Baladewa Nikah Menghibur Inggris | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Baladewa Nikah Menghibur Inggris Reviewed by maztrie on 4:16 AM Rating: 4,5

Baladewa Nikah Menghibur Inggris

INI hari raja-raja. Seluruh raja diundang ke pernikahan Kerajaan Inggris, kecuali Raja Dangdut Rhoma Irama. Ndak tahu kalau raja monolog seperti Butet Kartaredjasa. Dan itulah pangkal problema. Petruk baru saja jingkrak-jingkrak lantaran jadi raja Ngrancangkencana. Gelarnya Prabu Belgeduwelbeh.

Ingat lakon Petruk Dadi Ratu kan? Tapi, Prabu Tongtongsot, julukan lain Belgeduwelbeh, langsung lemes. Wah, ternyata dirinya nggak diulemi oleh Kerajaan Inggris buat pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton.
 
Dia ndak masalah waktu Pak Hatta Rajasa ndak mengundangnya pada hari pertunangan Aliya-Ibas, yaitu hari besanannya dengan Pak SBY. Pak SBY dan Pak Hatta kan tokoh-tokoh negara republik, yang Kerajaan Jogja saja mau mereka ubah jadi republik. Inggris lain. Inggris dan Ngrancangkencana sama-sama ke rajaan.

Tapi, kalau emang podo-podo kerajaan, kok gak ngundang-ngundang?
 
’’Oalah kebangeteeeen... kebangeten...’’ Raja Tongtongsot/Belgeduwelbeh sambil nungingg- nungging di lantai memukul-mukul marmer pendapa.

Untung Ponokawan Gareng mencairkan suasana.

’’Justru kamu harus bangga tidak diundang,’’ bujuk Gareng.

’’Hush, kamu jangan ngamu-ngamukan aku ya. Ini di depan banyak punggawa. Babu-babu gini, aku ini raja lho,’’ bisik Petruk.

Baladewa Nikah Menghibur Inggris
Gareng segera menyembah dan meralat, ’’Paduka tidak diundang justru harus bangga.
Berarti tongkrongan Paduka Prabu Tongtongsot sudah semartabat Presiden Amerika Barack Obama yang juga tidak diundang... Justru kalau diundang, derajat kamu, eh paduka, lebih rendah ketimbang pemimpin negara superpower itu...’’

Para petinggi di pasamuwan agung Keraton Ngrancangkencana mendadak jadi ceria.
Mereka melihat kini raja mereka mulai senyam- senyum lagi. Malah Raja Carucakra, ya si Tongtongsot itu, tak cuma cengengas-cengenges, tapi juga sedikit banyak kambuh menjadi Petruk yang penuh keusilan. Dia meminta saran kepada penasihat spiritualnya bagaimana cara mengisengi pernikahan William-Kate.

’’Ah, gampang,’’ kata Dewi Undanawati, istri Petruk yang kini secara KKN diangkat sebagai satgas pemberantasan mafi a spiritual. ’’Orangorang Inggris sekarang sedang menyeleksi kuda- kuda kereta pernikahan. Soalnya nanti kan banyak kerumunan orang di jalan-jalan. Ramenya ndak umum. Jadi, cuma akan pilih kudakuda yang tingkat ketenangannya tinggi. 

Nah, kita susupkan saja kuda Gagak Rimang untuk ikut diseleksi.’’

’’Apakah kuda itu anteng?’’

’’Oh suamiku, eh rajaku, Gagak Rimang bukan cuma tenang. Kuda itu sangat-sangat tenang.
Peninggalan Arya Penangsang dari Jipang Panolan.
Selain anteng, dia pintar dan sangat sakti. Di antara belasan kuda Inggris penarik kereta Pangeran William-Kate, Gagak Rimang tidak akan minder.

Malah akan memengaruhi kuda-kuda lain.’’

’’Terus?’’

’’Sudahlah Rajaku, eh suamiku, eh rajaku... Kita
 lihat saja nanti...’’

