Batari Uruwasi dari Tenjomoyo | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Batari Uruwasi dari Tenjomoyo Reviewed by maztrie on 3:28 AM Rating: 4,5

Batari Uruwasi dari Tenjomoyo

Raksasa yang kuatnya tan keno kinoyo ngopo, tak teribaratkan apa pun. Andai Cak Kadhafi dari Tripoli mbayar dia, pasti Amerika remuk wis. Sak sekutu- sekutunya kayak Prancis-Inggris.

Mereka akan kabur dari Libya. Buto ini sangat mengerikan kok. Gede tinggi. Andai dia jadi ’’peniup peluit’’ atau whistleblower, pasti hakim-hakim nggak akan berani menghukumnya, meski mereka mungkin ditekan para mafia.
Saya nggak tahu apakah si ’’peniup peluit’’ Pak Susno Duadji yang kini dihukum berat itu mengenal si buto galak tadi. Tetapi, masyarakat pedalangan sangat mengenalnya.
’’Prabu Niwatakawaca kan, Truk,’’ kata ponokawan Bagong ke kakaknya, Petruk.
’’Yup. Kerajaan Imaimantaka. Istri sudah ada. Cantik malah. Namane Dewi Prabasini,’’ jelas Petruk.
’’Mereka manak tiga orang,’’ Gareng nambahi.
’’Pendek kata, hidup Niwatakawaca jan-jane sudah asyik,’’ kata Petruk berinisiatif mengakhiri perbincangan karena pengin cepet-cepet pulang.
Niwatakawaca panen wis asyik. Tetapi, lantaran garis partainya membolehkan poligami, penginlah dia nikah lagi mbarek bidadari ayu yang lain, namanya Dewi Supraba.
Nah, para dewa ndak oke Supraba dimadu sesama bidadari, Prabasini.
Kalau sampai kejadian? Beeeeeeh.....
Itu bisa jadi inspirasi ndak baik buat kabinet para dewa. Mereka bisa panas dan ketularan bojo loro. Istri Batara Guru, Dewi Uma, juga takut kalau pemimpin para dewa itu kejangkitan poligami.
Ada sih satu dewa yang setuju poligami.
Namanya Batara Indra, ayah Arjuna. Namun, Indra takut di-recall  kalau berbeda pandangan dengan Ibu Negara, eh Ibu Kahyangan Dewi Uma. Dia takut nasibnya nyaris serupa Bu Lili Wahid dan Gus Effendi
Choiri. Akhirnya Batara Indra abstain.
’’Singkat kata,’’ ujar Petruk lagi yang masih tertahan ndak pulangpulang.
’’Lamaran Prabu Niwatakawaca ditampik para dewa secara aklamatif.’’
Nah...nah...nah... Lihatlah...
Raksasa sakti mandraguna suro tan toho itu segera ngamuk punggung nirboyo nirwikoro. Kahyangan diobrak- abrik!!!

***
Batari Uruwasi dari Tenjomoyo
Yang berhasil menumpas Niwatakawaca bukan para dewa lho. Penumpasnya malah manusia biasa,
Arjuna. Hmmm... tetapi mana ada wong lanang bisa bekerja tanpa dukungan perempuan. Tanpa Supraba ya... tangeh lamun...
Kocap kacarita... Pada terik itu Supraba melenggang menemui Niwatakawaca yang sedang bermata gelap menggempur kahyangan. Wuaaah... bukan kepalang senangnya si raksasa. Demonya mendadak terhenti.
Para dewa heran, kok tiba-tiba terhenti debu-debu yang mubal-babal, membubung ke angkasa karena amukan Niwatakawaca. Ternyata si doi sedang termenung di depan Dewi Supraba. Matanya berkaca-kaca.
Lebih sesenggukan lagi si Niwatakawaca setelah Dewi Supraba lemah-lembut menyatakan cemburunya kepada Dewi Prabasini.
Rajuknya lirih, ’’Betapa bahagia istri Paduka, Prabasini. Siapa perempuan tak serasa terjunjung ke langit lapis ketujuh dianugerahi seorang suami yang kesaktiannya tanpa ibarat...’’
’’Oooo... Diajeng Supraba, bidadari pitatane jawoto... Janganlah Diajeng makin membuat hatiku teriris-iris... Kasatmata saja aku menikahi Dewi Prabasini... Kasatmata aku mempunyai tiga anak dari Dewi Prabasini.
Namun, sesungguhnya...”
’’Oh, sang Prabu Niwatakawaca, janganlah menyebut-nyebut nama itu di depan saya... Mana ada perempuan di dunia ini yang bisa tahan mendengar Paduka menyebut namanya... Paduka ingin aku bunuh
diri...?’’
Di kejauhan tampak Dewi Prabasini sedang berlarian menuju tempat Niwatakawaca berduaan dengan perempuan lain. Dia mempunyai firasat ndak enak. Masih jauh jaraknya dari sang suami, ketika Dewi Supraba

