Anjing Itu Membaca Kalimasada | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Anjing Itu Membaca Kalimasada Reviewed by maztrie on 6:54 AM Rating: 4,5

Anjing Itu Membaca Kalimasada

BAGONG ndak tahu bahwa konconya nduk Jepang sedang kalang kabut. Dia masih mlakumlaku pas terjadi gempa besar yang berpusat 10 kilometer bawah laut sekitar Jepang itu.

Sampai tsunami menyusul setelah gonjangganjing laut pun, Bagong masih menghiruphirup alam pegunungan. Bungsu ponokawan itu malah seakan bertemu Prabu Puntadewa, ndak ngeh bahwa nun jauh di sana ribuan rumah di Negeri Jepun terbilas tsunami.
Di kawasan Gunung Dieng, Kabupaten Wonosobo, tersebut, Bagong diajak berputarputar oleh seorang kiai. Julukannya, seingat Bagong, Ki Gun. Mungkin nama lengkapnya Ki Guntoro atau Ki Gunawan atau Ki Guno Carito.

Lupa-lupa ingat. Yang jelas, kakak Bagong, Gareng, juga memanggil sesepuh itu Ki Gun.
Di dalam kabut, Ki Gun mengitar-ngitarkan Bagong-Gareng ke Candi Duryudana, Candi Sengkuni, dan Candi Durno. Setelah itu, dia ajak mereka naik ke dataran yang lebih tinggi, lebih berkabut dan betapa dingin. Angin sesekali berarak. Bagong suka sekali menyaksikan Candi Puntadewa, Candi Bima, Candi Arjuna, serta Candi Nakula-Sadewa. Candi Subadra termasuk yang membuat Bagong terkesima.
Di dekat candi istri kesayangan Arjuna itu, ada terowongan Aswatama.

”Terowongan itu semacam kabel,” kata Ki Gun. ”Dari terowongan itulah, tersebar info-info rahasia yang sekarang ditampung situs WikiLeaks…”

”Soal Pak SBY dan Pak JK ya Ki Gun?” potong Bagong.

”Ya tentang apa saja. Pak Taufi k Kiemas juga.
Soal Bu Ani juga. Dari situs WikiLeaks itulah, muncul kabar-kabur di koran Australia
Th e Age dan Sydney Morning Herald.”

Bagong melihat Gareng tak memperhatikan perbincangannya dengan Ki Gun. Gareng tampak lebih tertarik dengan Sumur Jalatunda di kawasan Dieng yang kerap disebut juga sebagai Gunung Perahu. Apalagi, ada mitos, barang siapa yang pada Hari Anggara Kasih bisa menimba air sumur itu dengan bumbung, rezekinya akan dipermudah. Ah, padahal, Bagong sudah membantah, ”Kang Gareng, masa depan orang kan bergantung kerja kerasnya.”


***
Ponokawan Petruk tak turut dalam rombongan ke Dieng. Tadinya, ponokawan jangkung itu sudah mau ikut, tapi tertahan obrolan dengan pakdenya, Togog dan Mbilung. Petruk sudah mau pamit, eh, Togog belum ngerti juga apa dan di mana itu Jepang, yang kini diterpa tsunami. ”Apa Jepang itu Dai Nippon?” tanya nya kepada Petruk.

”Kalau Nippon, aku tahu. Itu kan kidungan jula-julinya Cak Durasim. Pegupon omahe doro, melok Nippon tambah sengsoro (pegupon rumah burung dara, ikut Nippon tambah sengsara). Terus, sudah itu, Cak Durasim, kabarnya, dibunuh penjajah Nippon di Bubutan, Surabaya. Ya, yang aku tahu cuma Nippon. Apa Jepang itu Nippon?”

Petruk malah bingung. ”Waduh, Pakde, saya malah baru dengar. Istilah apa itu? Hmmm... Nippon.
Kalau Negeri Jepun, saya tahu, ya Jepang itu.”

”Hahaha, Jepun kok Jepang. Jepun itu bahasa Bali untuk bunga kamboja. Latin-nya Nerium oleander,” sanggah Mbilung, sok ilmiah.

”Kalau Jepang, ya kembang sakura.”

”Ngawur,” tukas Togog. Penggemar musik Indonesia tersebut bilang, ”Sakura kok dari Jepang. Gini lho ya, ini mumpung dekat-dekat Hari Musik Nasional 9 Maret, Sakura itu asli Indonesia. Penciptanya Mas Fariz R.M.”

”Lho. Jepang itu memang disebut juga Negeri Sakura, kok,” kata Mbilung sambil garuk-garuk kepala. ”Atau, Jepang itu sebenarnya ya Indonesia ini? Sama-sama Negeri Matahari Terbit juga, kan? Jadi, bencana gempa dan tsunami itu sesungguhnya sedang terjadi di Indonesia?”

Walah-walah! Petruk bingung. Togog bingung.
Mbilung pun bingung. Semua bingung. Petruk sudah mau hengkang saja dari obrolan tak bermutu itu, mending ikut Bagong dan Gareng cuci mata ke Gunung Perahu. Tapi, tiba-tiba dia ingat omongan bapaknya, Semar. Petruk ingin lebih dulu meluruskan Mbilung soal bencana.

