Balada Priyambodo-Mustakaweni | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Balada Priyambodo-Mustakaweni Reviewed by maztrie on 3:53 AM Rating: 4,5

Balada Priyambodo-Mustakaweni

MASIH eling Prabu Niwatakawaca? Kuwi raksasa sing matek nduk tangan Arjuna dalam Wayang Durangpo episode 84, Batari Uruwasi dari Tenjomoyo. Nah, Dewi Mustakaweni itu anak wadon yang ditinggalkan oleh mendiang raja raksasa.

Kocap kacarita...

Siang terik itu, matahari sangat eksis dan narsis-narsisnya, ndak ada ombak ndak ada angin, perompakan di Somalia juga belum ada, eh ujug-ujug Dewi Mustakaweni pengin membalas dendam atas kematian bapaknya. Problemnya, siapa sebenarnya pembunuh Prabu Niwatakawaca belumlah jelas. Pada umumnya, juru warta bilang, lengkap dengan foto-fotonya, si pembunuh tak lain adalah Arjuna, tepatnya setelah bertapa menjadi Begawan Ciptaning.”Wah, itu gombal, bohong, ngapusi,” kata wartawan lain. ”Arjuna hanya njalani perintah Batara Guru via Batara Indra untuk membunuh si Nirbita itu…."
”Nirbita?”
”Ya. Nirbita itu kan nama lain Niwatakawaca. Dia anak raseksi Durniti dengan Srikandi ketika Srikandi nyamar menjadi cowok dengan julukan Bambang Kandihawa....”

”Ah, nggak peduli anak siapa. Nek pancen ngapusi, kenapa Arjuna yang dituduh membunuh tidak protes ke surat kabar yang bersangkutan,” bela seorang wartawati.

”Lho..lho..lho.... Justru itu. Justru itu. Sebab, Arjuna justru ingin memberikan kesan sedang dizalimi oleh kabar kabur pemberitaan.” Para ahli hukum turut angkat bicara. Di negeri ini, kata pada advokat itu, siapa pun yang terkesan dizalimi akan dibela rame-rame. Seorang briptu yang sedianya akan dihukum toh akhirnya nggak jadi dihukum, malah diujo. Kenapa? Sebab, dibela para warga secara membabi buta. Kalau ndak gitu, pasti si masyarakat akan...

”Sudah. Stop. Stop,” potong seorang agamawan. ”Zalim-menzalimi nggak usah dijelas-jelaskan lagi. Bosan. Semua sudah tahu tentang rahasia dan trik-trik soal itu. Mending kita berkonsentrasi ke siapa peledak bom di Cirebon, kota asal-usul Syekh Siti Djenar..”

”Oke, Cak Ustad, setojoooo...” timpal seorang pedagang ayam, kakek-kakek. ”Meski sudah pikun, aku inget betul, ini untuk kali pertama di Nusantara bom meledak di masjid pada waktu salat. Kita harus lebih waspada. Dulu, pernah ada dua bom di masjid, tapi di halaman dan tidak pada saat sembahyang.”

Angin dari punggung gunung mengibar-ngibarkan ilalang. Langit bersih. Kawanan dhandhang seto alias gagak putih beriringan ke utara.

Akhirnya, Dewi Mustakaweni haqqul yakin bahwa memang Arjunalah biang kerok tewasnya sang ayah. Tekadnya sudah bulat, ibarat kapalango mlumpat kadadungo mendat. Mustakaweni bablas angine. Sebelum sampai di tempat Arjuna, Mustakaweni mampir ke Guwadumung, sowan ke Begawan Kala Bujangga.Pesan sang begawan, untuk dapat membunuh Arjuna, Mustakaweni harus lebih dulu mencuri Jamus Kalimasada, pusaka andalan pandawa. Sosok perempuan sang dewi di sulapnya seketika. Ya, mak jlek, Dewi Mustakaweni yang memang bisa terbang itu mendadak persis blegernya dengan Raden Gatutkaca, sekumis-kumisnya.

