Doa dan Kerja Melebur di Laut Peluh | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Doa dan Kerja Melebur di Laut Peluh Reviewed by maztrie on 3:15 AM Rating: 4,5

Doa dan Kerja Melebur di Laut Peluh

INI mungkin sudah tahun ketiga Cutilo Bambang menyopir taksi. Dulu dia seorang kapiten. Pas jadi sopir kapal laut itu, pelabuhan negara Eropa mana yang belum pernah dia sandari? Hampir kabeh. Asia-Afrika yang dulu pernah disatukan oleh Bung Karno, Cutilo juga sudah menyandari semua bandar-bandar kotanya.

Tanpa ibarat tampak dalam mimpiku orangorang menguras air samudera. Orang-orang bekerja di dalam doa, orang berdoa di dalam kerja. Doa dan kerja telah melebur ke dalam lautan peluh...
Syair itu selalu menggugah jiwa Cutilo Bambang untuk berdoa sekaligus bekerja dan sebaliknya. Tapi Cutilo agak kesal, mangkel. Mangkelnya, selama nyetir kapal laut tidak ada ucapan Titi DL, yaitu hati-hati di laut. Yang sering diwanti-wantikan masyarakat cuma Titi DJ yaitu hati-hati di jalan. ’’Wah, bahaya ini, artinya orang se-Indonesia ndak ada yang berdoa untuk keselamatan sedulur-sedulur di samudera,” batin Cutilo.

Sejak itu saking kesalnya, Cutilo si nakhoda langsung melamar jadi sopir taksi di jalanan. Ibunya tok yang biasa-biasa saja, ndak pake heran-heranan atas keputusan Cutilo. Perempuan lanjut usia itu sudah kenyang asamgaram serumah bersama Cutilo. Mas Cutilo yang perjaka abadi ini orangnya memang agak nyen trik. Lha wong namanya saja sebenarnya bukan Cutilo. Cuma gara-gara kesal ke para pemimpin yang gemar cuti bersama, yang cuma nyandu berdoa tapi ndak nyandu kerja, maka namanya ia plesetkan jadi Cutilo.



***

Doa dan Kerja Melebur di Laut Peluh
Meski sudah terbiasa punya anak ndableg begitu,ibunya akhirnya ndak kuat juga nahan tawa. Masa’ suatu pagi pas mau berangkat narik taksi, anaknya berdandan ala wayang orang. Cutilo macak menjadi Resi Bisma, kakek  Pandawa dan Kurawa.

Soal kostumnya sendiri ibu Cutilo ndak heran.

Yang membuatnya heran, apa nanti orangorang ndak takut mau naik taksi anaknya karena nyangka pengemudinya agak kurang beres. “Coba kalau Cutilo punya istri... mungkin ada yang mengingatkan dia. Mungkin dia nggak bakal aneh-aneh begini,” pikir sang ibu.

Janda ini masih terus berharap agar anak semata-wayangnya kelak menikah, harapan itu pula yang membuat sang janda bertahan hidup.


Hmmmm....


Prakiraan manusia boleh-boleh saja, seperti prakiraan terhadap kondisi gunung Bromo maupun gunung Dieng. Tapi Tuhan bisa berkehendak lain. Ternyata setelah memakai kostum wayang orang Bisma ketika naksi, taksi Cutilo     Bambang justru banyak dinaiki orang. Caloncalonpenumpang tak ada yang menyangka sopir berkostum wayang itu adalah pelarian rumah sakit jiwa. Mereka malah acung jempol.

Lantas segera menyebarlah cerita tentang sopir taksi berpakaian wayang pewaris tahta Astina itu, Resi Bisma. Kabar menjalar baik dari koran, televisi maupun dunia maya. Banyak wisatawan mancanegara maupun domestik ketika datang ke kota itu memilih antre kadang berhujan-hujan nunggu taksi Cutilo Bambang, ketimbang harus naik taksi yang sopirnya bukan wayang.

Ah, bukan cuma itu. Tak sedikit pelancong asing dan dalam negeri yang ingin juga macak ala wayang orang. Warga kota jadi bergairah karena saban hari mereka menjadi punya harapan. Bisnis penyewaan kostum wayang orang tumbuh pesat. Langkah Cutilo pun diikuti para pengemudi taksi lainnya. Mereka ada yang pakai kostum wayang orang dari dunia antagonis seperti Cakil, Burisrowo, Duryudana, Rahwana dan lain-lain.



***

Suatu hari dari suatu hotel berbintang, naiklah orang berkostum Bagong, Petruk dan Gareng.

Mereka dari Negara yang berbeda-beda dan semula tidak kenal satu sama lain. Yang naik taksi pertama si Petruk. Ia duduk di kursi depan, karena ingin menjajari Resi Bisma yang pegang kemudi. Si Bagong yang sedang antre bilang, “Ketimbang harus nunggu lama, yok opo nek saya dan orang ini ikut?”

Petruk setuju. Sopir setuju. Melesatlah mereka berempat keliling kota dengan bayar patungan.

Mereka kompak minta diantar ke sungai Gangga.

“Kok nang Kali Gangga?” tanya sopir Cutilo Bambang.

“Aku pengin nonton suasana sungai itu saat pertama kali ayahmu, Prabu Santanu ketemu Dewi Gangga...” Petruk seperti biasa ngomong sambil mesam-mesem.

