Kedatangan Mahaguru di Sokalima | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Kedatangan Mahaguru di Sokalima Reviewed by maztrie on 7:35 AM Rating: 4,5

Kedatangan Mahaguru di Sokalima

TAK begitu jelas apa yang ada di dalam cupu. Entah rahasia soal Century. Entah rahasia soal perpajakan. Entah pula apa rahasia soal cek lawatan para wakil rakyat. Tapi banyak banget yang berebutan cupu berbentuk bundar itu.

Sepintas kalau dilihat dari kejauhan seperti pertandingan bola. Malah menurut ponokawan Gareng, kayak kompetisi antara LSI dari kubu PSSI dan LPI dari kubu Pak Arifin Panigoro. “Bukan, ah, “ kata Bagong. Itu kan perebutan antara putra-putra Pandawa dan Kurawa.

      Memang betul. Di lapangan luas itu yang berebut bola adalah Puntadewa bersama adik-adiknya dan Duryudana bersama adikadiknya juga. Dursasana yang tinggi besar dari pihak Kurawa seringkali unggul menggiring bola seperti rata-rata para pemain Manchester United. Pontang-panting para anggota Pandawa yang kecil-kecil seperti Nakula- Sadewa merebutnya. Tapi tak jarang bola Dursasana bisa direbut oleh Bima. Kebetulan badan si nomor dua Pandawa ini tak kalah gede dibanding Dursasana.

Cupu ditendang oleh Bima yang bertenaga setara gajah. Cupu melambung ke dirgantara entah setinggi berapa penggalah kemudian jatuh di tempat yang berada jauh di luar lapangan, jauh di balik gunung.Bima mengejarnya. Diikuti Puntadewa, Arjuna, dan Nakula-Sadewa. Sementara itu Duryudana beserta adik-adiknya seperti Kartawarma, Durmagati, Citraksa, dan Citraksi sudah lebih dulu tunggang-langgang di atas pematang yang memisahkan lapangan dan lereng gunung. Kini Bala Kurawa sudah hampir sampai di puncak gunung, tinggal menuruninya hingga sampai ke sumur.

Ndak srantan Bima yang bertubuh besar segera menggaet seluruh Pandawa dan menggendongnya. Nakula-Sadewa di punggung.

Arjuna dipanggulnya. Dan Puntadewa dibopongnya. Dengan langkah secepat kilat Bima berlari. Rombongan Kurawa yang semula bangga sudah jauh meninggalkan Pandawa sekarang jadi kaget. Kedua rombongan ternyata sampai berbarengan di tempat yang jadi perkiraan jatuhnya bola.

Kaget segera berakhir disusul oleh celingukan kebingungan. Di manakah gerangan cupu jatuh. Kebetulan tak jauh dari arena itu ada sumur. Arjuna yang kebetulan bermata awas kemudian tahu, cupu telah jatuh di dalam sumur. Padahal sumur itu dalam sekali. Selain dalam juga angker.

Beberapa tukang rumput yang ada di sekitar situ ngasih tahu, ’’Di dalam situ ada raksasa penunggu...Dulu katanya raksasa itu pernah menghuni gedung-gedung Bank Century, lalu menghuni kantor-kantor perpajakan. Pernah juga menghuni gedung DPR...”

’’Saking wingitnya semua orang takut,” sahut tukang rumput yang lain. ’’Apalagi kabarnya, hantu di KPK saja takut pada raksasa itu. Pernah ketika Raksasa itu menunggu gedung DPR, dia usir itu hantu-hantu yang datang dari KPK.’’


***

Seorang gelandangan diam-diam ada di sekitar sumur itu. Yang pertama kali melihatnya adalah Semar. Bayangan Semar, yaitu Bagong, kemudian juga melihat si gelandangan kempong perot kaki pikun jambul uwanen itu. Setelah si tua renta menanyakan ada problem apa kok ribut-ribut, dia menawarkan jasa. ’’Wahai, Para ksatria yang masih mudamuda dan tampan-tampan. Bagaimana kalau saya yang mengambilkan cupu itu di dalam sumur?” tawarnya.

Dursasana yang gemar terpingkal-pingkal tambah terbahak-bahak mendengar kesanggupan si tua renta.

“Huahahaha...,” badan Dursasana sambil terguncang-guncang sambil membungkuk nyaris terjungkal. “Orang tua mbok yang tahu diri. Wong kami yang masih muda-muda ini saja tidak mungkin mampu mengambi cupu ...Kok kamu yang sudah kumel-kucem koyok bambungan bilang sanggup...Orang tua mbok tahu diri, mbok mundur saja, daripada dipaksa mundur kayak Hosni Mubarak di Mesir...hayo...Huahahaha....”


