WAYANG BABAD, KREASI BARU JAGAD PEWAYANGAN | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
WAYANG BABAD, KREASI BARU JAGAD PEWAYANGAN Reviewed by maztrie on 3:35 AM Rating: 4,5

WAYANG BABAD, KREASI BARU JAGAD PEWAYANGAN

Salah satu jenis wayang yang masih terbilang baru, yakni Wayang Babad telah dipergelarkan di Tembi Rumah Budaya, Jumat, 11 Februari 2011. Pementasan itu dilakukan sebelum pementasan Kethoprak Lesehan pada hari yang sama. Pementasan Wayang Babad ini dilakukan oleh M. Sugiarto (Mas Lurah Lebda Carita) yang merupakan sutradara sekaligus seniman kethoprak yang mengasuh siaran kethoprak di RRI Yogyakarta. Pementasan di Tembi Rumah Budaya ini dilakukan dengan durasai sekitar 1 jam. Umumnya Wayang Babad ini dipentaskan dengan durasai 2-5 jam.

Pementasan Wayang Babad mendasarkan diri pada cerita-cerita babad atau berlatar belakang kesejarahan. Wayang Babad yang dipentaskan oleh M Sugiarto di Tembi ini menampilkan lakon Ronggolawe Gugur. Cerita dimulai dari pertemuan Ronggolawe dan istrinya, Dewi Bonowati. Intinya, Ronggolawe memohon ijin kepada istrinya untuk meredam pemberontakan atau  perlawanan Menakjinggo terhadap Majapahit. Ijin ini tidak segera didapatkan oleh Ronggolawe karena istrinya tidak mengikhlaskannya pergi berperang. Bonowati pun ditilapkan ketika sedang tidur. Kepergian Ronggolawe ke Blambangan dengan diikuti para prajurit dan senapati perangnya yang bernama Wongsopati.


Adegan berikutnya adalah adegan jejer atau pertemuan di Keraton Blambangan. Dalam pertemuan itu Adipati Menakjinggo merasa marah karena janji dari Majapahit tidak ditepati. Menurut janjinya Dewi Kencana Wungu di Majapahit mau diperistri oleh Menakjinggo jika Menakjinggo bisa mengalahkan pemberontakan Kebo Marcuet nun di kala itu. Ketika keduanya terlibat perkelahian Kebo Marcuet memang bisa dikalahkan oleh Menakjinggo, namun akibat perkelahian itu Menakjinggo menjadi cedera berat dan cacat fisik. Bibirnya menjadi perot. Matanya menjadi juling. Tangannya menjadi cekot (setengah lumpuh), dan kakinya menjadi pincang. Cacat fisik ini menjadi cacat permanen baginya sehingga penampilan Menakjinggo yang semula tampan berubah menjadi sangat buruk secara fisik.
Ingkar janji dari Majapahit ini mengakibatkan Menakjinggo memberontak dan banyak daerah milik Majapahit di sisi timur Pulau Jawa berhasil ditaklukkannya. Pemberontakan ini pernah dicoba diredam oleh Adipati Sindurejo dari Majapahit, namun Adipati Sindurejo dapat dikalahkan oleh Menakjinggo. Akhirnya Majapahit mengangkat senapati baru yakni Adipati Ranggalawe dan berkedudukan sebagai adipati di Tuban. Secara garis keturunan Ranggalawe adalah paman dari Menakjinggo. 

Ranggalawe membujuk Menakjinggo agar menghentikan niatnya untuk memperistri Dewi Kencana Wungu (= menguasai Majapahit), namun Menakjinggo kukuh pada pendiriannya. Akhirnya jalan kekerasan ditempuh. Mereka terlibat peperangan. Banyak prajurit dari kedua belah pihak menjadi korban, termasuk senapati Wongsopati pun gugur. Ranggalawe mengamuk demi melihat hal demikian.
Menakjinggo menandingi amukan Ranggalawe. Mereka terlibat perang tanding. Dalam peperangan ini Ranggalawe berhasil �memithing� �mengunci� tubuh Menakjinggo dan siap membunuhnya. Akan tetapi pada saat sepereti itu justru secara tiba-tiba nyawa Ranggalawe �dibanjut� �diambil� oleh dewa. Rangalawe gugur di medan laga. Demikianlah lakon Ranggalawe Gugur itu berakhir di situ.
Wayang Babad ini murni kreasi dari M Sugiarto yang telah memulai merintis penciptaan Wayang Babad-nya sejak sekitar tahun 2007. Gagasan membuat Wayang Babad dengan mengambil cerita dari buku babad atau hal-hal yang bersifat kesejarahan seperti Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Babad Mangir, dan seterusnya itu berawal ketika ia terlibat pembicaraan dengan seniman tari Sutopo Tejobaskoro. Berawal dari hal itu tumbuhlah gagasan membuat wayang dengan isi cerita dari babad. Mulailah ia membuat tokoh semacam Arya Penangsang, Sultan Hadiwijaya, Matahun, Ranggalawe, Dewi Bonowati, dan sebagainya.
Ia mementaskan Wayang Babadnya untuk yang pertama kali sekitar bulan Agustus 2007 dengan lakon Arya Penangsang Gugur. Pergelaran Wayang Babad dari M Sugiarto ini menggunakan iringan gamelan komplit seperti pergelaran wayang kulit pada umumnya. Demikian juga dengan waranggananya. Profil Wayang Babad atau tokohnya pun disimping �dipajang� seperti wayang kulit.
M.Sugiarto sendiri mulai tertarik dengan dunia wayang sejak ia sering membantu seniman kakak beradik Gito-Gati yang kondang sebagai seniman yang serba bisa di zamannya. Akan tetapi pada perjalanan selanjutnya ia lebih intens di dunia kethoprak. Salah satu sebabnya adalah karena ia memang mengasuh rubrik kethoprak di RRI Yogyakarta. Kini ia mulai bersemangat lagi untuk menggeluti jagat pakeliran wayang.

Profil Wayang Babad yang ditampilkan oleh M.Sugiarto agar berbeda dengan wayang kulit pada umumnya sekalipun kedua-duanya berbahandasarkan kulit kerbau. Jika wayang kulit (purwa) umumnya digambar (disungging) dengan kenampakan dari samping, maka Wayang Babad disungging dengan kenampakan dari depan atau dua pertiga dari depan. Pakaian Wayang Babad lebih mengacu pada pakaian yang umum dikenakan dalam dunia kethoprak. Bahkan profil Menakjinggo pun dibuat sedemikian rupa dengan mengacu pada pengkarakteran tokoh Menakjinggo yang sudah umum di dunia kethoprak.
Udheng (ikat kepala), mahkota, sumping, anting, sonder, kalung ulur, kelat bahu, gelang, cincin, dodot, celana cindai, celana panji, dan tata rias seolah memang meng-copy apa yang sudah umum di dalam dunia atau panggung kethoprak. Pembuatan tokoh-tokoh Wayang Babad itu sendiri melibatkan seniman tatah sungging sekaligus dalang, di antaranya adalah Sudrasna. Wayang Babad ini kini menjadi salah satu kekayaan di dunia perwayangan di Indonesia.