***
Balada Priyambodo-Mustakaweni

Ada anggrek bulan, ceplok piring, mandadaki, gandapura, maja, dan nagasari. Betapa asri bunga dan pepohonan itu mengisi taman Kedaton Amerta.

Di dalam taman ijo robyong-robyong dan di sisi guci keturi, istri para pandawa sang poliandris Dewi Drupadi bercakap-cakap dengan Dewi Subadra, istri Arjuna. Bahan obrolan ada dua. Pertama, ngrembuk banyaknya perempuan gatel zaman sekarang.

”Walah, Bagong kemarin lapor akyuuuu...,” tutur Subadra, mengawali perbincangan. ”Kata Bagong, ulat-ulat itu kesel dan bilang begini, para perempuan sekarang baru aku sentuh sedikit saja sudah gatel. Jadi perempuan itu mbok punya harga diri.”

”Betul. Betul. Akyuu sependapat Nini Subadra,” jawab Drupadi. ”Seharusnya, kita kaum perempuan jangan kegatelan. Malu. Apalagi, sebentar lagi Hari Kartini...”

”Heuheuheuheuheu....” Burung beo di ranting cempaka terpingkal-pingkal menanggapi soal ”gatel” dan gatel.

Drupadi-Subadra lalu menginjak pembicaraan berikutnya soal para pandawa Padepokan Satasrengga, yaitu padepokan eyang mereka, Resi Abiyasa. Pandawa sudah berbulan-bulan tak pulang. Pasalnya, setiap rampung mereka bangun, padepokan itu ambruk.

Datanglah Raja Pringgandani Prabu Anom Gatutkaca. Matur bahwa pakde dan pakliknya menyuruh Gatutkaca mengambil Jamus Kalimasada yang disimpan di kamar Drupadi. ”Wa, Prabu Yudistira dawuh, hanya dengan Jamus Kalimasada, pembangunan gedung baru DPR, eh, Padepokan Satasrengga akan rampung,” kata Gatutkaca.

Si Jabang Tetuka itu langsung terbang begitu permintaannya dipenuhi. Dewi Drupadi dan Subadra pun senang. Artinya, Padepokan Satasrengga tak lama lagi bueres. Artinya pula, para suami mereka tak lama lagi akan kembali. Eh, tapi kok ada yang aneh, ya? Keduanya baru sadar. Selama ini, kalau sedang perlu, bukankah Prabu Yudistira alias Puntadewa sejauh apa pun selalu pulang untuk mengambil sendiri Jamus Kalimasada?

Keduanya saling berpandangan tanpa kata-kata.

Datanglah Srikandi, istri lain Arjuna. Tak perlu waktu berdetik-detik bagi Srikandi untuk mengetahui situasi yang tak beres. Ibarat iduo durung asat, nginango durung abang, Srikandi langsung merasakan apa yang  kira-kira menimpa Drupadi dan istri kesayangan Arjuna, Subadra. ”Onok kedadian opo iki?” Wajah Srikandi penuh tanda tanya. Baru sepersepuluh kalimat Drupadi menjelaskan, Srikandi langsung mengejar Gatutkaca.

”Doakan akyuuuu, yaaa…” teriak Srikandi, pamit setelah jauh. Ada kesan Srikandi sedikit memanas-manasi Subadra untuk mendapatkan perhatian Arjuna. Plaassss!!!! Panah putri dari negeri Pancala itu menancap ke tubuh Gatutkaca. Sa’kal, Gatukaca badar menjadi sosok putri. Teriaknya, ”Heh, Srikandi, akyuu Mustakaweni dari Himaimantaka. Kejarlah aku. Rebutlah Jamus Kalimasada kalau kau memang sakti. ”Sayang, sesakti apa pun, Srikandi tak bisa terbang. Dia tak kuasa mengejar Mustakaweni.

***

Kali ini rembulan tepat di atas gunung.

”Nuwun sewu, nama hamba Bambang Priyambodo,” kata lelaki yang sungkem kepada Srikandi di bawah ketapang. Waktu itu, di dalam bengong karena tak mampu terbang untuk mengejar Mustakaweni, seorang lelaki datang dan mengejutkan Srikandi. "Asal hamba Padepokan Glagahwangi. Tempatnya di Gunung Indralaya. Kakek saya Begawan Sidiwaspada. Adapun ayah saya bernama Arjuna.”

