Subali, Batman Tanah Nusantara | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Subali, Batman Tanah Nusantara Reviewed by maztrie on 5:04 AM Rating: 4,5

Subali, Batman Tanah Nusantara

WIS pirang tahun Putri Mantili Sang Dewi Sinta ada nduk negeri raksasa Alengka?  Ya embuh. Waktu kan mulur-mungkret. Relatif kalau menurut teori relativitas ’’Batara’’ Einstein.

Bu Ayin alias Arthalyta rasanya ya ce’ singkatnya dihukum. Tapi siapa tahu sebenarnya beliau sudah berabad-abad mendekam di pesanggrahan prodeo. Soal waktu alias kala kan cuma soal rongo pangroso.

Begitu juga Dewi Sinta, istri raja Ayodya Prabu Ramawijaya. Sopo sing bisa ngukur sudah berapa tahun dia thenguk-thenguk di Taman Argasoka. Atau, baru berapa jam sejatinya titisan Dewi Widowati itu manjing di taman terindah di dunia, taman nan lebih indah dibanding Taman Sriwedari zamannya Prabu Arjuna Sasrabahu.
           Yang jelas, saat itu Sinta kaget pol kepergok kepala suaminya, Rama, dan kepala adik iparnya, Leksmana, sudah dicengkiwing oleh Raksasa Wararodra. Kedua potongan mayat manusia itu masih tes tes berdarah-darah, dipersembahkan sebagai tanda keberhasilan tugas bawahan kepada sang raja Dasamuka alias Rahwana. Kalau tidak dihalang-halangi Trijata, keponakan Rahwana, Dewi Sinta pasti sudah tewas bunuh diri. Trijata si putri Gunawan Wibisono memang dikasih tugas khusus oleh si Pak De, Dasamuka.

Tugasnya untuk menjaga keselamatan Sinta.Tugas yang semula disangga sebagai kewajiban itu lama-lama tumbuh, berkembang, berubah menjadi panggilan atas dorongan cinta.

Ya, nek gak gara-gara Trijata yang kelak bersuamikan Hanuman, apa yang terjadi? Trijata menahan pusaka cundrik di muka perut Sinta.

Kalau ndak, tamatlah sampai di situ kisah asmara Ramayana. Rajuk dan bujuk Trijata sembari sesenggukan, ’’Duh Gustiku Dewi Sinta, belum tentu penggalan kepala itu betul-betul mustakanya sinuwun Prabu Rama dari Ayodya... belum tentu... belum tentu...’’

Maksud Trijata, bisa saja Rahwana sedang berbohong dengan pancungan kepala-kepala itu, ngapusi Sinta dan seluruh rakyat. Apakah itu termasuk Sembilan Kebohongan Kerajaan Alengka?

***

Subali, Batman Tanah Nusantara
’’Kamu mau ke mana, Kang Bagong,’’ kata sang istri, Dewi Bagnawati. ’’Nek mau ke anaknya yang jualan rujak cingur ya sana... emplok-emploken...

Yang penting jujur, Kang. Negara boleh punya Sembilan Kebohongan ke aku... Tapi jangan suamiku ikut-ikutan mblenjani aku...’’

’’Aku mau main kartu, Dik…’’

’’Kok seneng main kartu, Kang?’’ ternyata jawaban ndak bohong malah membuat Bagnawati setengah protes.

’’Lho, lha wong negara kita saja NKRI. Masa ndak ngrasa, Negara Kartu Republik Indonesia...’’

Dewi Bagnawati mengernyit keningnya, jadi tambah manis, apalagi kening itu tersapu angin semilir dari sesawahan.

Di dusun itu, Pucang Sewu, istri Bagong alias Bawor tak protes ketika kepanjangan NKRI diplesetkan Bagong. Lain halnya ketika Bagong sudah sampai di dukuh Gareng, Bluluk Tibo.

’’Cangkemmu, Gong. Jangan sembarangan. NKRI itu Negara Kesatuan Republik Indonesia,’’ kata sulung ponokawan Gareng. Maklum, seperti biasa, Gareng suka berpikir hati-hati.

’’Lha tapi kenyataannya kan kita ini memang Negara Kartu Republik Indonesia to,’’ sanggah Bagong. ’’Semua penggede sama-sama punya kartu truf. Kartu As. Jadinya sama-sama takut.’’ Petruk terperangah. Terhenti dari lamunannya menerawang balapan merpati ke masing-masing pasangan (andokan doro).

’’Cuoooocok,’’ timpal Petruk. Tumben-tumbennya ia tertarik ngrembuk negara. ’’Cocok. Setiap orang penting saling memegang kartu truf. Cocok. Lha Mas Gayus yang jadi buah bibir kita semua sebenarnya cuma joker...’’

Gareng memerah kupingnya. ’’Truk,’’ tukasnya,

’’Kok dingaren kamu ikut-ikutan mau ngeciprissoal negara... Biasanya kamu cuma mesam-mesem nonton andokan doro ...?’’

Petruk garuk-garuk, ’’Karena udah ndak tahan, Kang Gareng... hehehehe...’’

