Raja Sodha Makan Rakyat Sendiri | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Raja Sodha Makan Rakyat Sendiri Reviewed by maztrie on 3:57 AM Rating: 4,5

Raja Sodha Makan Rakyat Sendiri

AUH sakdurunge Prabu Rama merajai Ayodya, tersebutlah sang raja berjuluk Prabu Sodha alias Kalmasapada. Pada hari perburuan yang menggebu di belantara, eh ada brahmana berdiri nduk jalan setapak. Para hulubalang Ayodya menyuruhnya minggir. Iya dwoong, sang raja Ayodya mau lewat.

”Alah, alah, taruhan, mesti ae brahmana iku emoh minggir,” kata ponokawan Bagong, menyambut dongeng kakaknya, Gareng. ”Emoh ming gir, wong zaman itu belum ada sirene, belum ada klakson pengawal yang suaranya menyakitkan kuping, ngooooorrrgh ngooooorrrgh... Iya, kan?”
Betul. Justin Bieber juga belum ada waktu itu.
”Kalau video bokep?” celetuk Petruk.
Para pengawal Prabu Sodha itu sampai kehabisan kata-kata untuk mengusir sang brahmana.
Akhirnya, sang Prabu Kalmasapada pun sampai...
”Wah, aku nggak direken....” Petruk garukgaruk kepala. 
Ndassmu iku, Truk. Aku lanjutkan, akhirnya Prabu Kalmasapada bicara sendiri kepada brahmana yang ternyata punya nama Sakri. Sakri pun ngeyel meski tetap sopan dan santun.
”Wah, pencitraan, dwoooong....” Petruk ndak kapok-kapok menyela.

Bukan untuk citra, Truk. Zaman itu belum ada citra. Citra itu baru ngetop sejak zaman Pak Harto, ada Festival Film Indonesia (FFI).
Raja Sodha Makan Rakyat Sendiri
Hadiahnya kan Piala Citra. Terus, pada 1991, FFI kelangan pamor. Citra alias pencitraan mulai muncul lagi naliko 2004. Waduh, please, Petruk, kisahku dari zaman Ayodya kuno jangan dipotong-potong, woooong....
”Hehehe, ya sudah. Tapi, aku senang. Paling tidak Kang Gareng sudah mau ngrewes omonganku.
 
