Ketika Para Bule Kenal Indrajit | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Ketika Para Bule Kenal Indrajit Reviewed by maztrie on 7:12 AM Rating: 4,5

Ketika Para Bule Kenal Indrajit

Pajak buat film-film impor dinaikkan. Maka gedung-gedung bioskop jadi gedung wayang. Dalang-dalang mulai membaik lagi ekonominya. Bahkan bintang-bintang film Hollywood mulai banyak yang ajar ndalang. Mereka misalnya Tom Cruise, Madonna, Sharon Stone, Nikole Kidman, Natalia Portman, Clint Eastwood dan lain-lain.

Sing seneng wayang gaya Yogya belajar mendalang di Kota Gudeg. Yang suka gaya Solo, ya sinau di Kota Tengkleng. Wah. Rame. Penggemar gaya Banyumasan ya berguru ke kawasan kotanya Mayang Sari. Tak sedikit juga yang nyandu gaya pedalangan Sunda. Mereka meluruk ke Giriharja markasnya Asep Sunandar Sunarya. Yang suka gagrak Jawa Timuran berguru ke murid-murid almarhum Ki Sulaeman.

        Salah satu bintang film Hollywood lalu menemukan perbedaan mendasar antara gaya pedalangan Yogyakarta dan kawasan lain. Di daerah-daerah lain Indrajit anak sah dari Rahwana. Namun orang-orang Yogya bilang ora. Indrajit bukan anak sah Rahwana. Indrajit cuma pengganti anak kandung. Anak kandung Rahwana alias Dasamuka tuh jan-jane Dewi Sinta. Dewi Sinta terus dilarung. Blegernya diganti dengan bayi lelaki yang kelak bernama Indrajit.

Sebetulnya semua orang di Nusantara sudah tahu bahwa kita beda-beda. Ki Timbul Hadiprayitno dari mBantul Yogyagarta sudah lama menggelar lakon bahwa Sinta anak Rahwana. Masyarakat menerima perbedaan itu juga dengan sikap biasa-biasa saja. Mesam-mesem. Namanya juga Nusantara. Bhineka Tunggal Ika.

        Lha tapi orang-orang Hollywood itu suka ngipas-ngipas. Orang-orang Nusantara jadi murup, jadi panas. Mereka menilai pedalangan gaya Yogya adalah pedalangan aliran sesat. Mereka mendesak agar government melarang aliran pedalangan gagrak Yogya.

        "Lho, bukannya Undang-Undang Dasar menjamin tiap warga negara bebas beragama dan berkeyakinan apapun," bela seorang aktivis LSM.

        Pengacara pembela aliran pedalangan luar Yogya menanggapi, "Memang bebas berkeyakinan. Tapi jangan pakai nama wayang. Orang-orang Yogya mestinya pakai nama Tontonan Istimewa, Drama Penetapan atau apa...Kalau alirannya pakai nama wayang, ya Indrajit itu anak sah Rahwana..."
        Gumregah...

        Ponokawan Petruk terbangun dari mimpinya. Di dalam mimpinya, debat pengacara dan aktivis LSM terpenggal. Arak-arakan demonstrasi Front Pembela apa gitu...membangunkan tidurnya di mobil...


***
Secara umum provinsi Jawa Timur dipengarui pedalangan gaya Solo. Tapi harus diakui untuk beberapa kasus, seperti soal hubungan Sinta dan Rahwana, pedalangan gagrak Yogyakarta lebih menarik. Menjelang istrinya akan melahirkan, Rahwana tiba-tiba ingin berkelana. Dewi Tari, istrinya, melahirkan bayi perempuan. Alamat tak baik ini diendus oleh Gunawan Wibisana, adik Rahwana. Ksatria berwatak brahmana ini tahu bahwa jabang bayi adalah titisan Dewi Widowati, bidadari yang sejak lama digandrungi kakaknya.

        Wibisana melarung sang bayi ke sungai, lantas ia bersedekap menatap mega. Samadi. Mega diangkasa diubahnya menjadi bayi bernama Megananda.

        Rahwana setelah datang dari pengembaraan tak percaya anak lelaki ini adalah anaknya. Anak lelaki yang sudah sebesar Pak SBY 50-an tahun lalu ini segera diambilnya, lalu dibanting. Anehnya, setiap kali Rahwana membanting bocah Megananda, setiap kali pula Megananda bertambah besar dan tegar. Bahkan akhirnya sanggup membuat Rahwana keteteran.

        "Hahaha," Rahwana si mahadiraja Alengka cekakakan sambil menepuk-nepuk pundak si bocah. "Hebat, Le. Kamu top. Juara. Dalam empat puluh hari empat puluh malam, akhirnya kamu sanggup mengalahkan aku, Le. Berarti kamu memang anakku, Le. Aku namai kamu Indrajit, Le"

        Yang bernama Indrajit ternyata tak cuma jadi pemuda sakti dengan pusaka andalan Kyai Nagapasa dan Kyai Wimohanastra. Anak jadi-jadian dari mega itu pada akhirnya ternyata juga sangat berbakti pada sang ayah. Pantas Rahwana tak kunjung membunuh Indrajit dan membubarkan pengikut-pengikutnya meski rakyat Alengka sudah geregetan agar Indrajit dan ormasnya dibubarkan.


