Mbilung Chaiyya Lupa ke Limbuk | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Mbilung Chaiyya Lupa ke Limbuk Reviewed by maztrie on 3:49 AM Rating: 4,5

Mbilung Chaiyya Lupa ke Limbuk

PONOKAWAN perempuan yang nggak nikah-nikah itu Limbuk. Perawan abadi. Dia anak wadon semata wayang Cangik. Kalau di Mahabarata, biasanya dua-duanya jadi abdi Kurawa. Nduk Ramayana, mereka jadi TKW di Alengka. Fleksibel.

Ndak laku-laku rabi mungkin karena badan Limbuk gembrot. Tetapi, ah, ini kan cuma teori. Namanya cinta tak pandang bulu. Malah banyak yang bilang cinta itu buta. Mau gendut mau kerempeng ndak masalah. Mau gendutnya di dada yang full silikon atau di bokongnya yang abis dioperasi plastik...juga no problem.
Buktinya, Mbilung juga pernah termehek-mehek nang Limbuk. Abdi dalem kerajaan Trajutrisna itu malah sudah mau ngelamar si janda Cangik segala, lho. Nahasnya, Mbilung alias si Tokun tersebut  terganjal masalah. Ketika masih  jam dines, Tokun nyanyi-nyanyi lagu Chaiyya Chaiyya. Oleh sesama abdi yang sirik karena ndak bisa nyanyi, si Tokun dilaporkan ke Raja Boma Narakasura.

Walah, sebenarnya ketika diwaduli soal Chaiyya Chaiyya tuh, Boma Narakasura nggak marah. Di takhta Trajutrisna, Putra Prabu Kresna dari Dewi Pertiwi itu cuma terhenyak, lalu menahan senyum. Patih pertama, Raden Pancadnyana, segera bablas mau menemui Mbilung. Patih kedua, Raden Arya Supawala segera menyusul. Dia mengingat kan Pancadnyana, ’’Prabu Boma tadi ndak marah lho, Mas. Cuma terhenyak lho... Abis terhenyak, Prabu Boma malah senyum-senyum. Tandanya beliau ndak ngambul soal Chaiyya Chaiyya... Iya kan?’’
Ah, Patih Pancadnyana tak menggubris Arya Supawala. Lelaki gagah berambut gondrong itu langsung memanggil Mbilung alias Tokun alias Sarahita.

***
Mbilung Chaiyya Lupa ke Limbuk
’’Kamu tahu nggak, Mbilung,’’ kata Pancadnyana. ’’Di khatulistiwa ada negara yang disebut NKRI, yaitu Negara Karaoke Republik Indah-nian... Karena di negeri itu, presidennya nembang... polisinya nembang... semua nembang-nembang... Kamu ingin negara Trajutrisna nanti jadi negara karaoke juga gara-gara kelakuanmu!!!? Shah-ruhk, Khan? Eh ndak, kan?’’
Mbilung, ya Sarahita, cuma tertunduk kelu. Seniornya sesama abdi, yaitu Togog alias Tejomantri, sudah mau bangkit membela, tetapi Patih Pancadnyana sudah telanjur menjatuhkan hukuman. Sanksinya, selain kurungan, dada Mbilung harus digedekan dengan silikon. Tujuannya, di penjara nanti dia ndak terlalu lincah lagi goyang-goyang. Lagi pula, kalau goyangnya terlalu menunduk, dengan dada sebesar bantal itu Mbilung akan gampang jatuh tersungkur.

Para tabib istana sudah berkerumun. Operasi dada akan terlaksana. Seorang sipir penjara tergopoh-gopoh datang. ’’Maaf Patih Pancadnyana,’’ haturnya setelah menyembah. ’’Dada narapidana ini tak perlu dioperasi karena sampai sekarang baju- baju penjara berukuran standar. Nanti nggak ada yang cukup buat narapidana ini. Sedangkan untuk bikin baju baru, perlu anggaran... Ini pemborosan. Nanti rakyat protes... Wong kita mau bikin gedung perwakilan kawula saja rakyat protes... apalagi kalau kita mau bikin baju narapidana berdada ndak umum.’’
Patih Pancadnyana menepuk batuk. Dia langsung setuju.

***
Ini menjelang Mbilung dijebloskan ke bui dengan diiringi seniornya, Togog. Mendadak massa berdatangan ke alun-alun. Dalam tempo sekejap, entah sudah berapa ribu warga Trajutrisna yang meluapi lapangan. Mereka berpekik-pekik amboto rubuh di bawah terik. Rupanya getok tular tentang Mbilung menyanyi Chaiyya Chaiyya cepat menyebar.
’’Masak Mbilung nggak bisa dimaapin, Pak De...’’ teriak kelompok di sudut utara. Spanduk di sisi timur bertuliskan,  ’’Ini bukan lagu biasa, Om. Ini lagu India. Sekali lagi, India. Wayang kan juga dari India...?’’

Orator demonstran berapi-api di bawah wringin kembar, ’’Ini aslinya malah lagu sufi , lagu yang suci... lagu rakyat... Aslinya Thaiyya Thaiyya... Videonya ditarikan Shahrukh Khan dan Malaika Arora di pegunungan Tamil Nadu. Bagus...’’
’’Setujuuuuuu.....!!’’ teriak nenek-nenek berbaju merah.
Yang lain saling menimpali, ’’Ya kalau nggak bagus, masak Chaiyya Chaiyya ngetop nduk India dan Inggris, hayo?’’

