Ilmu Tertinggi ke Negeri Pancala | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Ilmu Tertinggi ke Negeri Pancala Reviewed by maztrie on 7:19 AM Rating: 4,5

Ilmu Tertinggi ke Negeri Pancala

Dulu bentuk atau aliran mereka pakai yang ada pemilihan dan contreng-contrengannya itu lho...Hmmm...apa namanya...hmmm...

’’Halah...Demokrasi. Masa’ gitu aja kamu ndak tahu,” sahut ponokawan Bagong. ’’Nyebut satu kata saja kok takutnya kayak njawil ormas yang suka pakai kekerasan… Demokrasi!’’

Ya, demokrasi..
Demokrasi di Pancala lalu banyak bikin re pot. Ngewuhno bokong dikukur. Digaruk sakit, ndak digaruk gatal. Persis di Surabaya.

Ada wali kota yang dipilih oleh para wakil rakyat. Mereka suka-suka pilih dan pilah sendiri. Maka terpilihlah ibu-ibu itu. Eh, di tengah jalan. Bu Walkot malah mau diturunkan oleh tokoh-tokoh yang dulu lahir-batin mendukungnya. Kok iso yo?

’’Itulah manusia. Suka berubah-ubah,’’ pono kawan Gareng tampil membela. ’’Dulu kan Sunan Kalijaga juga bukan wali. Dia begal di tengah hutan. Brandal Lokajaya. Kerjanya morotin mas picis rojobrono orang-orang yang lewat belantara itu. ...Ingat kan?”

Oke. Wajar. Manusia bisa berubah. Ah, tapi rakyat Pancala nggak mau peduli. Gerakan massa di Albania, Tunisia, dan tari perut di Mesir ngasih wangsit buat mereka. Para kawula berduyun-duyun entah sampai berapa juta orang sambil nari perut menduduki parlemen negeri Pancala. Para pengusaha mendukung gerakan itu dengan menyumbang nasi bungkus dan obat-obatan, juga tenda. Ibu-ibu yang suka tarik suara di karaoke tampil menghibur di tenda-tenda demonstran. Tumbanglah tak sampai tujuh hari tujuh malam demokrasi di Pancala. Bentuk negara menjadi kerajaan. Rajanya Prabu Drupada dari daerah Atasangin.


***
Amerika dan banyak negara lain sebenarnya ndak sreg kalau masih ada bentuk kerajaan di Nusantara. Mungkin mereka takut ndak bisa ngacak-acak negara kerajaan. Dengan demokrasi, mungkin mereka bisa membayar orang-orang parlemen dan siapa saja untuk membikin peraturan-peraturan yang menguntungkan mereka.

’’Ah, itu cuma gosip,’’ ponokawan Petruk menyela.

’’Bentuk kerajaan juga bisa disogok kok.

Dengan bentuk kerajaan, orang-orang bule itu tetap bisa membeli raja-raja kok. Hehehe... kayak kamu belum pernah baca sejarah Mataram saja..’’

Makanya, menurut Petruk yang tentu cukup ngawur pendapatnya, Amerika dan negaranegara lain membiarkan Pancala menentukan bentuknya sendiri. Mau pemimpinnya dipilih atau ditetapkan monggo. Mau tata prajanya disebut Daerah Istimewa atau Daerah Khusus monggo.
Untungnya raja Pancala, Prabu Drupada tidak bisa dibeli oleh siapa pun. Raja yang aslinya bernama Sucitra ini menjadi raja muda yang tampil tegas. Misalnya, menurut Drupada, kalau ada yang disuap, berarti ada yang menyuap.

Sikat penyuapnya juga. ’’Masa’ ada yang makan tempe bacem tapi ndak ada yang bikin tempe bacem,’’ tandasnya kepada para hulubalang.
Ponokawan perempuan, Limbuk, bertanya- tanya, ’’Mengapa banyak anggota DPR didakwa menerima suap cek lawatan, tetapi penyuapnya tidak ada...?’’

