Yudistira Naik-Naik ke Puncak Gaji | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Yudistira Naik-Naik ke Puncak Gaji Reviewed by maztrie on 5:11 AM Rating: 4,5

Yudistira Naik-Naik ke Puncak Gaji

KATANYA yang ndak pernah salah cuma malaikat. Manusia ndak gitu. Lha terus salahnya Prabu Yudistira apa? Mungkin cuma satu. Beliau ndak pernah guyon.

Coba nduk lakon apa Yudisitira alias Puntadewa pernah mbanyol?

Nduk cerita apa, bab apa, halaman piro mbarep Pandawa yang amat pendiam dan gentur bertapa itu pernah senyam-senyum apalagi sampai kepingkel-pingkel?

Penasihat Puntadewa, Sri Batara Kresna, kadang masih cekikikan bahkan dalam situasi genting. Wong menghadapi marabahaya Batara Kala dan Batari Durga saja yang bersangkutan masih cekikikan, kok. Adiknya, Bima, juga sering lucu. Berkat kepolosan Bima, Kresna yang cerdik dan pintar itu malah kerap glagepan.
Berkat keluguannya, seringnya Bima malah tak sengaja nuturi Kresna soal-soal ketuhanan. Adiknya lagi, Arjuna, juga sekali- sekali masih membuat tawa penonton. Ini biasanya kalau Arjuna sudah mulai merah padam mukanya karena digoda Kresna soal kekasih gelapnya, Banuwati.

Ya, semua tokoh dalam wayang ada jenaka-jenakanya. Tapi sungguh aneh kalau penonton bisa tertawa melihat Yudistira. Aneh jika penonton sanggup terbahak-bahak menyaksikan sosok yang selalu serius dan hampir tak pernah berbohong itu. Sama anehnya jika penonton tibatiba serius, hening, bertopang dagu sambil manggut-manggut dan percaya bulat-bulat ketika menyi mak penjelasan ponokawan Bagong soal siapa sebenarnya Pak Antasari, Pak Susno, Mas Gayus, Pak Sjahril Djohan dan lain-lain.

Kalau sampek ada Yudistira alias si Ajatasatru melawak dalam pakeliran wayang, apalagi berhasil membikin penonton sampek cekakakan, patut diduga yang gendeng dalangnya.

Atau mungkin dalangnya belum sarapan. Orang belum sarapan cenderung jadi demonstran anarkis. Kalau ndak, biasanya dia jadi dalang yang ngaco. Entah dalang kerusuhan entah dalang beneran.

Nah dari sinilah cerita bermula.

***

Yudistira Naik-Naik ke Puncak Gaji
Malam itu di dukuh Pucang Sewu, dukuhnya ponokawan Bagong, ada pergelaran wayang yang mungkin dalangnya juga belum sarapan.

Wayangnya campuran antara wayang orang dan wayang kulit. Ndagellah Prabu Puntadewa dalam adegan atau jejer pertama kaum Pandawa.

“Sudah sapta warsa, yaitu selama sewindu kurang setahun, gaji saya selaku raja di Amerta ndak naik-naik,” kata Yudistira alias Darmaputra.

Itulah kesalahan Yudistira. Maksud hati sih melucu. Tapi karena Yudisitira tidak pernah bercanda, hampir seluruh penonton di se luas tiga kalian lapangan voli itu menanggapinya serius. Mereka berkasak-kusuk dengan sebelah- sebelahnya. “Kasihan betul, wis pitung tahun gaji sang raja tidak pernah dinaikkan,” kata seseorang. Yang lain menyahut, “Masa’ gaji seorang raja tidak sampai Rp 100 juta per bulan. Kalah sama pengusaha besi tua dari Madura...”

Seorang tukang sate asal Madura setengah berteriak, “Wah, tepak. Ini baru pemimpin, Dik, berani bilang gajinya kurang...Tandanya Prabu Puntadewa itu jujur...tidak munafi k...”. Tukang sate itu penggemar wayang. Pak Kumis itu selalu buka dagangan sembari nonton setiap ada pergelaran wayang purwa. Tapi, seumur-umur nonton wayang belum pernah ia mendengar Prabu Ajatasatru mengeluh gajinya kurang.

“Cocok, Kang Matrawi,” Petruk yang kebetulan membeli sate ikut nimbrung. “Mestinya seluruh pemimpin gak usah malu-malu ngomong soal gajinya. Kalau kurang bilang.

Nanti rakyat yang nambahin. Yang penting kerjanya jegos. Tukang las minta tambah duit saja kita rela kok, ya. Asal kerjanya cekat-ceket, rapi dan cepat. Kita malah seneng. Lha timbang pemimpinnya munafi k, bilangnya mengabdi demi negara...Halah hehe huhu hihi haha... ujung-ujungnya ya nglirik duit juga..”

“Lho, Dik Petruk,” potong Matrawi pedagang sate,  “Sampeyan gak cepat-cepat ke panggung ta?”

“Nanti saja, Pak Kumis. Pas goro-goro. Tengah malem. Mustinya saya sudah keluar di jejer pertama ini.. Saya mestinya duduk di ... tuh di belakang Prabu Puntadewa hehe ... Tapi halah..buat apa Kang Matrawi, ...wong bayaran saya itu sudah tujuh tahun juga ndak naik-naik kok Kang.”