tiba-tiba menghunus cundrik.
’’Paduka ingin aku bunuh diri?’’ berangnya sekali lagi.
Seketika Prabu Niwatakawaca segera menahan keris kecil cundrik yang akan dihunjamkan Dewi Supraba ke ulu hatinya sendiri. Cundrik terjatuh. Ketika Prabu Niwatakawaca hendak mendekap Supraba, sang
Dewi mundur menghindar. ’’Janganlah Paduka tega memeluk hamba sebelum Sang Prabu percaya penuhpenuh kepada hamba..’’ pinta Supraba dengan lantang namun dengan mata yang menggoda.
’’Aku percaya padamu, Supraba... Aku percaya...’’
’’Mohon maaf, Sang Prabu. Semua perlu bukti... Buktikan Paduka percaya sepenuh hati kepada hamba... Semua orang kagum geleng-geleng kepada kesaktian paduka, tetapi tak satu pun tahu rahasia kesaktian Paduka.

Apa beda saya dengan mereka kalau sama-sama tak tahu di mana rahasia kesaktian Paduka...’’
Cinta lalu membutakan. Tatkala itu Prabu Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak. Tak sadar dia bilang bahwa sumber kesaktian se kaligus pengapesannya ada di langit-langit mulutnya.
Tanggap sasmita. Arjuna segera menampakkan diri. Sedari tadi dia menggunakan aji panglimunan sehingga tak terlihat sedang mendampingi Supraba. Niwatakacara yang amat tinggi itu masih mendongak terbahak-bahak. Ndak ngeh bahwa nun di bawah sana dekat jempol kakinya, Arjuna sedang merentang panah. Dipanahnya langit-langit mulut Niwatakawaca. Gubrakkk... Raksasa yang lebih sakti daripada sekutu itu pun ambruk.
Dewi Prabasini yang telah sampai di tempat tersebut hanya sanggup berpandangan dengan Dewi Supraba. Angin bertiup dari beringin kembar di alun-alun. Para dewa tak tahu sebetapa rintik air mata jatuh
di pipi Prabasini. Mereka lebih sibuk bersorak-sorai merayakan kemenangan.
Sesuai yang dijanjikan bagi yang berhasil menaklukkan Niwatakawaca, Arjuna dinobatkan menjadi raja sementara kahyangan. Julukannya Prabu Kariti.

***
Sesampai di dukuhnya, Kembang Sore, Petruk langsung naik ke dipan.Istrinya, Dewi Undanawati, sudah merem melek menunggunya sejak surup sampai jelang tengah malam.
Ndak tahulah, pokoknya dia ini lagi manja-manjanya. Dia belum bisa tidur kalau belum didongengi Petruk. Petruk dengan senang hati menjalin kisah demi kisah yang dulu pernah dilakoni bersama majikannya,
Arjuna. Sambil mengelus-elus rambut dan kening Dewi Undanawati, Petruk mendongeng.
Di dalam dongeng Petruk, Prabu Kariti –julukan baru Arjuna– sedang meninjau kahyangan Tenjomoyo.

