Dewi Statutawati & Nyi Ageng Koalisiningrum | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Dewi Statutawati & Nyi Ageng Koalisiningrum Reviewed by maztrie on 6:29 AM Rating: 4,5

Dewi Statutawati & Nyi Ageng Koalisiningrum

SUDAH semingguan lebih Dewi Undanawati nyari-nyari suaminya, Petruk. Dari tolah toleh nduk kampung sendiri, Kembang Sore, perburuan lanjut ke sepanjang Embong Malang, Surabaya. Nihil. Jembatan Suramadu dari ujung ke ujung sudah diplipirnya pula. 

Eh, si Kantong Bolong itu belum ketemu juga. Mbak U’un malah mbaca koran demi koran. Setiap agen koran diluruknya karena tak ada ojir buat beli koran di lampu merah. Siapa tahu ada berita tentang Petruk. Umpamanya, siapa tahu Kantong Bolong itu ternyata sudah nduk ibu kota. Siapa ngerti dia nyalon jadi ketua umum PSSI. Ternyata, ndak onok juga.

Wah, putus asa. Undanawati wadul ke Dewi Sariwati, istri Gareng, di Kampung Bluluk Tibo.
Terus, Undanawati bablas ke Dukuh Pucang Sewu, lapor Dewi Bagnawati, istri Bagong.
Sariwati ambek Bagnawati akhirnya merajuk ke suami masing-masing agar menelesik punakawan jangkung yang selalu tersenyum itu.

Gareng karo Bagong mesam-mesem. Keduanya saling kasih kode dengan mata. Para istri pasti nggak ngeh. Mereka sontak ke Terminal Bungurasih, nyambung-nyambung bus ke Kebumen. Tepatnya, di Desa Candi Renggo, Kecamatan Ayah. Keduanya menuju Gua In drakila yang sering juga disebut Andrakila.
Nah, di situ ada Gua Petruk.

Si Petruk ternyata memang thenguk-thenguk di dalam gua itu. Bagong dan Gareng sepakat tak akan mengganggunya dulu. Apalagi, memaksanya pulang. Keduanya paham bahwa Petruk sedang bersemedi di situ. Artinya, dia kangen kepada his father, yaitu Gandarwo Seto.
Semar kan papa angkat. Ya sudah, di mulut gua, Bagong alias Bawor main gaple dengan Gareng, ya Si Cakrawangsa.


***
Ternyata, Bagong dan Gareng sudah kunjul 17 hari 17 malam main gaple di laladan Kabupaten Kebumen tanpa keduanya sadar waktu.
Datanglah seorang lelaki tua yang meng aku bernama Ki Purwo. ”Saya awat-awati dari kejauhan, Kisanak berdua sudah 17 hari 17 malam menunggui Panembahan Petruk yang tarak brata di dalam gua,” kata Ki Purwo.

Ki Purwo berpesan, Bagong dan Gareng jangan terlalu menunggui Petruk. Apalagi, berharap agar pertapaan itu lekas pundat. Bahwa istri Kantong Bolong, Dewi Undanawati, pusing tujuh keliling karena khawatir akan keselamatan lakinya, ah itu sudah lumrah. Itu risiko rumah tangga. Dulu, para istri Arjuna, seperti
Subadra dan Srikandi, sering mumet karena ditinggal suaminya bertapa. Keduanya sampai kepontal-pontal didandani jadi laki-laki oleh Batara Narada agar lebih leluasa blusak-blusuk menelusuri Arjuna. Agar keduanya lebih ber...

”Sampean ngerti wayang juga to, Ki Purwo?” potong Gareng.

”Ah, jadi malu saya, Kisanak. Saya ini cuma juru kunci di suatu tempat. Jauh dari sini.

