Wayang Tak Pernah Cuti di Hatiku | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Wayang Tak Pernah Cuti di Hatiku Reviewed by maztrie on 4:40 AM Rating: 4,5

Wayang Tak Pernah Cuti di Hatiku

Setamat dari universitas, Bambungan nggak bekerja di bidang sesuai jurusannya, Teknik Mesin. Bambungan, lebih kerap dipanggil Bambung, akhirnya menjadi pengajar Pancasila anak-anak SMP di suatu pulau terpencil. Dari Pak Bambung yang kadang jenaka, anak-anak biasanya senang sekali mendengar penjelasan soal Ketuhanan Yang Maha Esa sampai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kalau Pak Bambung sedang kesal, biasanya pertanyaan siswa-siswinya soal Pancasila tak digubrisnya. "Tanya saja ke orangtuamu!" ketusnya. "Mana pernah papa dan mama cakap Pancasila," murid-murid protes. Bambung menyuruh siswa-siswinya itu bertanya ke para pemimpin. "Ah, Bapak Guru Bambungan ini kenapa bisa begini? Mana pernah para pemimpin dari sini sampai pemimpin di Jakarta sana menyoal Pancasila, Pak." 

    Pak Bambung garuk-garuk kepala. Kesabarannya kambuh. Ia mulai senyum-senyum kembali. Dengan telaten mulai ia jawab satu persatu apa itu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan lain-lain. Anak-anak SMP di pulau terpencil itu tertarik lantaran Pak Bambung menjelaskan Pancasila ndak berdasar teori. Pak Bambung ngoceh ngalor-ngidul soal dasar negara dari pengalaman hayatnya sendiri. 

Wayang Tak Pernah Cuti di Hatiku
    Waktu belajar teknik mesin di kampus misalnya, temannya beragam. Itu yang membuat Persatuan Indonesia hidup di hatinya. Berdenyut di nadinya. Umpamanya, Bambung kenal wayang justru dari Anton Ratumakin, pemuda asal Flores. Soal kisah cinta antara Rama dan Sinta dikenalnya justru dari Ipin Rajasa, pemuda asal Palembang yang mengenal Ramayana dari komik-komik RA Kosasih.     Dari mana Bambung bisa memainkan gamelan Jawa? Dari Cut Anggraeni, gadis Aceh yang lama menetap di Palangkaraya. Di kota di Kalimantan Tengah itu, di belahan sungai Kayahan dan Sabangau, Cut Anggraeni mengenal gamelan dari seorang sopir asal Gunungkidul. Itu yang kemudian diajarkan Anggraeni kepada Bambung. Lagu klasik gamelan atau Gending bernama Puspo Warno dari Anggraeni termasuk yang tak bisa dilupakan oleh Bambungan. 

    Kisah terdamparnya Bambung di pulau dekat perbatasan dengan Malaysia itu juga unik. Awalnya pemuda asal Tuban ini iseng-iseng bikin jukung dikasih mesin. Dengan perahu kecil bermotor itu Bambung kejar nelayan-nelayan Taiwan yang mencari ikan hingga ke Lamongan.

    Sebetulnya Bambung tak ingin mengejar. Badai sedang tak pasti kapan akan berlalu. Tapi ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong bilang begini, "Heh Bambung, kamu nggak kasihan sama polisi, sama tentara? Peralatan mereka terbatas. Kapal-kapal mereka juga minim. Kejar itu pencuri ikan-ikan di perairan kita..."

    Dikejarlah maling-maling kedaulatan itu oleh Bambung, olang-oleng dimainkan ombak. Maling tak terkejar. Bambung malah terdampar di suatu pulau. Ketika Bambung ingin meninggalkan pulau tersebut, ingin pergi entah kemana, perasaannya tertahan oleh airmata seorang gadis yang kebetulan juga bernama Anggraeni, rangkaian aksara yang dulu pernah menjadi teman kuliahnya di Kota Pahlawan.

***
    Pagi itu sedianya Pak Bambung akan melanjutkan penjelasan soal Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Mendadak pemimpin dusun mengabarkan kawat dari Jakarta bahwa ini hari libur. "Ayolah, cuti bersama. Kompaklah. Sila ketiga kan Indonesia Kompak, " kata Pak Pemimpin Dusun senyum-senyum. Hah? Bambung heran. Baru saja ada cuti bersama. Kini ada cuti bersama lagi?

    "Gemar cuti ini menyalahi prinsip Bhagawad Gita. Itu semacam Nyanyian Ketuhanan yang pernah dituturkan oleh Sri Kresna kepada Ndoro Arjuna. Diwejangkan pada saat sebelum Perang Bharatayuda," bisik Gareng kepada Bambung. Gareng bersama Petruk dan Bagong turut terdampar di pulau terpencil itu ketika dulu menemani Bambung mengejar orang-orang Taiwan. 

    "Inti Bhagawad Gita itu orang harus cinta sepenuh hati pada pekerjaannya," tambah Petruk. "Cinta tak kenal pengorbanan. Ketika kamu mulai merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai meredup. Saking cintanya pada pekerjaan, seorang prajuit seyogyanya gugur di pertempuran. Dokter wafat saat mengobati. Pelawak mati saat melucu. Guru meninggal berdiri di ruang kelas..."