“Wah, Pak Petruk, bukannya saya nggak mau nganter sampeyan semua ke sana. Tapi sungai Gangga tidak ada di kota ini. Adanya di India.”

Petruk terdiam, sambil mendengarkan tembang gamelan klasik dalam taksi, Mijil Wigaringtyas.

Gareng berdecak-decak kagum. “Tapi aku kagum sekali padamu, Pak Sopir,” pujinya.

“Walaupun di kota ini nggak ada sungai Gangga, kamu tampil seperti Bisma…”

Gareng seperti biasa dengan gaya sok tahu dan menggurui lantas menuturi sopir taksi tentang asal-usul Bisma. Dulu, tutur Gareng, Raja Santanu, sang penguasa Astina, bersedia menikah meski dengan syarat yang berat. Dewi Gangga bersedia mengabdi dan melayani apa pun kebutuhan sang raja pewaris takhta Astina itu asal dengan satu syarat: Bisma tak akan bertanya alasan ini-itu tentang apa yang bakal diperbuat istrinya.

Apa yang terjadi setelah keduanya menikah?

Bayi pertama pasangan Dewi Gangga dan Santanu dibuang oleh Dewi Gangga sendiri ke kali.

Raja Santanu heran. Tapi ia menahan diri untuk menanyakan alasan pembuangan bayi.

Begitu juga bayi kedua dan seterusnya sampai yang ke tujuh. Pada pembuangan bayi kedelapan

barulah Sang Raja Santanu tak tahan.

Dengan menahan geram Santanu bertanya, ’’Wahai Dewi Gangga istriku, semua calon pewaris takhta Astina kamu buang sudah ke sungai Gangga. Aku mulai khawatir siapa penerus darah-dagingku yang kelak berwenang mengendalikan kerajaan. Bolehkah Kakanda kini tahu alasan Diajeng membuang bayi-bayi itu…”

Bayi kedelapan itu tak jadi dibuang oleh Dewi Gangga. Tapi sangat mengejutkan Raja Santanu ketika ternyata istrinya berubah menjadi bidadari yang segera melenyap ke angkasa.

’’Bayi ke delapan itulah kamu, Bisma, ” kata Gareng ke sopir taksi. Hampir saja taksi menabrak becak saking terkejutnya si sopir.

’’Sopir edan!” teriak tukang becak. “Dasar Cakil!”

’’Hoiii.. Itu bukan Cakil. Goblok. Itu Werkudoro,”

sahut sesama pembecak yang juga sok tahu.

Taksi terus melaju.

’’Maaf saya kaget. Nggak nyangka kalau riwayat Bisma seperti itu, Pak Gareng,” sopir taksi

ngos-ngosan.

’’Lho nggak tahu asal-usul Bisma kok kamu pakai kostum Bisma?”

’’Ya karena ini satu-satunya pakaian wayang yang tersisa milik teman saya, Pak Gareng. Kostum-kostum lain sudah dijual... “

Hening.

’’Eh, Bapak-bapak... Jadi kita mau ke mana ini? Di sini tidak ada sungai Gangga... Adanya sungai Ciliwung atau sekalian ke laut...?” sopir memecah kesunyian.

Bagong: Ya sudah sak karep-karepmu, mau ke sungai Gangga atau sungai apa, pokoknya ke tempat yang ada airnya...



***

Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong telah berada di lautan yang tak ada alamatnya di peta. Dan aneh. Kalau malam, kenapa ada matahari?

Kalau siang, kenapa langit gelap. Sudah delapan tahun ibu Cutilo Bambang melapor polisi, di laut mana kini posisi anaknya masih teka-teki. Yang jelas di situ ada kapal tua setengah karam bernama Baruna, seperti kapal yang dahulu pernah dinakhodai Cutilo.


’’Akulah Dewa Baruna,” kata bangkai kapal yang bisa berbicara itu. ’’Ketujuh anak-anak yang dilahirkan oleh Dewi Gangga itu sebetulnya adalah para brahmana yang pernah dikutuk oleh anakku, Maharesi Wasista.”

Wasista mengutuk para brahmana tingkat wasu itu karena mereka mencuri lembu Nandini miliknya. Lembu Nandini adalah lambang harapan masyarakat di suatu negara. Kutukan Wasista, kelak para wasu itu akan menderita.

Untuk menebusnya mereka harus lahir sebagai manusia biasa lebih dahulu melalui gua garba Dewi Gangga, lantas meninggalkan dunia. Mereka adalah Sang Dhara, Dhruwa, Soma, Apah, Anila, Anala, Pratyangga dan Pranbhata.

“Di antara ke delapan wasu yang lahir ke dunia dan kemudian moksa, ada yang masih tetap tinggal di mayapada menjadi Bisma, seorang ksatria utama tetapi tak pernah menikah sepanjang hayatnya...” Dewa Baruna melanjutkan.

Ponokawan Gareng dengan sok tahu menambahkan penjelasan kepada Cutilo Bambang,


’’Makanya jangan melenyapkan harapan masyarakat, seperti mencuri lembu Nandini itu. Harapan itu penting. Kita sanggup tahan seminggu, tanpa makan minum, tapi tak sanggup kita hidup meski cuma sedetik tanpa harapan...’’ [sujiwotejo]