’’O ala tobil Nduuuuk, Nduk,” kata emaknya,

Cangik. ’’Goblok kok ndak tamat-tamat. Jawabannya gampang. Mengapa penyuapnya ndak diborgol-borgol ya karena mereka bukan negara Pancala...Kalau itu terjadi di sini...
hmmm... Pasti Prabu Drupada sudah ngamuk duko yayah sinipi jojo bang mawingo- wingo bertitah agar penyuapnya segera dijebloskan ke bui...”

Seluruh rakyat termasuk abdi dalem, memang sudah tak asing lagi dengan karakter Prabu Drupada alias Prabu Yajnasesa. Karena pemimpin tegas, maka aparat keamanan yang kalau sekarang disebut polisi akan tegas juga.

Meneladani ketegasan puncak pemimpin, mereka tidak akan takut-takut menghala ngi massa yang mengamuk membawa parang dan golok untuk membunuh sesama warga yang berbeda keyakinan dalam beragama


***
Tapi setiap orang pasti punya cacat. Keharuman nama Drupada karena ketegasannya ternyata luntur oleh satu hal. Sebagai raja yang sedang naik pamornya, ia merasa risi merangkul orang berpakaian compang- camping yang mak jlek sudah masuk keraton, lolos dari penjagaan Paspamja, Pasukan Pengamanan Raja...
Sejak muncul, orang yang mirip bambungan itu terus menerus berseru ’’Kakang Sucitroooo... Kakang Sucitroooo...,’’ Ia tak menyebut Drupada, apalagi menyebut gelar Prabunya.... Seluruh punggawa kerajaan yang hadir di paseban bertanya-tanya dalam hati.

’’Kurang ajar sekali orang ini,’’ batin mereka menahan marah karena yang bersangkutan sudah telanjur masuk.

Sebenarnya, ketika gelandangan itu sudah berjarak sedepa dari singgasana, tumbuh rasa haru sang Drupada. Sejak ia muncul di pintu, Drupada sudah ingat bahwa tamu tak diundang ini adalah Bambang Kumbayana. Dulu keduanya sesama murid Resi Baratwaja di pertapaan Argajembangan. Prabu Drupada menjelang beranjak dari singgasana, tapi Patih Gandamana yang terkenal sakti langsung menjambak rambut Bambang Kumbayana, menyeretnya ke alun-alun.

’’Kamu boleh sakti dan bangga bisa lolos dari pasukan pengamanan raja,’’ ujar Gandamana.

’’Tapi tangeh lamun kamu bisa kuat menan dingi aku...,’’ Berkata-kata seperti itu, Gandamana sambil menghajar Kumbayana di antara beringin kembar alun-alun. Tak heran, karena Gandamana memiliki aji yang sangat sakti yaitu aji Wungkal Bener dan aji Ban dung Bandawasa.

Remuklah Bambang Kumbayana menjadi penuh cacat. Orang kemudian mengenalnya sebagai Durna.


***
Durna kemudian terdampar di negeri Astina, dan menjadi mahaguru di padepokan Sokalima. Murid-muridnya keturunan Bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa.

’’Dulu aku ngganteng,’’ kata Durna di depan para murid menjelang tamat masa belajar formal di padepokannya. Tampak Puntadewa dan Duryudana beserta saudara-saudaranya yang dulu masih kecil-kecil ketika bertemu Durna kini sudah beranjak dewasa. Di depan para siswa yang telah menginjak usia pernikahan itu Durna membuka rahasia mengapa badannya sampai babak-belur penuh cacat seperti saat ini.

’’Jadi, murid-muridku sekalian, sudah cetho malelo ngeglo welo-welo ini semua gara-gara Prabu Drupada dan Raden Gandamana di Pancala alias Negeri Cempalaradya…,’’

’’Kalau begitu, Guru, izinkan kami para Kurawa membalaskan dendam Guru ke orang-orang bejat di Cempalaradya itu!’’ kata Duryudana, sulung Kurawa.