***
Menurut sulung ponokawan Gareng, sebenarnya Rahwana sudah hampir saja membunuh Indrajit, membubarkan ormasnya. Banyak kekerasan dan pembunuhan digara-garai Indrajit dan rombogannya. Tapi keputusan pembubaran itu terus-menerus ditunda oleh Rahwana. Rahwana selalu penuh keragu-raguan. Sepertinya Rahwana punya firasat lain untuk terus memelihara Indrajit dan gengnya.

        Firasat Rahwana itu terbukti benar saat Ramawijaya mengepung Alengka. Itu pas Ramawijaya akan mengambil istrinya, Sinta, yang menjadi tawanan Alengka. Saat itu kekuatan Alengka telah ludes. Senapati andalan Alengka, Kumbakarna, pun sudah tewas di tangan bala tentara monyet pasukan Ramawijaya. Datanglah Indrajit menghadap ayahanda. Ia menyatakan kesanggupannya menghadapi bala tentara Ramawijaya.

        Aaaaah....

        Rahwana bukannya tak pernah menangis. Tapi ia tak pernah menangis sedalam ketika mendengar kesanggupan sang putra. Bukan karena ia sendiri hilang nyali menghadapi musuh. Kesanggupan putranya untuk menunjukkan darma bakti sungguh keharuan yang luar biasa.

        Itu menjelang senja. Setelah sungkem, Indrajit pamit. Ia mempersiapkan sesaji sampai tengah malam. Lantas berangkat ke Gunung Himawan alias Himagiri, markas para serdadu Rahwana. Megananda mateg aji panyirepan. Sak kal jutaan monyet tertidur pulas termasuk Rama dan Leksmana.

        Di dalam kesenyapan itu Indrajit melepaskan Wimohanastra. Astra semacam panah. Wimohana berarti nggegirisi atau mengerikan. Dari satu anak panah lepasan Wimohanastra, akan menjelma ribuan aneka macam senjata seperti parasu (kapak), nenggala (waluku alias mata bajak sawah), gada, keris, tombak dan lain-lain. Semua pating sliwer mencari sasarannya sendiri-sendiri. Jutaan prajurit kera binasa oleh jelmaan senjata bersumber Wimohanastra itu.


***
        Hmmm...Ada satu hal yang Indrajit khilaf.
        Orang menyeberang tak cuma ada sekarang. Misalnya dari partai A pindah ke partai B. Dari setuju pansus A, menjadi penentang pansus A. Dan sebagainya. Pada zaman Ramayana namanya kutu loncat juga sudah ada. Yaitu, pamannya sendiri alias bapak angkatnya, Gunawan Wibisana. Sudah lama Wibisana transmigrasi ke pihak Ramawijaya.

        Nah, ayah angkat Indrajit ini punya aji penangkal panyirepan. Setelah terlena sebentar, meski tak sampai tertidur, Wibisana segera mengecakkan aji Diposanjoto. Dipo artinya penerang. Seketika byar terang kahanan gunung Himawan. Munyuk-munyuk yang belum tewas segera terbangun termasuk pemimpin mereka Rama dan Leksmana.

        Anggada, anak Resi Subali, segera mengejar Indrajit. Terjadi perkelahian cukup lama dan seru. Keduanya seimbang. Sampai akhirnya Leksmana turun tangan agar pertempuran lekas usai.
        Lalu ponokawan Bagong mengambil alih Pak Dalang.

        Kata Bagong: Lesmana nglepasno senjata Barunastra. Wuih saben anak panah menclok bumi, di situ jadi banjir. Banjir di mana-mana persis di Nusantara. Bolo-bolonya Indrajit kelelep. Matek. Indrajit mbales. Cumlorot panah-panah Saragni dari tangannya. Api berkobar-kobar di Gunung Himawan. Kayak kebakaran yang banyak terjadi di Nusantara. Lesmana ganti mbales. Api dipadamkan dengan pusaka Maheswarasara pemberian Batara Siwa. Indrajit dibunuhnya dengan pusaka Rudrasara.      
 
        Demikian menurut Bagong. Apa Alengka dengan begitu sudah remuk?


***
     Dalam lanjutan mimpi Petruk, negeri itu tidak porak-poranda atas kekalahan Indrajit maupun Rahwana. Negeri itu hancur karena bule-bule yang sedang belajar wayang selalu memanas-manasi pribumi tentang adanya perbedaan-perbedaan aliran di dalam wayang. Padahal dulunya kaum pribumi tenteram-tenteram saja dengan segala kebinekaan.

        Bule-bule itu misalnya menggosok-gosok pertanyaan, Indrajit mati meninggalkan tujuh istri apa satu istri, yaitu Dewi Indrarum. "Ini bagaimana? Setiap daerah kok beda-beda imannya pada wayang. Yang benar yang mana," kata salah seorang bule. Bule yang lain takon, "Di daerah lain malah disebut Dewi Indrarum itu anak Indrajit. Indrajit kawin dengan Dewi Sumbaga dari kerajaan Kutawindu. Beranak tiga antara lain Dewi Indrarum."

        Panas. Mendidih. Para warga di negeri itu lantas saling menganggap sesat alirannya satu sama lain. Mereka saling membakar. Mereka saling membunuh.

        Dan Petruk tak sadar apakah dia masih tertidur apa sudah bangun. Petruk tak sadar apa ambang kehancuran negeri itu terjadi dalam mimpi atau di luar mimpi.       
        Dalang pun tak tahu.