Tanpa membalas ejekan Dursasana, si orang tua ini meminta tukang rumput menjereng rumputnya satu-satu, mengingatkan pelajaran berhitung pakai lidi dahulu ketika di sekolah dasar. Lalu orang tua ini seperti membacakan jampi-jampi ke arah rumput. Mulutnya yang sudah pecah-pecah tak karuan tampak berkomat-kamit.

Oleh orang tua itu satu rumput dilemparkan ke dalam sumur...plung...menancap ke cupu yang mengambang di dasar sumur. Kembali orang tua itu melemparkan rumput mengenai ekor rumput pertama. Kedua rumput menyambung.

Dursasana mulai termangu, meski masih ketawa-tawa. Begitu dan seterusnya sampai Dursasana terkunci tawanya. Ia terpana melihat orang tua itu titis melemparkan berpuluh- puluh rumput sambung menyambung hingga memanjang ke bibir sumur. Akhirnya orang tua ini dengan gampang menarik cupu seperti menarik ikan yang terpancing.

Bala Kurawa bersorak-sorai. Berebutan isi cupu. Ternyata, menurut Petruk yang mengintip, isi cupu bukan cuma soal rahasia Century, Perpajakan, Cek Lawatan DPR dan lain-lain.

Ada juga duit bahkan ramalan bintang. Di tengah rombongan Kurawa pesta pora membongkar isi cupu, para Pandawa sudah bersujud ke kaki orang tua misterius itu.

“Aku tidak pantas kalian daulat sebagai guru,” kata orang tua itu.

Namun, seluruh Pandawa bersikukuh ingin mengangkat si orang tua sebagai guru.
Bima, sependengaran Gareng, malah tandas ngomong gini: Aku ndak ada urusan sama penampilan kamu. Sandangan dengan gampang dicari. Aku juga ndak ada urusan dengan keadaan badanmu yang katon kelaparan.

Makanan dengan gampang dicari. Yang susah dicari adalah ilmu....Maka ajarkanlah ilmu itu kepada kami.
Arjuna bukan cuma memaksa. Penengah Pandawa ini malah main ancam akan bunuh diri jika si orang tua tak meluluskan permintaan Pandawa untuk berkenan menjadi mahaguru.

Itu pun tak membuat si orang tua luluh hatinya.

 Sampai datanglah Bisma, kakek Pandawa dan Kurawa. Setelah mendengarkan permintaan Pandawa, Bisma bertanya kepada orang tua, “Apa bener kowe bisa membuat panah-panah dari rumput sambung-menyambung dari bawah sumur sampai ke permukaan.”

“Ah, itu cuma kebetulan...” si orang tua merendah.

Bisma membalas, “Hahaha, mbok kamu jangan merendah. Saya lihat kamu juga membawa panah dan busur. Tampaknya itu senjata Rodadadali.”

“Bener, Yang Mulia, Paduka pratitis...”

“Berarti kowe pernah sapatemon, pernah bertemu dengan mahaguru Rama Parasu. Beliaulah yang memiliki pusaka sakti itu....Hmmm...
Apakah kamu putra Resi Baradwaja...”

 “Kasinggihan. Nama saya Bambang Kumbayana, alias Durna...”

O alah, jagad dewo bathoro ...Seketika Bisma ngrangkul Durna dan memintanya tidak saja menjadi guru Pandawa, tetapi juga sekaligus guru Kurawa. Bisma menghadiahkan tanah Sokalima sebagai tempat padepokan.

Lho, tunggal guru kenapa kok hasilnya beda?Pandawa ke mana, Kurawa ke mana. Kalau menurut wayang tradisional karena Pandawa rajin, sementara Kurawa pemalas. Tapi, menurut pengakuan Limbuk sebagai perempuan abdi Kurawa, perbedaan itu karena perbedaan buku-buku pelajaran.

Pandawa tidak direcoki oleh keharusan mbacai buku-buku yang tidak dianjurkan di dalam kurikulum. Sementara Kurawa, atas prakarsa paman mereka yaitu Sengkuni, harus mbukambuka berbagai buku tentang seorang tokoh yang sedang berkuasa. Buku-buku tentang tokoh itu sampai berseri-seri lho. Ada seri ketika tokoh itu masih bersekolah. Seri yang lain ketika dalam karir militer dan sebagainya. Mereka harus memelototi kitab-kitab itu kadang sampai larut malam.

“Nah, pas pelajaran memanah besok harinya, bocah-bocah Kurawa sudah pada ngantuk...” ujar Limbuk sambil cengengesan.