Hah?

Kata-kata terakhir pria itu membuat Srikandi mulai menjaga jarak. Dia mulai waspada. Bukan apa-apa. Sekarang makin banyak orang yang mata pencahariannya ngaku-ngaku.

”Kusumadewi jangan gampang bersyak wasangka,” bisik Gareng ke telinga kiri Srikandi. ”Kalau dipandang dari getar suaranya, ditilik dari sorot matanya, bisa saja ini orang tulus. Bukan musang berbulu domba.”

”Ya, leres sang dewi,” sambung Petruk di telinga kanan. ”Selama ulat-ulat itu masih tak berbulu domba, kita harus tetap menghormati ulat-ulat itu....”

Bagong menyambung bisik di tengkuk Srikandi, ”Tapi, aku setuju Dewi Srikandi tetap curiga. Sekarang, dengan pemanasan global dan perubahan iklim, rumput tetangga memang tak lagi hijau. Tapi, ulat tetangga lebih berbulu jika dibandingkan dengan ulat sendiri....”

”Hubungane opo, Gong?” teriak Srikandi, nengok ke belakang. Bagong sudah ngacir.

”Begini saja, heh Priyambodo,” tegur Srikandi. ”Akyuu punya syarat kalau memang kamu minta tolong akyuu mempertemukan kamu dengan Raden Arjuna. Ketahuilah, akyuuu ini istri Raden Arjuna.”

”Salah satu istri...” ceteluk Gareng, mengoreksi. ”Istri kesayangan Raden Arjuna itu Subadra, adik Kresna.” Petruk mesam-mesem, tambah manas-manasi Srikandi.

”Heaaaa...” sahut Bambang Priyambodo, menyitir bahasa gahol....

Srikandi mentelengi Gareng-Petruk sambil berkata kepada lelaki asing, ”Apa di kawasanmu, Gunung Indralaya itu, kamu seorang anggota dewan, heh Priyambodo?”

”Bukan. Hamba rakyat biasa....”

”Kalau awakmu bukan anggota dewan, ya lumrahnya rakyat biasa bekerja dulu, baru dapat upah. Jangan seperti anggota dewan, minta gedung baru terlebih dahulu padahal belum bekerja....”

Petruk menyela, ”Lha wong ulat-ulat saja sudah bekerja di berbagai kota tanpa minta pohon-pohon baru lebih dulu. Ya sudah, mereka ngantor di pohon-pohon lama yang sudah ada sejak zaman Bung Karno dan Pak Harto....”

Gareng: Cocok. Kerja dulu, baru upah . Untuk mendapatkan cinta Dayang Sumbi, Sangkuriang harus membangun perahu lebih dulu. Untuk mendapatkan kasih sayang Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso harus lebih dulu bersusah payah membangun Candi Prambanan.

”Yak tul.” Nada Srikandi meninggi. ”Heh, Priyambodo, memangnya segampang itu akyuuu akan menjumpakan awak peno dengan suamiku, Raden Arjuna yang kamu aku-aku sebagai buuuuapakmu. Lihat tuh di dirgantara, perempuan yang kondenya menutupi rembulan itu, terbanglah dan tangkap perempuan majenun yang mentang-mentang dan kini angslup sudah ke sela-sela mega itu….” Bumi gonjang-ganjing...

***

Wah, seru....

Bagaimana kelanjutan Priyambodo berperang melawan Mustakaweni? Tanya saja kepada para teroris. Itung-itung, kalau ditanya tentang cerita wayang, mau nggak mau mereka pasti mbaca buku-buku wayang. Mereka akan sibuk membaca alam semesta, iqra, dan mungkin nggak punya waktu buat ngebom.

Yang jelas, akhir dari balada ini, Priyambodo menjadi pengantin dengan Mustakaweni dalam gamelan Kebo Giro, Monggang, dan Kodok Ngorek… [sujiwotejo]