Lanjutkan!”
JAUH sakdurunge Prabu Rama merajai Ayodya, tersebutlah sang raja berjuluk Prabu Sodha alias Kalmasapada. Pada hari perburuan yang menggebu di belantara, eh ada brahmana berdiri nduk jalan setapak. Para hulubalang Ayodya menyuruhnya minggir. Iya dwoong, sang raja Ayodya mau lewat.
”Alah, alah, taruhan, mesti ae brahmana iku emoh minggir,” kata ponokawan Bagong, menyambut dongeng kakaknya, Gareng. ”Emoh ming gir, wong zaman itu belum ada sirene, belum ada klakson pengawal yang suaranya menyakitkan kuping,
ngooooorrrgh ngooooorrrgh... Iya, kan?”
Betul. Justin Bieber juga belum ada waktu itu.
”Kalau video bokep?” celetuk Petruk.
Para pengawal Prabu Sodha itu sampai kehabisan kata-kata untuk mengusir sang brahmana.
Akhirnya, sang Prabu Kalmasapada pun sampai...
”Wah, aku nggak direken....” Petruk garukgaruk kepala.
Ndassmu iku, Truk. Aku lanjutkan, akhirnya Prabu Kalmasapada bicara sendiri kepada brahmana yang ternyata punya nama Sakri. Sakri pun ngeyel meski tetap sopan dan santun.
”Wah, pencitraan, dwoooong....” Petruk ndak kapok-kapok menyela.
Bukan untuk citra, Truk. Zaman itu belum ada citra. Citra itu baru ngetop sejak zaman Pak Harto, ada Festival Film Indonesia (FFI).
Hadiahnya kan Piala Citra. Terus, pada 1991, FFI kelangan pamor. Citra alias pencitraan mulai muncul lagi naliko 2004. Waduh, please, Petruk, kisahku dari zaman Ayodya kuno jangan dipotong-potong, woooong....
”Hehehe, ya sudah. Tapi, aku senang. Paling tidak Kang Gareng sudah mau ngrewes omonganku.
Lanjutkan!”
Yup. Lanjut. Kata Begawan Sakri dengan lemah lembut, ”Mohon maaf, Sinuwun Prabu Sodha. Bukannya hamba menentang, tapi adat lupiyo yang berlaku sejak zaman kino-makino mengajarkan, kalau raja terhalang lakunya oleh brahmana, rajalah yang harus mengalah, rajalah yang harus sumingkir.”
Sigro muntab lir kinetab, duko yayah sinipi, jojo bang mawingo-wengis..!!!
”Yaaaang aaaartinya,” sela Bagong.
Yang artinya, segera merah padam muka sang raja di depan kaum pemburu dari istana. Netro kocak ngondar-andir wadananiro mbaranang koyo kembang wora-wari bang.... Mata sang raja mendelik berputar-putar. Wajahnya memerah laksana kembang sepatu. Dicambuknya Begawan Sakri dengan cemeti sang raja.
”Aaaaaaaacccchhhh...!!!” Petruk membayangkan rintihan sang begawan.
Tak tahan oleh gelegak marahnya lantaran cambukan, Begawan Sakri tak kuasa menahan sotnya, serapahnya, kutuk pastu yang pasti terjadi jika dilontarkan oleh manusia berkelas brahama. Kata-katanya bagai sinetron. ”Heh, Kalmasapada, berani-beraninya engkau mencambuk diriku yang hina dina ini. Tidakkah kau tahu bahwa tingkah lakumu telah tak beda dengan raksasa. Oooo... aku sumpahi engkau kelak menjadi raksasa yang gemar memangsa manusia!!!”
Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap....
Benarkah kelak serapah itu terwujud?
”Ikuti kisah selanjutnya di video bokep sidang pariporno. Hehehe.” Petruk dan Bagong cengengesan sembari ngacir.
***
Saking saktinya Begawan Sakri di dalam alkisah Gareng, sang begawan pun mampu mende ngar kelakar Petruk-Bagong. Dia sotkan pula agar lanjutan kisahnya benar-benar muncul dalam video bokep sidang pariporno.
Para wartawan yang bertugas di parlemen melongo kabeh. Maksud hati ingin memergoki para anggota dewan yang mengintai video porno dalam sidang paripurna. Ternyata, para anggota dewan yang terhormat itu malah nonton video wayang.
Para juru warta kuciwa. Para insan pers gi git jari. Apa menariknya bikin kabar bahwa para anggota dewan nonton wayang. Itu kabar baik. Kabar baik tak akan dibaca masyarakat. Para pemimpin redaksi mereka menyuruh reporternya sekali lagi ngecek ulang, benarkah yang anggota dewan tonton itu wayang. Jangan- jangan cuma halusinasi. Jangan-jangan itu dampak hipnotis, seperti yang sekarang dilakukan oleh banyak orang yang ngaku pengin mendirikan negara Islam.
Wah, benar kok. Bukan video bokep, kok. Para anggota dewan itu benar-benar menonton wayang kok di laptop mereka, sedang menguriuri kabudayan luhung kagungan Nuswantoro.
***
Tampak di video, kerumunan 30 jutaan orang di siang terik. Mereka bukan duyunan aksi demo Hari Buruh 1 Mei. Mereka, ternyata, para penganggur dan orang-orang miskin yang meminta sedekah makan daging kepada Raja Sodha. Selama ini, mereka cuma makan gaplek, tiwul, dan nasi aking. Mereka tadahkan jutaan pasang tangan kepada raja di tapal batas kota, sepulang perjalanan raja dari berburu.
Ada juga bocah balita yang minta daging.
Bocah itu sudah berbulan-bulan sendirian merawat ibunya yang lumpuh tanpa kepedulian pamong praja.
”Oke... oke.. sebentar, ya... bentar..” dawuh Raja Sodha di terik siang itu, terus bablas ke istana. Tapi, lha wong capek karena habis berburu, sang raja bleg sek ketiduran di peraduan.
Malamnya, Raja Sodha terbangun. Kaget begitu teringat janjinya kepada jutaan orang lapar di tapal batas kota. Dia perintahkan juru madaharan memasak daging.
”Waduh, Sinuwun.” Juru madaharan tergopoh- gopoh. ”Persediaan daging sudah habis.
Baru saja kami juga dapat laporan, duh ketiwasan, Sinuwun, ternyata ternak-ternak sudah lenyap dari seluruh penjuru kerajaan.”
Apa yang terjadi? Sang juru madaharan terkejut, kok rajanya sudah berubah dari tabiat biasanya.
Dia tak menyangka babar blas bahwa rajanya akan memerintahkan menyembelih orang-orang penjara malam itu. ”Masak dagingnya. Kasih ke 30 jutaan orang lapar di gerbang kota,” perintah Raja Sodha.
Di luar dugaan, jutaan orang miskin, termasuk bocah balita perawat ibu itu, nggak go blok-goblok amat. Lapar sih lapar. Tapi, mereka mengendus bahwa itu pastilah daging manusia. Mereka menolak. ”Ingat. Doa
orang-orang teraniaya itu manjur,” teriak mereka  kompak sambil memorak-porandakan  daging manusia ke udara. ”Kami doakan Raja Sodha betul-betul menjadi pemakan manusia!
Hayo, makanlah kami ketimbang hidup tanpa kerjaan dan kelaparan!”