’’Hmmm...Loleeee...lolee emprit gantil buntute omah joglo...Sabar Duryudana. Ini bukan soal dendam. Ini cuma masalah ujian.

Adakah pendidikan yang berakhir tanpa ujian?

Coba lihat sekarang anak-anak kelas tiga SMP, SMU semuanya sedang bersiap-siap menghadapi ujian... Kalian juga seperti itu.

Ujiannya adalah... tangkap hidup-hidup ... bawa Prabu Drupada dan Raden Gandamana ke Padepokan Sokalima, ke hadapanku..!’’

Duryudana sudah langsung mau berangkat, namun dihalang-halangi oleh adikadiknya.
Menurut mereka sebaiknya Guru Dorna memberi tambahan ilmu lagi mengingat betapa saktinya Prabu Drupada dan Raden Gandamana. Kalau cuma menerabas para prajurit dan peng awal, ah itu sudah cukup dengan ilmu yang telah mereka dapat selama ini. Tapi bagaimana dengan Raden Gandamana? Bagaimana dengan Prabu Yajnasesa yang lebih sakti dibanding Gandamana? Perlu ilmu tambahan.

’’Ilmu apa ya bonusnya...,’’ tanya Petruk kepada Gareng. ’’Apa ilmu untuk menghidupkan kembali ayam tukung (ayam panggang yang sudah hilang brutunya)

 ...? Atau menghidupkan kembali ikan gurame yang sudah tinggal tulang karena abis kita makan dagingnya?’’
“Hush Ngawur kamu Truk. Ini wayang. Bukan zamannya Walisongo...itu kan kesaktian Sunan Kalijaga...,”
Bagong ikutan tanya, ’’Kang, Gareng, Raden Gandamana itu kan sakti mandraguna. Ilmu ini saja...ilmu yang kalau dicakkan, sopo wae akan gemetar sampai kita mengampuni orang itu...,’’

’’Hehe..Itu juga zaman wali...Itu kan kedigdayaan Sunan Ampel. Waktu Lembupeteng dari Madura akan membunuhnya dari belakang, ujug-ujug Lembupeteng dengkulnya mau copot saking gemetarnya... Ini bukan zaman wali... ini wayang!’’


***
Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong tidak tahu, ilmu-ilmu apa saja yang ditambahkan oleh Durna sebelum menguji para muridnya untuk menangkap teman lamanya Prabu Drupada beserta patih Pancala Raden Gandamana. Kelihatannya seluruh bekal ilmu tak ada yang bisa dipakai. Mubazir. Sia-sia.
Berbagai kuda-kuda dan jurus dengan mudah dipatahkan oleh Gandamana. Usai pertempuran tak seimbang di alun-alun, Puntadewa si sulung Pandawa me ne mui Prabu Drupada.

Gareng mengintip.

Puntadewa mengatakan bahwa semua ini bukan soal dendam. Semua ini terjadi ha nya demi ujian. ’’Prabu Drupada, kami semua sudah menuntut ilmu. Lalu Guru Durna ingin menguji kami. Guru Durna mengakui, Raden Gandamana tidak bersalah telah menghajarnya.

Menurut Guru Durna, Gandamana benar karena ingin menjaga kewibawaan Paduka. Beliau pun sadar, sejatinya waktu itu Paduka Drupada sudah ingin beranjak turun singgasana merangkul Durna...,’’

Prabu Drupada tertunduk. Ayah Srikandi ini menangis. Ia memanggil Raden Gandamana untuk menyerah. Kedua tokoh penting itu lantas digiring menuju Sokalima.

’’Tak ada dendam. Mungkin itulah ilmu tambahan. Mungkin itulah puncak ilmu dari Pandita Durna ke para Pandawa...,’’ batin Gareng.