***
Kuda-kuda yang menarik kereta mempelai Kerajaan Inggris ternyata memang nurut Gagak Rimang. Setelah berderap mengikuti jalur arak-arakan sesuai protokol Istana Buckingham, Gagak Rimang memengaruhi kuda-kuda lain untuk menyimpang jalur.

Persis di depan gereja bersejarah Westminster Abbey kuda-kuda bergerak aneh. Duyunan penonton di tepi-tepi jalan sebelah utara Sungai Thames itu terhenyak. Begitu pula seluruh pasukan kerajaan. Akhirnya para kuda mengumbulkan kereta terbang membawa Pangeran William-Kate ke Tanah Jawa. Sepanjang perjalanan pasangan baru kerajaan itu tertawa-tawa menerawang keindahan Nusantara dari dirgantara.

Yuk konco ning gisik gembirooo... ing dino minggu...pariwisoto...

Terdengar sayup-sayup lagu Praon dari Ki Narto Sabdo...
Lalu, sampailah pasangan Inggris di tepi Bengawan Sore. Kali besar itu pada pertengahan abad ke-16 dahulu menjadi tempat Gagak Rimang mengantar bosnya, Arya Penangsang, dari Jipang Panolan, melawan Sutawijaya utusan Jaka Tingkir di Pajang. Kini suasananya telah menjadi pasar malam. Di keramaian pedagang kaki lima dadakan itu, tontonan wayang orang telah dipersiapkan oleh Raja Tongtongsot/Begeduwelbeh.

Lakonnya seru, Baladewa Rabi alias pernikahan anak raja Mandura, Baladewa, dengan putri Prabu Salya dari Mandaraka, Dewi Erawati. Mandaraka menentukan syarat pinangan. Selain kayu dewandaru, gagarmayang, gamelan lokananta, juga gadis dusun yang kembar cantik-cantik minimal 140 pasang.

Ah, Kate Middleton iri mendengar prasyarat itu. Betapa ringan syarat yang diajukannya kepada Pangeran William dibanding syarat Dewi Erawati kepada Kakrasana, yaitu Baladewa kala muda. Mobil mewah Inggris Rolls Royce lebih gampang didapat ketimbang gamelan lokananta, gamelan di kahyangan Surayalaya yang dapat berbunyi sendiri tanpa ditabuh. Lalu 140 gadis dusun kembar dan cantik-cantik?

Kakrasana meminta bantuan adiknya. yaitu Narayana, Kresna kala muda, untuk mencari 140 gadis dusun kembar dan cantik-cantik.

***
Penonton bersorak-sorai... Bintang bertaburan di atas Bengawan Sore. Wayang orang di tepi Bengawan Sore yang khusus dipentaskan buat Pangeran William dan Kanjeng Ratu Kate Middleton kini menginjak babak goro-goro. Yang jadi Gareng dan Bagong benar-benar Gareng dan Bagong asli yang sudah ada di Kerajaan Ngrancangkencana pimpinan Prabu Tongtongsot. Lalu, siapakah yang jadi Petruk? Bukannya Petruk sudah menjadi raja, menemani tamu sesama raja?

’’Halah... masyarakat protes paling abis itu lupa,’’ saran Dewi Undanawati, ketua satgas mafi a spiritual.

’’Wong seorang presiden saja boleh nyanyi. Masak raja nggak boleh jadi Petruk... Iya to?’’ 

Setelah mantuk permisi kepada Pangeran William dan istri, Prabu Tongtongsot naik panggung jadi Petruk. Bersama Gareng dan Bagong, Petruk mengiringi bosnya, penengah Pandawa si Arjuna, yang sedang memasuki hutan dari hutan tepi yang disebut alas greng sampai yang terdalam, yaitu alas gung liwang-liwung.

Seketika hutan angker itu menjadi taman jin Setragandamayit dengan penguasanya, Batari Durga, istri Batara Kala. Kerjaan mereka memakan manusia. Tapi, untung kali ini si Durga lagi baik-baiknya. Mungkin karena baru nonton YouTube Briptu Norman lagu Chaiya-chaiya.