Tapi, saya orangnya suka lelono, jalan-jalan.
Yah, sedikit-sedikit, saya ngerti soal wayang....
Hmmm...Gua Indrakila ini kan dulu dipakai Begawan Mintaraga bertapa agar perang Baratayuda batal. Begawan Mintaraga adalah malihan dari Raden Arjuna. Waktu itu Kisanak juga mengantar Panembahan Mintaraga alias Begawan Ciptaning. Bedanya, Petruk masuk ke dalam gua, tapi Kisanak berdua bersama Semar menunggui di luar.... Di sini...persis di tempat Kisanak main gaple ini.... Iya, kan?”

Bagong dan Gareng yang bersila di bebatuan mulai celingukan. Batinnya, wah, ini bukan orang biasa. Tutur katanya harus disimak. Pelanpelan, keduanya menaruh kartu-kartu gaple.

”O, ndak usah kukut main gaplenya,” ucap Ki Purwo tergopoh-gopoh. ”Teruskan saja. Biarkan Kisanak mendengarkan ocehan saya sambil santai main cos..ndak papa.... Saya malah pekewuh kalau Kisanak khusus berkonsentrasi memperhatikan saya. Apalagi, Kisanak ini bukan orang sembarangan. Nuwun sewu, njenengan, Bagong, bayangan dari Batara Ismaya. Njenengan, Gareng, putra Gandarwo Bausasra.”

”Gendruwo?” Gareng terperangah. ”Beta ini anak Semar.”

”Hehehe....” Ki Purwo terkekeh-kekeh. ”Semar cuma ayah angkat, Kisanak. Pun, gandarwo itu bukan gendruwo. Gandarwo itu para bidadara yang mahir kesenian di kahyangan.

Misalnya, main gamelan. Mereka menjadi pasangan para bidadari. Hmmm.... Jadi, teruslah bermain gaple. Ndak usah khusyuk menyimak saya. Sungguh, Kisanak bukan orang berderajat lebih rendah ketimbang saya....”


***
Sesuai dengan anjuran, Gareng dan Bagong tetap bermain gaple di tengah dongeng-dongeng yang disampaikan Ki Purwo.

”Balak lima!” ujar Bagong. ”Hehe, siap,” sahut Gareng.

Petruk itu, lanjut Ki Purwo, sebenarnya tidak kangen kepada ayahnya, Gandarwo Seto. Petruk rindu ke statuta FIFA di negeri Swiss. Dia tahu, hanya melalui Gua Indrakila ini raganya bisa berpindah ke berbagai penjuru di dunia, termasuk Swiss yang jauh. Bukankah setelah pertapaan Begawan Mintaraga dahulu, Kisanak tak menemukan Petruk di gua? Petruk waktu itu ujuk-ujuk sudah bersila di tepi pantai.
Gerakan mesat serupa itulah yang membuat Petruk bertapa di Indrakila kini. Dia berharap raganya bisa melesat ke Eropa. Berkali-kali dia mendengar kata statuta di Swiss itu disebut kubu PSSI maupun kubu Kementerian Olahraga.

Dikiranya, statuta itu nama perempuan yang dipanggil Tuti atau Mbak Tutut. Dalam benak Petruk, nama lengkap statuta adalah Dewi Statutawati.

”Balak tiga! Keluarkan!”

Dalam benak Petruk, Dewi Statutawati agak kesal. Kesalnya, bahasa Sanskerta-nya dipelesetkan menjadi berbeda arti di tanah Nuswantoro.

Aslinya, dalam bahasa Sanskerta, Dewi Statutawati wanti-wanti, pemimpin PSSI tidak boleh orang yang pernah dipenjara.

Dalam terjemahan pelesetan, pemimpin PSSI bukanlah orang yang sedang dipenjara. ”Pernah” dan ”sedang” berbeda jauh, lebih jauh jika diban dingkan dengan Nganjuk ke Sumenep.
Dewi Statutawati juga bilang dalam bahasa San skerta agar PSSI merangkul LPI. Tapi, dalam terjemahan di Nuswantoro, PSSI harus menindak atau membubarkan LPI.