***
Para anggota dewan yang menonton adegan di laptop masing-masing itu terperanjat. Ada  yang heran, lho kok orang miskin menjadi 30 juta orang. Bukannya cuma 12 jutaan orang?
Ah, benar kok, kata yang lain. Malah, mestinya 40 jutaan orang. Cuma satu-dua yang sibuk mengacungkan jempol kepada polisi karena mengurungkan bom Jumat Agung. ”Tapi, dalang pengeboman itu, Mr P, seperti kata Pak Polisi, apa Mrs V?” ujar yang lain dengan panik.
Selebihnya tetap berdebat soal angka 30 juta.
Di dalam sengitnya perdebatan, mendadak semua diam tatkala menginjak adegan berikutnya.
Yaitu, 30 juta orang miskin seketika lenyap dalam video. Semuanya mak jleg cuma menjadi seorang diri. Dialah seorang pandita bernama Begawan Sakri.
Kini bukan saja sifat Prabu Sodha alias Kalmasapada yang bagai raksasa. Sosoknya sudah bernar-benar berubah berupa raksasa. ”Heh, Sakri,” geramnya, menggelegar sampai tujuh gunung. ”Aku menjadi raksasa pemangsa manusia karena sotmu. Maka, kumakan kau!!!”
Begawan Sakri pun dia telan bulat-bulat.
***
Ketua dewan perwakilan itu kini bahagia. Para anggotanya kini justru nonton kesenian tradisional. Maraklah di gedung parlemen tersebut kini tontonan-tontonan tradisi lain dari Sunda, Bali, Batak, Bugis, Ternate, Ambon, dan lainlain.
”Kepaaaada angiiiin… dan buuurungburuuung....”
Saking senangnya, sang ketua menyenandungkan lagu kesukaannya dari almarhum Franky Sahilatua.
Mendengar lagu country yang pernah kondang dinyanyikan oleh Franky dan Jane itu, suasana menjadi asri. Adem. Begitu pula kebiasaan suasana di pertapaan Maharesi Wasista. Tapi, sejak kematian anaknya,  Begawan Sakri, suasana berkabunglah yang menyelimuti pertapaan. Apalagi, selain Sakri, Raja Sodha memakan 99 saudara Sakri. Salah seorang di antara mereka malah nggak ditelan, melainkan konon ditembak. Anehnya, di kepala korban ditemukan peluru kaliber 9 mm, tapi senjata revolver barang bukti berkaliber 3,8 mm.
”Lho, Kang Gareng, itu kan kasus kasus Pak Antasari Azhar....”
Ah, Bagong, Petruk, nggak tahu lah. Pokoknya, punah sudah seratus anak Maharesi Wasista sekarang.
Ujuk-ujuk datanglah Prabu Sodha. ”Wahai Sang Resi, aku datang tak untuk memangsamu. Malah aku ingin minta tolong. Pas Jumat Kliwon itu, aku nguntal pasangan suami istri yang berolah asmara. Aku dikutuk akan mati kalau melakukan sanggama dengan permaisuriku,
Dewi Madayanti. Maka, tolonglah aku. Beri kami keturunan....”
Resi Wasista tak berkomentar.
Prabu Sodha lantas berkata, ”Kalau kami tak punya keturunan, musnahlah bangsa Ikswaku. Baiklah. Barangkali Sang Maharesi tega kepadaku. Tapi, mungkinkah Panembahan tega kepada Prabu Sudasa, ayahku, murid Panembahan?
Akhire, Dewi Madayanti hamil....
”Lho, diapakno?” tanya Bagong dan Petruk.
Pertanyaan tak perlu dijawab, seperti masih banyaknya pertanyaan yang tak terjawab di negeri ini. [sujiwotejo]