pek-Engtay di Negeri Wirata | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
pek-Engtay di Negeri Wirata Reviewed by maztrie on 3:42 AM Rating: 4,5

pek-Engtay di Negeri Wirata

DOKTER nek sakit bisa pergi ke sejawat dokter lain. Pelawak nek butuh ketawa harus sambat ke siapa? Belum pernah ada dagelan kalau sedih terus nanggap dagelan. Satu-satunya cara mereka terhibur adalah menanggap diri sendiri...

Kabar gegeran antara Menpora dan PSSI membuat Bagong sedih. Kabar sik terkatungkatungnya

kasus Century membuat Gareng tak kalah sedih. Sama dengan dua ponokawan itu, Petruk pun sedih. Kita sudah nduk ambang krisis makanan. Lha kok para pemimpin masih lebih sibuk saling memakan.

Untung, Petruk eling wanti-wanti bapaknya, Semar. Janganlah kita pameran sedih di depan orang yang sedang ingin melampiaskan kesedihannya. Kualat. Maka, dengan purapura ndak sedih lagi, Petruk berusaha menghibur adiknya, Bagong.

’’Masih mending, Gong, Menpora tak mengakui PSSI. Kosok balen PSSI tidak juga mengakui Menpora,’’ ujar Petruk. ’’Lha timbang masing-masing ndak ngakui dirinya sendiri hayo? Umpamanya PSSI tidak mengakui bahwa dirinya PSSI, Menpora tidak mengakui bahwa dirinya Menpora... Tambah remuk to?’’
Bagong tidak tertawa nanggepi Petruk yang berusaha membuatnya terpingkal-pingkal. Kakak tertua mereka, Gareng, berusaha membantu Petruk.

Dengan pura-pura nggak sedih kok Century masih ngambang, Gareng bilang, ’’Masih wajar kalau Pak Nurdin Halid mohon presiden memecat Menpora, timbang minta Menpora mecat presiden?’’

Bagong tetap tak ketawa. Gareng bingung.

Namun, raut muka Bagong sudah mulai mengandung tanda-tanda ingin tersenyum.

Gareng lantas dianggap berhasil mencairkan suasana. Maka, Bagong dan Petruk mendaulat dagelan Gareng untuk mendagel di depan dua dagelan lain.

***

Hanya rembulan yang tidak ndagel malam itu.

Sang Hyang Candra terasa lebih besar dan lebih dekat ke bumi malam itu. Lebih ndadari dari bulan lalu, saat supermoon yang berulang per 18 tahun. Gareng bercerita tentang kisah cinta Pronocitro dan Roro Mendut, tapi yang versi Eropa, yaitu Romeo and Juliet. Petruk dan Bagong menolak. Keduanya sedang sebel ke Eropa karena bersama Amerika ngroyok Libya.

’’Mbok perang itu satu lawan satu,’’ celetuk Bagong.

’’Mercusuar dilempar terasi, Ujung Kamal kapalnya banyak//Koar-koarnya sih demokrasi, ujung-pangkalnya rebutan minyak,’’ sambung Petruk. ’’Oalah mugo-mugo wae negeri Tiongkok tak tinggal diam nonton Kadhafi entek ngamek dijadikan bancakan.’’

’’Cino? Ya sudah kalau begitu kisah Pronocitro dan Roro Mendut versi Tiongkok saja ya, Gong, Truk... Judulnya Sampek Engtay...’’

Petruk dan Bagong setuju Sampek Engtay tapi pakai syarat. Syaratnya, lakon asmara itu musti ada lucu-lucunya. Maka, berceritalah Gareng saat itu tentang bocah perempuan Engtay dari Shangyu. Setelah dewasa, gadis dari keluarga kaya tersebut pergi ke Hoangzhou untuk menuntut ilmu. Agar jiwa raganya selamat, Engtay di Hoangzhou menyamar sebagai pria.

Nah, di sekolahan itu ada murid lelaki dari Kuaji bernama....

’’Sebentar,’’ Bagong memotong. ’’Engtay itu ayu kan. Pasti tukang tipu... Sekarang kan lagi musim wong wedok ayu nilep duit banyak orang di kota-kota...’’

Petruk mangkel gara-gara cerita Gareng terpotong.

’’Aduh, Gong, sejak zaman sebelum Roro Jonggrang, namanya orang cantik itu memang berbahahahahahahya.... Kingkong tidak terbunuh oleh senjata... Yang jadi lantaran munyuk raksasa itu mati ya sopo maneh kalau nggak perempuan.’’

’’It was beauty kill the beast... ngono coro Inggrise...’’

sela Gareng, ponokawan yang paling sok intelektual.

’’Tapi, anehnya,’’ lanjut Petruk, ’’Sudah tahu bahwa dari dulu perempuan cantik itu berbahaya...

kok kita sampai sekarang masih maumaunya ditipu.....? Yo wis, lanjut dongengnya, Kang Gareng...’’

Kocap kacarita...

Di sekolah Engtay ada seorang murid lelaki dari Kuaji bernama Sampek. Orangnya sederhana dan baik hati. Semakin hari Engtay yang nyamar wong lanang itu semakin jatuh hati ambek Sampek. Pemuda itu menolak berkencan dengan sesama lelaki. Engtay akhirnya tak kuasa hingga membuka kedok bahwa dirinya perempuan. Sampek pun jatuh hati. Keduanya sama-sama kelimpungan.