”Modar kamu! Balak enam!” seru Gareng.
Bagong tidak modar. Tapi, bola matanya berputar- putar hingga tinggal kelihatan putihnya. Menurut Ki Purwo, itu bukan karena Bagong kena sawab Gua Petruk. Sejak Ki Purwo bercerita tentang Dewi Statutawati dari Swiss, pikiran Bagong tidak tertuju kepada statuta.
Otak bungsu punakawan tersebut justru tertuju ke ”koalisi” yang belakangan sering disebutsebut di Jakarta. Tentu dengan pasangannya,

”oposisi”. Sepanjang Ki Purwo bercerita tentang Dewi Statuta, batin Bagong tak pernah lepas dari ”oposisi” dan terutama ”koalisi” Semua hal lantas dikait-kaitkan dengan dua kata itu, termasuk segala pepatah yang pernah di ajarkan oleh gurunya. Misalnya, ”Beroposisi ke hulu, berkoalisi ke tepian....”

”Hahaha...masak sampai begitunya?” sanggah Gareng kepada Ki Purwo.

”Lho, dibilangi kok ndak percaya....”

”Kalau saya, nggak sampai pelesetan pepatah oposisikoalisi.

Paling, semut di Libya tampak, Kadhafi di PSSI tak tampak. Kadhafi di kabinet juga tak tampak.”

Hampir saja Ki Purwo terkekeh-kekeh saat mendengar banyolan Gareng. Tapi, Bagong yang sudah berputih mata dan kejang-kejang itu berteriak, ”Dewi Koalisiwati....!!! Dewi Koalisiana...!!!
Kasihan banget kamu. Kamu bilang koalisi dan oposisi tidak dikenal dalam konstitusi.
Tapi, semprul kenapa harus ada? Pun, kalau menteri- menteri dari PKS dan Golkar akan dikeluarkan, mestinya Setgab Koalisi harus dibubarkan dulu. Ooo, Nyi Ageng Koalisiningrum….”


***
Menurut Ki Purwo, kita memang tak kenal oposisi. Tapi, kita kenal Menakjinggo dari Blambangan, Banyuwangi, yang berseberangan dengan Ratu Majapahit Kencanawungu. ”Saya jadi juru kunci arca Menakjinggo di kawasan Candi Brahu, Mojokerto. Selain di tlatah itu, saya menjaga makam Putri Cempa, permaisuri Prabu Brawijaya.

Saya juga juru kunci arca Menakjinggo.” Kita tak kenal koalisi, lanjut Ki Purwo. Tapi, kita kenal Damarwulan yang membela Ratu Kencanawungu dalam menumpas Menakjinggo.

Belum tuntas cerita Ki Purwo ke Gareng, terpotong kedatangan kaum istri punakawan sambil nyincing-nyincing kain di Gua Petruk. Pas Undanawati, Bagnawati, dan Sariwati tiba dengan nyureng-nyureng, ternyata bukan cuma Bagong yang teriak-teriak, ”Ooo, Nyi Ageng Koalisiningrum....” Petruk di dalam gua juga berseru-seru, ”Ooo, Dewi Statutawati....”

Ki Purwo dan Gareng berusaha ngademademkan para istri yang akhirnya berhasil menemukan para suami mereka itu berdasar kabar dari Kabar Es Krim. Tapi, para perempuan tersebut ndak mau. Undanawati: Aku mau labrak si statute. Tak ulek-ulek!!!

Bagnawati: Kelakon tak sambel kowe, ya, Koalisi!!!

Sariwati: Kang Gareng mau membela poligami? Mbok anggep apa aku ini? Kamu kira, cuma Sherina Munaf yang di status Twitternya bilang nggak sudi dipoligami? Status aku? Status aku?

”Statusmu ya statuta itu!!!” Gareng ikutan kesal. [sujiwotejo.com]