Kahyangan-kahyangan lain telah ditinjaunya selaku raja sementara kahyangan.
Hmmm...di atas langit ada langit, di balik gunung masih bergununggunung.
Jebul di Tenjomoyo ada bidadari cantik bernama Dewi Uruwasi.
Bahkan, dia lebih cantik daripada Dewi Supraba.
’’Raden Arjuna terus menikahi Dewi Uruwasi...’’ tanya istri Petruk sambil menggelayuti pundak suaminya.

’’Semula begitu, Diajeng Undanawati,’’ Petruk bicara mesra sekali.
’’Tetapi, kan Ndoro Arjuna baru saja menikah dengan Dewi Supraba. Lalu kakanda segera ingat dirimu, ingat bagaimana perasaan perempuan kalau dikhianati... Saya bilang ke Ndoro Arjuna, jangan nikahi Dewi Uruwasi meskipun Dewi Uruwasi gencar merayu dan pengin dinikahi Ndoro..’’

’’Terus... terus... Ndoro Arjuna nggak jadi menikahi Dewi Uruwasi?’’
Petruk mantuk-mantuk. ’’Ndoro Arjuna ndahar saranku, saran yang inspirasinya datang dari parasmu, Diajeng Undanawati...’’
Ooo..Tengah malam...diselimuti oleh rasa haru, Dewi Undanawati menciumi Petruk.

***
Kembali ke dongeng. Ternyata tak ada yang gratis di dunia. Tak seperti Niwatakawaca terhadap Dewi Supraba, Arjuna berhasil menolak rayuan Dewi Uruwasi. Namun, keberhasilan itu justru membuahkan
serapah. Dewi Uruwasi mengutuk Arjuna, ’’Heh, Arjuna, ternyata kamu bukan laki-laki. Kalau memang lelaki, kok kamu menolakku. Sesungguhnya kamu adalah banci. Suatu hari kamu akan menjadi banci!!!
Gubrak... gubrak... praangg... praaang....!!!
Lantas terdengar keributan tengah malam di rumah Petruk di Dukuh Kembang Sore.
Seluruh warga terbangun.
Istri Petruk berteriak-teriak.

Umpatnya ke Petruk, ’’Dikutuk jadi banci!!? Maksud kamu mau nakutnakuti aku? Aku harus biarkan kamu leha-leha sama perempuan mana saja supaya mereka nggak mengutuk kamu jadi banci!!!???’’
Petruk sampai dikejar-kejar Dewi Undanawati ke jalanan. Warga Kembang Sore kini tak cuma mendengar umpatan, mereka menyaksikan sosok yang mengumpat dan diumpat persis dengan sinetron. Sebagian
malah senyam-senyum dan ’’hore-hore’’ menyaksikan pertengkaran di terang bulan itu.
Petruk sambil berlarian dan nyembah-nyembah bilang, kutukan jadi banci itu sebaliknya justru jadi anugerah.
Kelak ketika para Pandawa harus bersembunyi dan menyamar selama setahun di Kerajaan Wirata, Arjuna bisa pas sekali menjadi banci.
BIN Kurawa tak bisa mengenali bahwa Kandi Wrahatnala itu sejatinya Arjuna. Sudah menyadap telepon, email, memantau Facebook dan Twitter, Badan Intelijen Nasional Kurawa itu tetap tak mendengar kasak-kusuk bahwa Wrahatnala adalah banci jadi-jadian dari Arjuna.
Setelah sinetron itu, RT/RW setempat segera mendudukkan Petruk.

Bukan urusan wandu Wrahatnala.

Tetapi, ada warga yang mengadukan Petruk yang menyembah-nyembah istrinya. ’’Padahal, jangankan menyembah istri, Pak RW menghormat bendera saja kan sudah haram?’’  warga itu berperkara. [sujiwotejo]