Arok-Dedes dari Candi Ramayana | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Arok-Dedes dari Candi Ramayana Reviewed by maztrie on 3:23 AM Rating: 4,5

Arok-Dedes dari Candi Ramayana

Prabu Rama terpicu? Ketika putra mahkota Indrajit kepergok nyelinap malam hari di Suwelagiri. Itu pesanggrahan jutaan kera pasukan Rama. Indrajit menggeh-menggeh tunggang-langgang ngacir pulang. Sang ayah, Rahwana, muntab. Melalui Patih Prahasta, segera dia perintahkan wadya bala-nya nglurug pesanggrahan itu.

Seluruh kekuatan negeri Alengka lekas bersiap-siap pacak baris. Anak-anak lain Rahwana juga turut magito-gito. Mereka adalah De wantaka, Narantaka, serta Trisirah dan Trikaya.

Kumba dan Nikumba juga mak pecungul dalam rombongan tersebut. Mereka anak-anak Kumbakarna, adik Rahwana.


Para keluarga masih merubung upacara pemberangkatan. Ada yang masih bersalamsalaman dan rangkul-rangkulan. Namun, tak ada tangis. Aneh, lho, bukan cuma anakanak penggede itu yang keberangkatannya ke me dan laga tanpa air mata keluarga. Para huluba lang kerajaan yang tidak semakmur mereka pun berangkat tempur dengan sukacita.

Mungkin karena negeri raksasa itu sudah membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Artinya, hidup janda perang akan dijamin.
Begitu pula anak-anak yang ditinggal mati bapaknya. Pokoknya, wis ueeenak tenan.
”Ya pancen maknyuss pol. Indonesia saja belum punya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), lho,” kata Cangik kepada anaknya, Limbuk. Dua  Ponokawan perempuan itu sudah lama mengabdi di Alengka, sejak kepemimpinan ayah Rahwana, swargi Prabu Sumali. ”Alengka malah sudah lama punya BPJS, wah jauh sebelum Amerika Serikat punya BPJS pada 1935. Malah sakdurungnya Inggris punya itu pada 1911, nduk kene wis ada.”

Arok-Dedes dari Candi Ramayana
”Mbok menowo karena Indonesia masih terlalu muda, Mak,” sela Limbuk.

Hmmm...Cangik geleng-geleng. Menurut dia, bukan karena Indonesia masih terlalu muda, maka ndak punya BPJS. Lha wong, Korea Selatan Yang merdekanya cuma kacek dua hari dengan Indonesia saja sekarang sudah punya BPJS, kok. Menurut Cangik, itu terjadi karena para pamong praja Nusantara terlalu sibuk mikir kebocoran reaktor nuklir di Fukushima, ndak serius nggagas kawula sendiri. Padahal, ungkap Cangik, BPJS sudah diamanatkan oleh undang-undang sejak 2004, harus sudah berdiri paling lat pada akhir 2009.
Limbuk dan Cangik ngobrol sambil mengintip ke alun-alun yang kini sudah penuh gajah, gajah, dan gajah.
O, lihat dan dengarlah itu. Trompet dan tambur peperangan berkumandang, bahkan sampai tembus ke saptapretala, dasar bumi lapis ke tujuh. Selain piawai bermain musik, para raksasa tersebut sudah menamatkan Dhanurwedasastra, buku tentang memanah. Mereka juga menguasai hastisiksa, ilmu menunggang gajah, serta salihotra, ilmu mengendarai kuda.
Para pengendara kuda mengenakan kawaca, baju zirah khusus penunggang kuda.
Limbuk berdecak-decak, tak habis kekagumannya pada pakaian yang disebut swangga.
Warnanya biru-kuning-hijau, seperti koalisi warna-warni. Dengan kostum itu, raksasa yang mengenakannya akan makjleg tampak seperti singa. Bahkan, Batara Kala akan miris kalau melihatnya. Hiiiii....
”Hebat, ngedap-edapi, ya...” celetuk Cangik.
”Para keluarga, handai tolan, katon riang gembira.
Ndak ada tangis. Ndak onok sing membik- membik. Tapi, Mbuk, Limbuk, sebenarnya BPJS itu tak hanya menjamin janda dan anakanak yatim lantaran perang. BPJS juga menjamin biaya kesehatan. Bahkan, ndak onok perang pun, anak-anak yatim akan ditanggung BPJS sampek mereka bisa madek mandiri.”
”Ojir BPJS dari mana, Mak?”
”Dari iuran seluruh warga. Yang ndak mampu, iurannya ditanggung renteng oleh negara....”