”Pakde Mbilung,” ujar Petruk. ”Gempa dan tsunami di Jepang itu bukan bencana. Itu fenomena alam biasa. Masyarakat di sana juga sudah terlatih ngadepi fenomena kayak gitu.
Yang bencana itu korupsi. Yang bencana itu triliunan biaya pembangunan gedung DPR.
Yang bencana itu....”

Petruk benar. Masyarakat Pulau Simuelue di kawasan Aceh pun tidak menyebut gempa dan tsunami itu bencana. Akibatnya, korban dari masyarakat pulau tersebut paling sedikit jika dibandingkan dengan kawasan lain di Aceh saat tsunami Desember 2004. Mereka tak menyebutnya bencana. Mereka menghargainya dengan sebutan ”kolam mandi”.

Dalam pantun tradisional, mereka menyebut smonk rume-rumemo/linon uwakuwakmo/elaik keudang-keudangmu/kilek suluh-suluhmo (tsunami kolam mandimu/gempa ayun-ayunanmu/petir kendangmu/halilintar cahayamu).

Togog, ”Lung, Lung, Mbilung, dengarkan Petruk, tuh. Kita pun tidak menyebut harimau dengan macan, tapi kita hargai dengan menyebut kiaine. Ular kita muliakan dengan
sebutan oyot.”

Obrolan kian berkepanjangan. Ngalorngidul.
Alhasil, Petruk tak ngacir-ngacir juga buat ikut pergi ke Candi Dieng.


***
Maksud hati nyusul ke Dieng, apa daya Petruk malah terdampar di rimba Glagahwangi, Demak.
Setelah jumpa Kiai Rasi, Petruk diajak melihat bagaimana Sunan Kalijaga babat alas Glagahwangi dan menemukan pertapa Prabu Yudistira alias Puntadewa alias Darmakusuma.

”Adik-adikku, pandawa, semua sudah masuk surga. Aku tak boleh ke surga sebelum membaca Jamus Kalimasada,” kata Darmakusuma.

O, Sunan Kali membantunya. Dijelaskannya, jamus itu buku hitam bertulis aksara putih. Kalimasada itu kalimat syahadat. Setelah membaca buku hitam berhuruf putih
tentang syahadat, Prabu Darmakusuma naik ke surga. Oleh Sunan Kalijaga, jenazah Yudistira dimakamkan di halaman Masjid Demak. Tepatnya arah barat daya dari masjid.
Lain Pak SBY, lain Pak Sudi Silalahi. Begitu juga lain Petruk, lain Bagong.
Kalimasada tak seperti itu dalam pengalaman Bagong di percandian Dieng. Tepatnya setelah Bagong balik dari Candi Subadra, termenung di Candi Puntadewa. Puntadewa tak diizinkan masuk surga jika masih membawa anjing. Puntadewa pun berkeras tak mau masuk surga jika tak diperkenankan membawa anjing kesayangannya.

”Paduka baca saja Kalimasada yang selama hidup sinuwun tak pernah baca meski sesungguhnya telah sinuwun amalkan,” haturan jing bernama Lingga-Maya. ”Kalimasada hanyalah kertas kosong seperti wasiat dalam fi lm Kungfu Panda. Tapi, dengan kepekaan, dengan lantiping pramana jati, Kalimasada bisa tak tampak kosong. Pada kekosongan itu, akan tampak isi Kalimasada dalam bahasa sastro cetho atining suksma sejati.

Maka, dengan tuntunan anjing, terbacalah lima butir Kalimasada dalam bahasa batin tersebut.
Kalau diterjemahkan, kira-kira begini.
1. Siapa ingin kaya, banyak-banyaklah beramal.
2. Siapa ingin pandai, banyak-banyaklah mengajar.
3. Siapa ingin dikasihi, tumpah ruahkanlah kasihmu ke sesama.
4. Siapa ingin bahagia, bahagiakanlah sebanyak-banyaknya orang.
5. Siapa ingin sempurna, sempurnakanlah kematian sahabatmu.
Setelah pembacaan itu, anjing Lingga-Maya seketika berubah menjadi Batara Darma.
Dituntunnya Puntadewa naik undak-undakan nirwana.


***
Ponokawan perempuan kerajaan Astina,Limbuk, tidak memperkarakan perbedaan Kalimasada versi Petruk dan Bagong. ”Duaduanya baik. Itulah Bhinneka Tunggal Ika,” tutur Limbuk kepada anak perempuannya, Cangik. Kalimasada itu mulia.

Berita-berita miring dari Australia bisa dihadapi dengan Kalimasada. Fenomena alam di  Jepang, termasuk banjir di Pidie, Aceh, bisa dihadapi  dengan Kalimasada. Mitos Sumur Jalatunda  juga bisa dihadapi dengan Kalimasada.
Limbuk malah bersyukur bahwa raja mereka,  Duryudana, berkenan akan me-reshuffl e  kabinet. Siapa pun menteri yang tidak berkenan melaksanakan Kalimasada akan di-reshuffl e. Sayang, kemudian ada yang berkenan meralat berita itu.

”Sang prabu tidak pernah berkenan merencanakan reshuffl e,” kata Berkenan Silalahi, teman sang prabu.