Joki Soal-soal Mahabarata | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Joki Soal-soal Mahabarata Reviewed by maztrie on 4:23 AM Rating: 4,5

Joki Soal-soal Mahabarata

Jangan anggap enteng hal sepele. Nama bisa sama tapi cuma ketambahan satu huruf tok, orangnya bisa beda lho. Contoh, Hidhimba itu laki. Hidhimbah, sama-sama raksasa, tapi wedok. Hidhimba kakak Hidhimbah. Yang kini dipergoki Pandawa di suatu hutan gung liwang-liwung adalah Hidhimba. Sang Raja Raksasa mengendus bau manusia calon mangsanya. Langsung ia perintahkan adiknya meringkus kelima orang tersesat itu

"Langsung diringkus kus kus kus...!!!" ujar ponokawan Petruk sambil meragakan gerak meringkus dan menyeret...
                "Belum," potong kakaknya, Gareng.

                "Ngringkusnya nunggu tempo yang tepat. Nanti pas ada isu-isu yang perlu dialihkan," celetuk bungsu ponokawan Bagong asal njeplak.

                "Ndak karena itu juga, Gong," Gareng menjelaskan. "Kabar-kabar miring tentang kerajaan Prabu Hidhimba sudah berhasil ditutupi oleh para prajuritnya. Mereka disuruh menyanyi India, asal-usul Ramayana-Mahabharata. Masyarakat berhasil dilenakan dari berita-berita ndak enak soal kerajaan. Kini rakyat asyik menyanyi-ria."
Petruk menambahkan, "Sekarang juga ditampilnya, eh, ditampilkan prajurit-prajurit perempuan cantik-cantik di televisi, dari acara lawak, sulap sampai masak-memasak. Masyarakat terbuai, lupa belang-belangnya kerajaan."
                Iya sih. Gareng ada betulnya. Penangkapan Pandawa diundur bukan karena belum ada isu-isu tentang borok kerajaan yang harus ditutup-tutupi oleh peristiwa penangkapan. Tapi karena begitu Hidhimbah melihat langsung Bima, raksasa perempuan itu langsung mak byuk jatuh cinta.

                Hehehe...ya kalau sudah kasmaran mau diapain. Ingatlah pesan Semar, "Tahukah kalian pekerjaan yang paling sia-sia di muka bumi, yaitu memberi nasihat kepada orang yang sedang jatuh cinta..."


    ***

Joki Soal-soal Mahabarata
                Desas-desus tentang NII, yaitu Negara Ini Itu, sedang santer-santernya di kerajaan Hidhimba dengan "mba" nggak pakai "h". Ketika sudah 40 hari 40 malam tak pulang-pulang, pihak kraton curiga raksasa perempuan Hidhimbah sudah terekrut oleh NII. Hanya ponokawan Togog yang mengingatkan tentang mustahilnya perekrutan itu. "Karena Hidhimbah bukan mahasiswi. Biasanya yang direkrut oleh Negara Ini Itu adalah mahasiswi," petuahnya dalam sidang di pendapa kraton.

                "Ndak mesti, Kang," bantah ponokawan Mbilung, wakil Togog. "Siapa saja bisa ditarik NII. Artis-artis juga ..."

                "Itu mungkin NII yang lain, Lung. Yang kita rembuk sekarang adalah NII yang Negara Ini Itu...Khusus merekrut mahasiswi...Hmmm...Di pasamuan agung di pendopo ini aku malah mau bertanya nih ke Prabu Hidhimba...mumpung ada kesempatan..."

                Togog ngacung, mengapa NII tidak dibubarkan dari dulu-dulu saja wong sudah banyak bukti tentang aktivitas mereka. Benarkah NII sengaja dipelihara dan diulur-ulur penyelesaiannya untuk kepentingan politik tertentu entah apa. "Otak saya ndak nyandak," kata Togog. Tapi Raja Hidhimba tak mendengar pertanyaan itu. Mungkin karena pikirannya sedang dikabuti oleh raibnya adinda kesayangan Hidhimbah. Sang Prabu diam mematung.

                Maka, tanpa titah raja, prajurit mengambil inisiatif sendiri. Atas saran Togog agar tak mencurigai NII dalam kasus hilangnya Hidhimbah, para prajurit mencari adik bosnya di luar sarang NII. Mereka berangsur-angsur berangkat dari kraton di hutan terdalam, yakni alas gung liwang-liwung, makin keluar yang disebut alas gledhegan atau gerotan, sampai ke luar lagi dekat tepi hutan yang disebut alas greng.

                Hidhimbah tak tertemukan juga....

                Para raksasa yang sudah hampir keluar hutan akhirnya balik lagi. Pertama, tidak mungkin Hidhimbah yang bersosok raksasa perempuan keluar hutan. Pasti minder ama gadis-gadis desa. Kedua, di luar hutan para raksasa tak tahan melihat kebun ganja yang sudah dilegalkan oleh kerajaan di luar raksasa. Mereka tak tahan bau ganja juga.

                Ketika para raksasa berbalik, di perbatasan hutan gerotan dan gung liwang-liwung ada sembilan pohon randu alas berjajar. "Bener kan, Kang Togog, sembilan pohon randu alas itu pertanda Kompartemen Sembilan alias NII KW9," bisik Bilung. Suaranya amat pelan tak mau mengganggu keangkeran hutan.