Lho? Ndak tahan?

Iya. Kenapa Petruk sudah mana tahan, karena menurutnya soal pengembalian Sinta dari Alengka ke Ayodya bisa dipercepat andai Prabu Ramawijaya mau segera datang menjemput Sinta. Tapi Prabu Rama ragu-ragu terus. Petruk merasa, banyak hal rahasia dari Rama yang dijadikan kartu As atau kartu truf si Dasamuka.

Misalnya, dulu waktu sayembara putri Mantili untuk memboyong Sinta sebagai istri, sebenarnya Rama curang lho. Asli. Ia sanggup mengangkat busur panah dan anak panah Prabu Arjuna bukan lantaran usaha sendiri. Ia dibantu! Dibantu siapa? Ya itulah, oleh kekuatan lain yang lebih sakti dibanding kekuatan Paman Sam, yaitu kekuatan Wisnu.

Itu baru salah satu contoh kartu truf yang digenggam Dasamuka. Belum yang lain-lain.

Sebaliknya, seperti kerap didengar oleh Gareng, sejatinya Prabu Ramawijaya juga punya banyak wadi-wadi Rahwana. Antara lain, sebenarnya Rahwana itu bermuka sepuluh. Pertapaannya yang tekun di Gunung Gohkarno saja yang membuatnya jadi tampak berkepala satu. Jadi, sebagai politisi yang kaya-raya, Rahwana bukan cuma bermuka dua. Kepalanya sepuluh!

’’Itulah negara kartu...,’’ tandas Petruk berulang kali.

’’Jadi yang kasat mata sekarang ini baru joker ya, Truk,’’ Gareng yang tadi telinganya memerah kini mulai sareh...

***

Lain joker, lain joki. Joker, mungkin, misalnya ya Gayus. Joki kira-kira orang yang menggantikan orang lain. Ada joki ujian masuk pegawai negeri.

Onok joki ujian masuk perguruan tinggi. Di Jakarta ada juga joki three in one. Dengan merebaknya lapangan kerja joki three in one, mobil yang penumpangnya kurang tiga orang bisa lengkap menjadi tiga orang. Kini ditemukan lagi joki jenis baru, yaitu joki di rumah tahanan atau penjara.

Ssssttt.... ternyata, Sinta yang ditahan di Alengka, Sinta yang akan bunuh diri tadi bukan Sinta yang sebenarnya. Perempuan itu cuma joki yang kebetulan pinter akting. Raksasa Wararodra yang membawa penggalan kepala Ramawijaya sebenarnya tahu perempuan itu Sinta joki.

Wararodra cuma gak berani matur ke Rahwana karena Sinta joki mempunyai kartu truf Wararodra.

Kartu truf-nya, penggalan kepala Rama itu bukan kepala Rama asli. Itu kepala seorang prajurit negeri jajahan Alengka yang sudah bosen hidup. Ia bersedia mati jadi joki kepala asal kelak keluarganya dicukupi kebutuhan hidupnya sampai tujuh turunan. Trijata sendiri tahu bahwa perem puan manca yang dijaganya kini sesungguhnya bukan Sinta asli. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau Trijata membongkar kedok itu, Sinta joki akan mengungkap hubungan rahasia Trijata dengan pihak musuh... Hanuman. Hayo!

Ah ruwet... ruwet... ruwet...

***

NKRI sendiri, Negara Kartu Republik Indonesia... tidak separah itu. Masih ada harapan.

Yang penting kepala dingin dan segar. Dengan aji pamelingan dan panglimunan yang diajarkan oleh bos Arjuna, ponokawan sanggup menembus waktu.

Kolam renang mewah gedung baru DPR belum selesai dibangun. Tapi dengan kedua aji ngedapedapi itu mereka sudah bisa mandi di kolam renang gedung baru DPR, dekat rollercoaster dan prosotan yang juga ada di halaman gedung baru DPR.

Setelah berenang-renang mereka punya gagasan segar. Persoalan Alengka dan Ayodya tak bisa lagi diserahkan pada kedua pihak. Masingmasing sudah saling memegang kartu truf.

Bahkan Gunawan Wibisana, ayah Trijata, menyeberang ke pihak Ramawijaya tak seperti di wayang pakem. Sang Begawan itu tidak total mendukung Ramawijaya. Sang Begawan malah menjadi agen ganda bermuka dua, persis seperti kecurigaan Panglima Kera bala Ramawijaya, Prabu Sugriwa.

’’Kita harus pakai Batman. Jangan Anggodo. Jangan Hanuman...’’ Tiba-tiba Bagong memecah keheningan di tepi kolam renang gedung baru DPR. ’’Eling-elinglah film Batman. Yang bisa menghadapi Joker cuma Batman...’’

Hmmmm... Lalu siapa tokoh kelelawar, tokoh kalong dalam pewayangan. Pikir punya pikir ternyata Resi Subali. Dia satu-satunya yang bertapa seperti kelelawar. Ia menggantung tubuh terbalik dengan kepala di bawah. Berwindu-windu.

Besok Senin para ponokawan akan menemui Resi Subali. [sujiwotejo]