’’Bener banget iku... Film Hollywood pada 2006, Inside Man, juga pakai lagu Chaiyya Chaiyya...’’
’’Arti Chaiyya kan berjalan di keteduhan...  Asyik kan?’’ celetuk anak kecil yang manjat beringin sambil ngemut es krim.
Orator: Aku tahu... Aku tahu... Bintangnya Denzel Washington dan Clive Owen kan? Itu bintang-bintang top Hollywood. Makanya, kenapa di negara Trajutrisna yang konon berbudaya ini kok Mbilung tidak boleh nyanyi Chaiyya Chaiyya...

***
Gegap gempita di alun-alun itu menggetarkan juga. Patih kedua, Arya Supawala, berunding dengan Patih Pancadnyana: ’’Mas, kalau begitu ini kesempatan emas... Hmmm… ini kesempatan emas... Kita buat momentum ini justru untuk ngasih citra baik ke masyarakat. Mbilung jangan kita hukum, tetapi justru Mbilung kita dukung untuk menyanyi. Biarkan Mbilung menghibur masyarakat sehingga masyarakat lupa probelm kita...’’
’’Lho, korps kita tidak punya kasus-kasus yang perlu ditutup-tutupi. Buat apa membiarkan Mbilung menghibur agar masyarakat terlena. Apa yang perlu ditutupi? Kita tidak punya rekening gendut...’’ sanggah Pancadnyana.

’’Iya, memang kita tak punya rekening gendut, Mas. Tetapi, masyarakat sekarang sedang berkasak-kusuk tentang asal-usul raja kita Prabu Boma Narakasura. Kalau Mbilung dibiarkan menyanyi, ditanggap sana-sini, rakyat akan lupa soal rekening gendut, eh soal riwayat Prabu Boma Narakasura.’’
Ancene. Menurut pedalangan gagrak Jawa Timur, kelahiran Prabu Boma Narakasura alias Prabu Sitija memang suram. Dia lahir dari kama yang salah alamat. Saat perang tanding Batara Wisnu dan Kebondanu yang tak rampung-rampung, tibatiba Batara Wisnu kangen ke istrinya, Batari Pertiwi.

Saat itu belum ada pengaman dari bahan karet atau lateks. Itu lho  ’’sarung mini’’ yang menurut beberapa media massa kini banyak ditemukan di tong-tong sampah para wakil rakyat di Senayan.
Maka, kama Batara Wisnu muncrat mengenai keringat Kebondanu, raksasa yang berkepala kerbau. Kalungnya juga kecipratan kama. Terjadi keajaiban. Gempa muncul sangat kuat menggonjang-ganjing bumi. Badan Kebondanu terpental hingga jatuh dan tewas. Kalung gentanya terlempar jauh sampai di pangkuan Sang Hyang Nagaraja. Genta atau gongseng di pangkuan Nagaraja itulah yang kelak menjadi Boma Narakasura...
Asyiiiiik.... Sekarang rakyat Trajutrisna sudah melupakan kisah muram rajanya. Mereka semua terbius oleh Chaiyya Chaiyya yang dibawakan Mbilung.

***
Rakyat melupakan sisi gelap negara. Sebaliknya Mbilung karena tiba- tiba tenar jadi lupa diri. Dia tak mau ingat Limbuk. Wong pas papasan di pasar, Mbilung bukan saja tak membalas sapaan Limbuk. Dia malah melengos kok....

Ooooo.....Kejaaaaaam....Kejaaaaaam.....

Dilupakan Mbilung, Limbuk putus asa, tetapi tak sampai sewindu. Pada awal tahun kesembilan, tepatnya Kamis Pon, dia didekati wong lanang. Dia ndak peduli Limbuk kegemukan atau tidak. Pokoke lelaki lemah lembut itu suka Limbuk babar blas. Limbuk juga kesengsem oleh pikiran lelaki tersebut. Katanya di suatu tikungan, ’’Mbuk, negeri ini kayak begini terus karena nggak klop. Para pemimpinnya terlalu guyon, tetapi rakyatnya terlalu serius...’’

Lantas di tikungan itulah mereka ciuman pertama...Mbooooook....

Tetapi, malang kembali menimpa Limbuk. Ternyata, setelah 32 tahun pacaran, Limbuk baru tahu, eh cowoknya ternyata seorang perempuan. Kebalikan dari yang pernah terjadi di Nusantara.

Selidik punya selidik, ternyata dia juga perempuan korban Mbilung. Mbilung melupakannya setelah tenar dengan Chaiyya Chaiyya. Putus asa, dia mengganti identitasnya sebagai lelaki. Apalagi dia penggemar Raden Lesmana dari Ramayana. Adik Prabu Rama itu kan sebenarnya bukan laki-laki tulen. Maka, Rama nggak perlu cemburu pada Lesmana ketika meninggalkan istrinya, Sinta, cuma berduaan di hutan. Rama hengkang memburu kijang kencana.

’’Kalau ada perempuan bisa menyamar jadi laki-laki seperti Lesmana, berarti kebalikannya laki-laki bisa pula menyamar jadi perempuan,’’ renungnya.

Hubungan Limbuk dan bakal suaminya itu pun bubrah. Proyek gedung baru wakil rakyat juga mangkrak di tengah jalan. Karena rencana semula, gedung itu dibangun buat penghargaan kepada rakyat. Simbolisnya, gedung baru wakil rakyat tersebut akan digunakan sebagai mantenan Limbuk.

’’Ya sudah, Mbuk. Mungkin memang sudah garisnya gedung itu ndak usah dibangun,’’ ujar si emak, Cangik, sambil menyanyi Chaiyya Chaiyya... [sujiwotejo]