Semata Karena Cinta Budaya Jawa | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Semata Karena Cinta Budaya Jawa Reviewed by maztrie on 1:18 AM Rating: 4,5

Semata Karena Cinta Budaya Jawa

LIHATLAH semangat "Kartini" masa kini ini. Titi Sugiyati, SH setiap hari Selasa dan Jumat memacu motornya dari Purwodadi-Semarang, begitu sebaliknya. Hingga sampai di rumahnya nyaris tengah malam.
Itu dilakoni wanita dengan anak 4 ini selama 5 bulan, persisnya sejak bulan November 2010 sampai April 2011, saat ia mengikuti kursus pranatacara dan medhar sabda (penata acara berbahasa Jawa) di "Permadani" Kota Semarang, sampai akhirnya ia lulus dan diwisuda.

Sebagai lulusan Pawiyatan Pranatacara Tuwin Medhar Sabda di kampusnya Museum Rangga Warsita Semarang, Titi Sugiyati, SH adalah salah satu "Kartini" masa kini yang perduli pada kebudayan Jawa.

Wisuda kelulusan itu berlangsung di tempat yang sama Selasa (19/4). Bersama 39 siswa lainnya, Titi Sugiyati yang berprofesi sebagai pengacara di Purwodadi ini telah resmi dan memiliki kelayakan terjun di dunia kepenatacaraan terutama dengan bahasa Jawa yang baik dan benar. Sebuah profesi yang relatif sedikit peminatnya, karena harus menggunakan bahasa Jawa krama inggil, yakni sebuah tataran bahasa Jawa tinggi.

Apa yang membuat Titi tertarik dengan profesi pranatacara, kendati ia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengacara? "Semua itu karena ingin ikut melestarikan budaya Jawa," kata Titi, "Lantas siapa lagi yang akan nguri-uri kebudayaan kita sendiri?" lanjut advokad yang mengaku sering bolos kurus jika ia tengah menangani suatu perkara.


Pemadani Sunda.

Para Wanita "Permadani"
Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia atau "Permadani" adalah sebuah organisasi yang melestarikan kebudayaan para leluhur yang berada di seluruh Indonesia. "Maka jika di Jawa Tengah ini ada Permadani yang berlandaskan budaya Jawa, maka ada juga Permadi Sunda, Padang, Manado, bahkan Papua," kata Anwar Effendi, Pengurus Permadani Pusat.

"Pawiyatan Pranatacara tuwin Pamedhar Sabda", adalah kegiatan Permadani Kota Semarang Ratualiyan yakni wilayah yang dibentuk dari 3 kecamatan yakni Semarang Barat, Tugu dan Ngaliyan.
Berdiri 4 Juli 1984 organisasi berskala nasional ini mendidik para anggotanya untuk trampil bersikap dan berbahasa Jawa yang baik dan benar,"Perdani ini organisasi non komersial, karena semata untuk kecintaan pada budaya Indonesia dan bebas dari pengaruh politik," kata R. Budiman, ketua Permadani Ratualiyan.
Pawiyatan di Permadani Ratualiyan itu sudah mewisuda sebanyak 65 bregada (angkatan. Kampusnya berada di Museum Rangga Warsita Semarang. Pada angkatan 65 atau angkatan 15 Ratualiyan ini sebanyak 40 siswa dinyatakan lulus. Ditandai dengan pengalungan samir dan menerima piagam kelulusan.

Usia siswa amat beragam, dari usia 21 sampai usia 50 tahun. Kelak para lulusan ini akan trampil menjadi pembawa acara dengan bahasa Jawa yang baik dan benar.

Selama 5 bulan pendidikan diberikan pelajaran antara lain: kepermadanan (pengetahuan tentang Permadani), budi pekerti, basa tuwin sastra jawa (bahasa Jawa dan sastra Jawa), kepenatacaraan (penata acara), rangkeping wicara (fasih berbahasa), ngadat tatacara Jawi (paham adat istiadat Jawa), sekar lan gendhing (lagu dan tembang Jawa), serta ngedi busana (pengetahuan ketrampilan berbusana). [suaramerdeka]