“Beh, sama Dik. Saya jualan sate sudah tujuh tahun ndak naik-naik harganya, padahal harga ayam dan bumbu-bumbu sudah naik semua, tapi saya ndak berani ngomong kayak Prabu Puntadewa. Makanya saya angkat topi...”

***

Bintang-bintang bertaburan di langit dukuh Pucang Sewu itu. Sesekali angin semilir dari gunung di utara seperti turut menyongsong Tahun Kelinci.

Bukan cuma ponokawan Petruk yang mestinya s u d a h muncul dalam jejer pertama. Gareng dan Bagong pun seperti itu. Seharusnya keduanya sudah berada di adegan pendopo kraton Amerta itu. Namun keduanya mangkir. Keduanya memilih kongkow- kongkow di angkringan rawon sebelah kanan panggung. Sedang asyik-asyiknya menyeruput kuah, keduanya terhenti. Mereka kaget pada reaksi penonton soal ndak naiknaiknya gaji Prabu Yudistira.

“Sudahlah Kang Gareng, nggak usah kaget,” ujar Bagong. “Wong Prabu Puntadewa itu maksudnya guyon kok dimasukkan hati...Asli itu guyon. Kan Kang Gareng sering bilang, kita harus ... hmm.. apa itu, objektif. Serius dibilang serius. Guyon dibilang guyon. Kan beliau bilang gini, gaji angkatan udara pimpinan Raden Gatutkaca naik, gaji angkatan laut pimpinan Antasena naik, gaji angkatan dalam bumi pimpinan Antareja naik, tapi gaji saya sendiri ndak naik-naik ...Itu pun disabdakan sambil mesem-mesem...”

Ya, benar. Gareng memang melihat Prabu Puntadewa pringas-pringis. Jelas kok. Toh sang prabu tidak menutupi bibirnya dengan masker. Maklum, dukuh tempat Bagong tinggal itu memang jauh dari debu vulkanik Gunung Bromo.

“Masio beliau pringas-pringis tapi menurutku ini serius, Gong,” Gareng ngotot sambil menyedot gajih putih kekuning-kuningan yang mengambang di kuah rawon. “Lihat..Lihat... Prabu Duryudana kan katon gemuk. Berarti banyak gajih-nya. Berarti sebenarnya gajinya sudah banyak. Kan makin banyak gaji makin banyak gajih? Makanannya kan enak-enak? Gaji dan gajih tuh kompak lho.”

Bagong plonga-plongo..

“Justru itu...Justru itu...” timpal si kumis Pak Matrawi yang kebetulan lewat di angkringan rawon. Petruk ngintil di belakangnya. Sambung Petruk, “Justru karena gajih-nya banyak maka gajinya juga harus besar untuk membayar operasi sedot lemak...”

Eiiit eeiiit eiiit.... sebentar, sebelum kedlarung-dlarung ngomong soal gajih atau lemak yang biasanya kemampul di kuah rawon, sebenarnya ulah siapa kok dalam pentas campuran wayang orang dan wayang kulit ini Puntadewanya agak-agak gemuk, ginuk-ginuk dan gluyur-gluyur?

Telusur punya telusur ternyata wayang kulit Puntadewa berasal dari pedagang wayang kardus. Dia ini salah satu yang biasanya turut menyemarakkan pasar kaget berlampu petromak dalam pentas-pentas wayang semalam suntuk.

***

“Begini lho ceritanya,” tutur pedagang wayang kardus. “Tadi Pak Dalang lupa bawa wayang Puntadewa. Dia tanya, apa punya wayang Puntadewa. Wah, saya ndak punya. Saya spesialis jualan wayang Dursasana. Lho, saya ini jelek-jelek gini kan spesialis...Masa cuma dokter saja yang spesialis. Lihat, semuanya ndak ada yang ndak Dursasana kan.

Semua ini ya satriya Banjarjunut itu. Dursasana dalam berbagai wondo (gaya) tertawa. Semuanya gede dan gemuk.”

Tukang kardus itu akhirnya memoles salah satu wayang menjadi berwajah Puntadewa namun badannya masih segede dan segemuk Dursasana.

“Harusnya Prabu Puntadewa kurus. Baru beliau pantas minta naik gaji,” kata Gareng. “Hmmm... Kok Prabu Puntadewa jadi begini ya... Siapa sih dalangnya...?”

Baru sadar, ternyata tidak ada satu pun warga dukuh Pucang Sewu yang mengenal dalang malam itu. Jangan-jangan dia UFO dari luar angkasa. Besok paginya penduduk berkerumun bukan mau menyaksikan vonis perkara Ariel. Mereka ternganga melihat sawah belakang rumah Bagong...Ada jejak-jejak pendaratan piring terbang seluas 1 hektare seperti motif batik parang kusumo.

Hebat juga ya UFO ...

“Ah kami para perempuan lebih hebat,” ujar Dewi Bagnawati, istri Bagong. “UFO cuma bisa naik piring terbang, kami perempuan menyebabkan piring-piring beterbangan...”

Kalau gaji suami ndak naik-naik?

“Bukan soal itu. Tapi kalau para suami sudah ndak bisa dipercaya...” [sujiwotejo]