***
Sekabur Indrajit dari Gunung Suwelagiri, ada teror bom. Peledak itu dimasukkan ke dalam buku. Sampek-sampek monyet-monyet anak buah Prabu Sugriwa yang membela Prabu Rama tak berani lagi baca-baca buku. Padahal, mereka rata-rata belum tamat membaca buku tentang persenjataan, perkelahian satu lawan satu, dan sebagainya. Bahkan, mau makan pisang pun, mereka tak berani. Maklum, beredar kabar bahwa bom juga dimasuk-masukkan ke dalam pisang. Wong, kacang sekecil itu pun bisa berisi bom, kok. Canggih.
Ada yang bilang bahwa pelaku teror adalah orang-orang Prabu Rama sendiri untuk menutup isu negatif dari WikiLeaks. Tapi, yang lain membantahnya. Yang biasanya buat pengalihan isu itu penangkapan teroris, bukan aksi teroris. Katanya, ”Saat kapannya teroris ditangkap... kenapa kok digerebek nanti-nanti...  enapa kok gak kemarin...? Nah, itu mungkin untuk menutup isu yang nanti-nanti muncul.”
Ah, apa pun. Yang jelas, pertempuran kaum munyuk itu ngawur gara-gara mereka belum rampung baca-baca buku tentang taktik, siasat, dan strategi perang. Mereka sama sekali tak memakai teknik. Ada wreksa alias pohon, mereka cabut. Mereka lontarkan kepada para raksasa. Ada silatala, bebatuan besar, mereka ungkit dan bareng-bareng mereka gelundungkan dari puncak gunung ke raksasa di punggung dan lereng gunung. Gunung jadi tampak jelek. Gundul, tanpa bongkah-bongkah bebatuan lagi. Pepohonan dan batu-batu yang mereka cerabut dan ungkit itu satu-dua memang berhasil memorak-porandakan  Raksasa.
Tapi, kebanyakan kalah saat melawan serdadu Alengka yang membalas kengawuran itu dengan teknik, panah, kampak yang panjangnya sampai lima depa, dan sebagainya.
Bala tentara monyet kocar-kacir. Gajah-gajah dan kuda-kuda Alengka turut membuat mereka bubar mawut.
Kapindra alias Raja Monyet Sugriwa segera mengajak rembukan anggota Dewan Pimpinan Pusat monyet-monyet, seperti Hanuman, Anggodo, Anila, Satabali, Wisangkatha, dan Jembawan. Kesimpulan Hanuman, para monyet lari pontang-panting bukan karena ndak punya teknik perang lantaran belum tamat baca buku-buku. ”Sama sekali bukan, Pakde. Teknik penting, tapi mental lebih penting.
Ini masalah mental,” ujarnya kepada sang Kapindra.

***
Dengan trompet dari tanduk kerbau yang suaranya terdengar sampai ke balik gunung, ratusan ribu kera yang tinggal gelanggang colong playu kini berkumpul. Hanuman bilang, janganlah semangat mereka nglentruk karena terkecoh isu-isu miring dari WikiLeaks tentang junjungan mereka, Prabu Rama. Jangan menimbang-nimbang apakah si Ragutama itu sebenarnya....
”Ragutama itu siapa, sih, Kang Petruk?” sela ponokawan Bagong.
”Wah, Gong, aku ndak mudeng sopo iku Ragutama. Nek si Ragu Utama, si Peragu, aku ngerti.”
Gareng marah, ”Goblok kabeh! Ragutama itu ya nama lain Prabu Ramawijaya.”
Ya betul, Ragutama adalah julukan lain dari titisan Wisnu tersebut.
Apakah seperti gosip sumbang WikiLeaks bahwa peperangan dengan Alengka itu ha nya dilakukan demi kepentingan pribadi Ragutama, yaitu kembalinya istri tercinta, Sinta, ke Ayodya? Hmm, egois. Bukan untuk memayu hayuning bawono dan kesejahteraan para monyet? Benarkah Sinta di Alengka sebenarnya tidak ditawan, tapi justru digunakan untuk menumpuk kekayaan dengan jalan morotin Rahwana?
”Tak usah kalian termakan desas-desus seperti itu,” ucap Hanuman. ”Pun, jangan kalian kuatir. Janda-janda dan anak-anak kalian tak akan kapiran kalau kalian gugur. Kita memang belum punya BPJS, tapi Pakde Sugriwa berjanji segera mengurus pembentukan BPJS sesudah perang.”
Akhirnya, para monyet kembali merapatkan barisan. Mereka bahkan bisa mendesak prajurit Alengka mundur dari Gunung Suwelagiri sampai ke balik Gunung Mahendra.

***
Lagi-lagi patah arang....
Setelah sedikit unggul, di Gunung Mahendra para bala tentara kera kembali nglokro, mungkin karena belum makan. Mereka masih takut menyikat pisang lantaran banyaknya bom diisikan ke dalam pisang. Padahal, itu sudah bukan Suwelagiri. Itu sudah Gunung Mahendra, yang mungkin pamong praja  betempatnya lebih becus dalam mengurus keamanan.
Untuk memulihkan semangat prajurit, Gareng mengusulkan agar Prabu Rama mengambil air Amreta di Candi Penataran alias Candi Palah dekat Blitar. Air dari candi di lereng Gunung Kelud tersebut pada zaman raja-raja Majapahit sering dimanfaatkan untuk menggugah semangat warga. Apalagi, dalam candi yang diyakini sebagai perabuan Ken Arok itu, ada relief tentang Ken Arok-Ken Dedes, yang oleh para leluhur dimirip-miripkan dengan cerita Rama-Sinta. ”Siapa tahu, monyet-monyet itu nanti mendapatkan kesaktian bagai Ken Arok,” hatur Gareng.

Setelah mendengar usul Gareng, sang Rama alias sang Ragutama alias sang Reghawa segera membaca mantra Amreta dalam versinya sendiri yang disebut Astata Manggalastawa.
Hujan seketika turun di Gunung Mahendra. Para monyet kembali bangkit.
Semangat mereka ngalah-ngalahi semangat pengantin baru.... [sujiwotejo]