’’Nah, pada puncak cinta Sampek dan Engtay itu!’’ Gareng meninggikan nada ceritanya hingga Bagong dan Petruk terbangun. ’’Pada saat mereka sedang terhuyung-huyung oleh asmara tersebut, Engtay disuruh pulang oleh orang tuanya. Dia akan dinikahkan dengan keluarga yang sama-sama kaya...’’

Bagong dan Petruk protes. Mereka keberatan.

’’Ini lakonnya kok terus-terusan sedih, Kang Gareng? Padahal, tugasmu bikin kami ini ketawa,’’ keduanya kompak menuntut sulung ponokawan itu agar melucu.

Ya, yok opo yo? Kisah Sampek Engtay memang nggak ada lucu-lucunya. Ini kisah asmara yang tragis. Sampek tewas saking hatinya kayak diiris-iris. Engtay melompat masuk kubur Sampek. Keduanya keluar menjadi sepasang kupu-kupu.

***

Gareng putar haluan. Lakon dibelokkan.

Maklum, Bagong dan Petruk menganggap lakon tersebut terlalu sedih. Dalam versi Gareng, setelah Engtay angslup masuk kubur Sampek, keduanya keluar lagi tak menjadi kupu-kupu. Keduanya menjadi sepasang ulat bulu yang lalu beranak-pinak merata di Probolinggo sampai ke kerajaan Wirata.

Hah?

’’Lho. Kalau penangangan kasus Century saja tidak istiqomah, tidak konsisten, boleh dong ulat juga ikut-ikutan tidak konsisten. Mereka tidak bermetamorfosis jadi kepompong dan kupu-kupu... tapi tetap saja kerasan jadi ulat....’’ alasan Gareng. ’’Setuju,’’ celetuk Petruk. ’’PSSI dibekukan, tapi dana pembangunan gedung baru DPR malah dicairkan... Tidak konsisten... mestinya dua-duanya dibekukan...’’

Ketidakkonsistenan itu ditiru oleh ulat-ulat.

Mereka ndak mau konsisten dari ulat berubah kepompong jadi kupu-kupu. Mereka tetap menjadi ulat dan menghujani tlatah Probolinggo, kota tempat Damarwulan dahulu kala perang tanding dengan Menakjinggo, sampai akhirnya ulat-ulat itu merata ke negeri Wirata.

***

pek-Engtay di Negeri Wirata

Saat itu di Wirata sedang ada Pandawa menyamar.

Mereka bersembunyi untuk jangka setahun. Ingat kan? Setelah mereka kalah bermain dadu dengan Kurawa, Pandawa harus hidup 12 tahun di hutan. Lalu anak-anak Pandudewanata itu harus singidan selama setahun. Nah, bareng dengan ulat, angin pun membawa mereka ke kerajaan yang dipimpinPrabu Matswapati.

Semua berlangsung sesuai dengan pakem pedalangan. Yudistira menyamar jadi dukun Dwija Kangka. Nakula menjadi Grantika atau Dharmagranti yang mengurus kuda istana. Sadewa menjadi Tantripala. Tugasnya ngopeni sapi-sapi di peternakan. Paling gampang Arjuna. Dulu dia pernah dikutuk oleh Dewi Uruwasi menjadi banci lantaran Arjuna menolak cinta Uruwasi. Kini sempurnalah Arjuna menjadi wandu dan mengajar tari di istana Wirata.

Empat Pandawa itu mengerjakan sesuatu seperti dalam skenario asli pedalangan. Hanya Bima yang agak meleset. Balawa atau Jagal Abilawa, nama samaran Bima, tidak menjadi jagal pemotong ternak untuk makanan istana. ’’Dengan badan sebesar dan setegap itu serta rambut rembyak-rembyak, halah halaaaaah tugas Jagal Abilawa ternyata Cuma membunuh ulat-ulat satu per satu di seluruh negeri Wirata,’’ ujar Gareng.

’’Kok nggak disemprot wae, Kang Gareng?’’ protes Bagong.

’’Belum ada semprotan waktu itu, Gong...’’

Bagong bersikukuh. Mestinya ndak papa dalam wayang ada semprotan. ’’Hidup aja bebas, apalagi wayang,’’ Bagong makin ngotot. ’’Dalam hidup itu nasabah bank boleh dibunuh. Duit nasabah juga boleh dirampok pegawai bank. Bebas. Masak dalam wayang nggak boleh ada semprotan ulat...?’’

Sebenarnya, maksud Bagong, semprotan ulat itu juga bisa jadi palupi atau teladan karena efek membunuhnya rata tanpa pandang bulu. Wahai para polisi dan orang-orang KPK, kalau mereka masih pandang bulu, berarti kalah nyali ama tukang semprot ulat bulu di Probolinggo.

Gareng pikir-pikir. Lamaaaa...

’’Jadi,’’ tanya Petruk, ’’Mas Jagal Abilawa itu tetap mitesin ulat satu-satu dengan kuku Pancanaka?’’

Gareng mantuk-mantuk. Ketiganya lalu ketawa bareng-bareng. [sujiwotejo]