                "Bukan, Lung. Lihat di sebelahnya ada tujuh beringin tua berjajar. Berarti ini gerbang Setragandamayit alias Krendawahana, wilayahnya Batari Durga."

                Di bawah rindang salah satu beringin tua itu ternyata ada perempuan menangis bersesenggukan: Raksasa perempuan Hidhimbah. 


***

                Ibu Pandawa Dewi Kunti yang turut tersesat di hutan itu sudah tak kurang-kurang kasih nasihat ke Bima agar menerima cinta Hidhimbah. Tetapi Bima tetap risih beristeri perempuan raksasa. Lihatlah kini Hidhimbah menangis. Ia bukan saja menolak diajak pulang, bahkan meronta dan melawan seluruh raksasa suruhan kakaknya. Akhirnya sang kakak, Prabu Hidhimba datang sendiri ke beringin tujuh itu. Hidhimba tetap keukeuh tak mau pulang. Ia berkeras kepala untuk mengikuti Pandawa.

                Jeritan Hidhimbah ketika ditarik-tarik oleh kakaknya, terdengar Bima yang belum jauh dari situ. Bima nyamper. Terjadilah perang Prabu Hidhimba-Bima. Empat puluh hari empat puluh malam peperangan, tak ada yang unggul tak ada yang mati. Bima mengeluarkan aji pamungkas anugrah dari Batara Bayu, yaitu Sindung Riwut, masih juga Hidhimba tak mati.

                "Akhirnya Hidhimba dibuang ke laut?" tanya Bagong ke Gareng.

                "Nggak. Karena nenek moyangnya bukan seorang pelaut, Gong."

                "Lha, Osama bin Laden apa nenek moyangnya seorang pelaut?"

                Ah, sudahlah. Bagong nggak usah direwes. Lanjut cerita. Adik Bima, Arjuna, datang menawarkan bantuan. Bima menolak. "Ojok melok-melok..ini perang satu lawan satu..." geram Bima.

                Menjelang Hidhimba berhasil menguasai medan dan akan membunuh Bima, Hidhimbah melepaskan panah ke kakaknya. Prabu Hidhimba mati.

                "Sekarang maukah kamu, Bima, anakku yang paling tegap perkasa, menikah dengan Hidhimbah," tanya Kunti sambil menyembunyikan Hidhimba. Bima masih menggeram-geram. Belum sempat Bima menjawab, Kunti mengeluarkan Hidhimbah dari persembunyian. Bima kaget. Ternyata Hidhimbah kini menjadi perempuan ayu, seolah gabungan dari keayuan Dian Sastro, Alya Rohali, Maudi Koesnaidy dan lain-lain.

                "Di alam mayapada ini salon terbaik adalah cinta. Orang yang sedang jatuh cinta akan tampak cantik, apalagi jika dilihat oleh orang yang diam-diam mencintai.." kata Kunti senyum-senyum.

                Bima malu-malu. Tapi akhirnya ia dan Hidhimbah menjadi pengantin hutan. Kelak mereka beranak Gatutkaca. 


***

                Siang itu terjadi cekcok antara orangtua murid dan joki ujian esai lantaran anaknya tak diterima di peguruan tinggi. Joki ngotot sudah benar ngasih jawaban esai bahwa saat perkemahan Pandawa dibakar oleh Kurawa dalam lakon Bale Sigolo-golo, Pandawa masuk gorong-gorong. Yang membantu Pandawa adalah musang alias garangan putih. Sampailah mereka ke Kahyangan Sang Hyang Antaboga. Putrinya, Dewi Nagagini, akhirnya dinikahkan dengan Bima.

                "Jadi setelah lakon Bale Sigolo-golo itu Pandawa dan Kunti ambles bumi, bukan ke hutan," si Joki masih berkeras kepala dengan gaya pengacara.

                Si orangtua yang anaknya ikut tes perguruan tinggi tak mau kalah, "Menurut pembuat soal, yang sampeyan itu versi Nusantara...Versi asli dari India ndak gitu. Pandawa dibantu oleh pamannya, Widura, melalui mata-matanya Kanana. Perkemahan untuk anak-anak Pandudewanata di Wanarawata itu memang dirancang mudah terbakar. Perancangnya Purocana, atas perintah kakak Widura, yaitu Destarata, ayah Kurawa. Nah, Widura yang sayang Pandawa membuatkan terowongan di bawah tenda. Terowongan nyambung ke tepi sungai. Dari sungai, naik perahu, Pandawa masuk hutan..."

                "Sejak kapan wayang jadi bahan ujian esai? Dan sejak kapan ada orangtua murid ngerti soal cerita wayang? " tanya Petruk sambil garuk-garuk bokong.

                "Sejak Pancasila akan dihapuskan dari pendidikan," jawab Gareng tak kalah kesal. 

                "Terus yang soal cekcok dengan joki itu yok opo?" Bagong penasaran.

                Jalan keluar dari cekcok itu kedua pihak akan mengadu ke DPR. Tapi ternyata emailnya mental terus. Email komisi8@yahoo.com ternyata bohongan. Itu alamat ngawur karena banyak anggota DPR yang tidak tahu alamat emailnya untuk mendengarkan keluh kesah warga. [sujiwotejo]