    Bambung tercengang mendengarnya. Sepertinya lamat-lamat butir-butir mutiara itu pernah didengarnya dari Anggraeni. Dulu, sebagai balas jasa telah diajar gamelan, Bambung mengajarkan rebana gaya Tuban kepada gadis Aceh itu. Di sela-sela mengajar rebana, sambil makan nasi goreng dan telor ceplok di bawah pohon kenanga, Anggraeni melukiskan wejangan Kresna kepada Arjuna. Waktu itu Arjuna dari Pandawa sedang ragu-ragu untuk melawan kakak kandungnya yang berpihak kepada musuh di Kurawa, yakni Adipati Karno. 

    "Cuti dan libur panjang itu memang berkah, terutama bagi orang-orang yang tidak mencintai pekerjaannya," Bagong hanya menimpal pendek, tapi membuat Bambung terkesima.

***
    Bukan cuma terkesima, Bambung segera bergegas pergi ke sekolahannya. Ah, tepatnya bukan gedung sekolah. Itu bekas lumbung padi di balik bukit dekat beringin tua yang sedikit disulap menjadi ruang belajar-mengajar. Angin semilir. Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong akan keliling dusun mengabari para murid bahwa sekolah tetap masuk. Di luar dugaan, pas Bambung masuk bekas lumbung padi, anak-anak berseragam itu sudah ada duduk lengkap. Rupanya mereka sudah semangat berangkat sekolah sebelum mendengar pengumuman masuk kelas dari para Ponokawan. Hati Bambung girang bukan kepalang. 

Saking girangnya, Bambung seperti kesurupan. Pak Bambung membuat penjelasan soal Pancasila kepada siswa-siswi SMP seakan-akan ia sedang menjelaskan kepada orang-orang dewasa yang sudah menelan asam-garam kehidupan. Ia tafsir Pancasila atas dasar Hasta Brata dari tradisi wayang, tradisi yang oleh Unesco telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Hasta Brata adalah delapan laku kepemimpinan yang pernah disampaikan Kresna kepada Arjuna di Gunung Kutharunggu. 

    Kata Pak Bambung, “Ketuhanan Yang Maha Esa” berarti seluruh warga terutama para pemimpinnya lebih-lebih pemimpin puncaknya yakni kepala negara harus suwung. Suwung itu zero tetapi bukan empty. Pemimpin hanya melekat pada Tuhan. Ia tidak melekat pada yang lain termasuk pada harta benda yang dimilikinya. Pemimpin boleh kaya dan berkuasa (berisi), tetapi tidak boleh mempunyai kemelekatan pada harta-benda dan kekuasaan tersebut (kosong).

    “Kemanusiaan yang adil dan beradab” berarti manakala kemaslahatan bersama dunia membutuhkan harta benda dan kekuasasnnya, pemimpin terutama pemimpin tertinggi yang telah suwung harus merelakannya. Ini bagaikan Prabu Yudistira yang bahkan merelakan darah dagingnya sendiri diiris, bagaikan Nabi Ibrahim yang bahkan merelakan anaknya sendiri buat disembelih. 

    “Persatuan Indonesia” berarti menjaga agar Indonesia tetap utuh, agar keanekaragaman di dunia tetap terpelihara. Tidak bisa seluruh dunia kita jadikan satu negara dan satu bangsa. Ini akan menyalahi kodrat lima unsur sumber daya alam, yaitu materi, waktu, energi, ruang dan keanekaragaman. 

    Selanjutnya hanya orang-orang yang terbukti mampu menjaga keanekaragaman dunia melalui persatuan Indonesia dalam ranah kemanusian atas dasar ketuhanan, itulah yang berhak memimpin musyawarah mufakat. Itulah seyogyanya nuansa dari sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.”

    "Lalu, anak-anak," lanjut Pak Bambung. "Tak boleh ada musyawarah apapun yang agendanya bukan untuk sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rapat, kumpul-kumpul, yang agendanya bukan untuk itu, dinyatakan ilegal...”
    Tak dinyana oleh Gareng, Petruk dan Bagong, ternyata murid-murid SMP di pulau terpencil itu mantuk-mantuk, paham betul apa yang dimaksud oleh Bambungan.


***
    Gadis kuning langsat dengan rambutnya yang bergelombang menyusul ke sekolah bekas lumbung padi itu. Namanya Anggraeni. Ia ingin melapor pada Bambungan bahwa rumahnya kedatangan seorang yang mirip Nazaruddin, orang yang paling dicari-cari di Jakarta karena kasus korupsi suatu partai. Wajahnya mirip Nazaruddin, tetapi pakaiannya mirip Lesmana Mandrakumara, anak kesayangan Raja Diraja Duryudana di Astina. Anggraeni tak kuat ingin bertanya kepada Bambungan, bagaimana menghadapi anak kesayangan sekaligus paling dimanja dan dilindungi oleh rang raja.

    Tapi Anggraeni hanya tercengang di ambang pintu. Suasana kelas panik. Bambungan telah wafat sambil berdiri di ruang kelas, persis usai dia mengajar. Tangannya masih memegang kapur tulis. Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong datang tergopoh-gopoh. "Nggak ada dokter, nggak ada mantri klinik. Rumah sakit tutup," kata Gareng ke Anggraeni sambil mengangkat pundaknya, "Semuanya cuti!" [sujiwotejo]