’’Hihihihihi, Arjunaaaa...’’ tawa Batari Durga bagai kuntilanak, bikin merinding siapa pun pendengarnya. ’’Aku tahu kamu luntang-lantung tak tentu tuju. Kamu kasmaran pengin ketemu Dewi Subadra kan? Adik Narayana? Sini aku bantu kamu. Kalau wujudmu laki-laki, susah kamu bisa menemuinya. Sinio aku sihir kamu menjadi perempuan.’’

Arjuna kini telah berubah menjadi Endang Wrediningsih, Gareng menjadi Nyai Nolok, Petruk menjadi Jagaplok, Bagong menjadi Melindang Deeng. Semua cantik-cantik. Mereka meninggalkan Setragandamayit alias Krendawahana, jauuuh sampai akhirnya ke lereng Gunung Gadamadana, tepatnya di pertapaan Pandita Kapi Jembawan dan anaknya Endang Jembawati. Ndilalah di situ sudah ada Narayana bersama adiknya, Dewi Subadra, yang sedang mencari 140 pasang gadis dusun kembar dan cantik-cantik.

Kebetulan, dengan kedatangan Endang Wrediningsih, Nyai Nolok, Jagaplok dan Melindang Deeng, kini genaplah 140 pasang gadis dusun kembar cantik-cantik dari pegunungan Gadamadana.

Semua berarak-arakan menuju Kerajaan Mandaraka, tempat Prabu Salya akan menikahkah putrinya, Erawati, dengan Kakrasana.

***
Kerajaan Mandaraka. Terang bulan. Janur kuning. Satu malam sebelum pernikahan. Terjadi geger di asrama keputrian. Perempuan- perempuan abdi dalem Mandaraka berteriak- teriak ketika tahu bahwa yang tidur di sebelahnya bukan perempuan, tapi ternyata Gareng, Petruk, dan Bagong. Mana tangannya aktif grayang-grayang lagi.
Begitu juga Dewi Subadra dan Banuwati, adik calon mempelai putri Erawati. Keduanya tidur sekamar dan seranjang dengan Endang Wrediningsih.

Sontak keduanya juga menjerit-jerit tatkala tahu bahwa perempuan yang tidur di tengah-tengah itu ternyata Arjuna. Subadra wadul kepada kakaknya Narayana. Eh, ternyata dia lagi berpacaran dengan Endang Jembawati, putri pertapa Gadamadana. Maka, dia melapor ke kakak tertuanya, Kakrasana.

Baru saja Kakrasana hendak melabrak Arjuna dengan gada Nenggala, tersiar kabar bahwa Dewi Erawati diculik raja raksasa Kala Wredadi dari Kerajaan Giridasar. Arjuna langsung bablas merebut Dewi Erawati. Berhasil. Kakrasana berterima kasih dan mengampuni Arjuna soal dia tidur bareng Subadra dan Banuwati.

Kelak Subadra bersuami Arjuna. Banuwati diperistri Prabu Duryudana dari Astina, tapi juga jadi selingkuhan Arjuna. Sebenarnya Era wati juga naksir Arjuna. Apalagi Arjuna-lah yang mampu membebaskannya dari tawanan raja raksasa. Bukan Kakrasana. Narayana pun kelak menikahi Endang Jembawati, menjadi salah satu di antara empat istrinya.
’’Wah honey, ternyata love and perselingkuhan not only bermekaran in Buckingham Palace ya,’’

begitu pada akhir pertunjukan bisik PangeranWilliam kepada Kate Middleton.
Ketika dua tamu terhormat itu hendak pulang ke Inggris, datang para petugas dari Jakarta.
Dengan tegas mereka membubarkan seluruh bentuk monarki, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Maka, Prabu Tongtongsot kembalilah menjadi Petruk. Pangeran William dan Kate Middleton mudik ke nama aslinya, Pak Sosro dan Bu Sosro. Sejoli itu berjualan kupang dan lontong balap nduk Japanan. [sujiwotejo]