kembali tertahan oleh teriakan si bungsu. Seru Bagong, ’’Halah itu kan cuma cerita dalam wayang... cuma katanyakatanya... cuma kabar-kabur... sekarang digdoyo tanpo aji apa ada kenyataannya...? Halah paling kalian cuma nggedebus... mbelgedes...’’

***

Mari sejenak kita tinggalkan Gareng, Petruk, dan Bagong.

Malam tahun baru kali ini saya beruntung. Secara tak sengaja, saya jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah di belahan timur Jakarta.Ternyata, di anjungan Jawa Timur ada pergelaran wayang jekdong atau dakdong, wayang kulit khas Jawa Timuran. Sudah lama saya tidak menyaksikan pertunjukan wayang yang berkembang di Surabaya dan sekitarnya itu malah sampai Pasuruan dan Probolinggo.

Pada 90-an pernah nonton di Menanggal, Surabaya.

Perangkat gamelan dan wayang diangkut pakai cikar sapi. Asyik juga. Selama pertunjukan berlangsung, terendus bau rumput dan kotoran hewan karena sapi diikat di dekat layar wayang. Lalu, setelah itu satu–dua kali menonton pertunjukan dalang wayang dakdong senior dari Pasuruan, Ki Sulaeman atau yang akrab dengan julukan Mbah Leman.

Kali ini, di anjungan Jawa Timur, dalangnya dari Sidoarjo, Ki Bambang Sugiyo. Dia serombongan berangkat dengan satu bus besar menampilkan lakon Semar sang Guru Maya. Ada pengrawit, ada pemain band, ada pelawak, dan empat pesinden. Pertunjukan semalam suntuk tahun baruan itu selesai hingga menjelang subuh. Lakon berakhir dengan terusirnya Batari Durga dari Dandang Mangore. Kedok Durga yang menyamar sebagai Kresna itu akhirnya terbuka sebagai penyamar. Lintang pukang, terbirit-birit dia meninggalkan mayapada.

Pasukan ’’Kresna’’ Begawan Durmolo juga terusir pada akhir pertunjukan itu. Wayang Begawan Durmolo mirip dewa pencabut nyawa versi wayang Surakarta, Yamadipati. Semula, anakanak Bima yang sakti-sakti seperti Gatutkaca,

Antareja, dan Antasena telah berusaha mengusir Begawan Durmolo. Namun, ketiganya babak belur. Seperti biasa, saat tiga anak Bima telah keteteran melawan musuh, turunlah Wisanggeni, anak Arjuna. Pemuda dari Argo Dahono di Kahyangan itu mengatur siasat.

Oleh Wisanggeni, tokoh mirip Kresna tersebut tidak boleh dihadapi tiga anak Bima, bahkan termasuk Anoman. Wisanggeni meminta bantuan seorang pertapa. Pertapa berperang melawan Kresna. Si pertapa badar menjadi wujud aslinya, Kresna. Sebaliknya, si tampak Kresna badar menjadi rupa aslinya, Batari Durga.

Semar yang telah berubah menjadi Sang Guru Maya, dengan salah satu cantriknya adalah Anoman, berhasil membuat Begawan Durmolo badar menjadi sosok aslinya, Batara Guru, penguasa kahyangan yang sekaligus suami Batari Durga.

***

Kenapa kok Batara Guru dan Batari Durga ingin mengganggu padepokan Semar selaku Sang Guru Maya? Saya tidak terlalu jelas memahami motivasi dua dewa tersebut. Mungkin karena wejanganwejangan Semar dianggap bakal bisa membuat masyarakat tergugah. Kalau seluruh rakyat tergugah, ya gegerlah kahyangan Suralaya...

Apa ajaran Semar yang kira-kira bakal membuat masyarakat tergugah? Ya saya tidak tahu. Wong saya datangnya telat ke pementasan Ki Bambang Sugiyo.

Saya datang, adegan sudah Limbukan dan campursari.

Waktunya mendekati pergantian tahun.

’’Halah ya sudah diawur saja, Pak Dalang,’’ kata Bagong. ’’Ini kan wayang Durangpo... wayang ngawur-ngawuran. Cuma pengisi waktu senggang di hari Minggu...’’

Baiklah kalau begitu, dengan mohon izin kepada Gareng dan Petruk, saya akan ngawur saja... salah luputnya minta maaf kepada Ki Bambang Sugiyo.

Yang diajarkan Semar tak lain adalah Menang tanpo Ngasorake, Nglurug tanpo Bolo, Digdoyo tanpo Aji, Sugih tanpo Bondo... Menang tanpo ngasorake sudah diawali di Gelora Bung Karno di pengujung tahun. Firman Rutina dan kawan-kawan menang 2-1 atas Malaysia, tapi Malaysia tidak kalah. Itulah senyatanya contoh menang tanpo ngasorake.

Bagong belum puas dengan contoh Puntadewa- Prabu Salya karena kasus itu terjadi di alam maya, dunia wayang, bukan dunia nyata. Tapi, setidaknya banyak perkara nyata sebelumnya tentang digdoyo tanpo aji. Kasus Bibit-Chandra dan kasus Prita adalah contohnya. Mereka bisa dibilang tidak melakukan perlawanan apa-apa, tapi tanpa dinyana mendapat dukungan dari masyarakat luas.

’’Sugih tanpo bondo?’’ tanya Bagong.

Lho, Bagong, awakmu apa ndak melihat begitu banyak orang yang usahanya bangkit tanpa modal sepeser pun. Modalnya cuma kemauan dan jaringan pertemanan. Lantas, beberapa kawannya bahumembahu dengan modal duit, tenaga, dan pikiran.

’’Halah mbelgedes... hmmm nglurug tanpo bolo?’’

Bagong kembali bertanya...

Soal nglurug tanpo bolo... memperjuangkan cita-cita tanpa pengerahan massa... justru itulah yang patut kita renungkan bersama pada awal 2011. Kita sudah capek melihat dema-demo...

Yang jelas, butir-butir kata-kata bijak di dalam wayang pasti bukanlah kata-kata kosong yang tak bisa kita terapkan. [sujiwotejo]