Lupa Udin se-Mayapada | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Lupa Udin se-Mayapada Reviewed by maztrie on 3:10 AM Rating: 4,5

Lupa Udin se-Mayapada

Gareng boleh cerewet kayak betet sewu andum memangsan. Tapi untuk urusan pernikahan putrinya, sulung ponokawan itu mak klakep diem 1.000 bahasa. Ia tak secerewet betet seribu rebutan pakan. "Jadi pendapatmu itu yok opo, Kang Gareng?" siang malam Dewi Sariwati, istri Gareng, cerewet. Sariwati bertanya tentang boleh atau tidak putrinya menikah dengan si Udin.

Mulut Sariawan, eh, mulut Sariwati masih terus komat-kamit di bawah lentera. Gareng ngacir begitu saja. Dari Bluluk Tibo, dusunnya, Gareng alias Cakrawangsa itu malam-malam bablas ke dusun Pucang Sewu, tempat Bagong. "Kamu ingat kan, Gong? " Gareng langsung memulai percakapan dengan adiknya. "Aku mau ngomong apa ke istriku? Lha wong dulu waktu ponakanmu itu dapat mens pertama, aku juga gak bisa ngomong. Aku juga langsung pergi dari rumah."


Lupa Udin se-Mayapada
    Bagong meminta istrinya, Bagnawati, membuatkan minum untuk kakak iparnya. Hening. Burung malam terdengar di balik bukit. Lolong serigala memanjang sesekali. Tanggapan Bagong lama setelah Gareng menyeruput kopi pahit, "Sekarang anakmu yang sudah first blood itu akan menikah dengan Udin..Terus kamu ndak bisa ngomong apa-apa. Hehehe...Sebenarnya kamu itu..."

     "Sik sik , Gong. Kamu tadi bilang apa? First Blood?"

     "Yes. Maksudku mens pertama..."

    "Oalah Gooooong, Gong. First Blood itu bukan mens pertama...Tapi judul film Sylvester "Rambo" Stallone. Titik darah pertama di pertempuran..."

    Cekikikan Dewi Bagnawati terdengar dari dapur, campur dengan suara nasi goreng di wajan.
    Intinya, Gareng tidak setuju putrinya yang bernama Nunun itu menikah dengan Udin. Bagong mendesak kakaknya, apakah Cakrawangsa ini keberatan karena nama lengkap Udin itu Nazarudin yang kini masih diduga lari ke Singapura? Atau, Udin yang ini tidak lari ke Negeri Singa karena nama panjangnya Syarifuddin, hakim yang diduga bermasalah? Atau gara-gara lagu Udin Sedunia yang konon menyindir Pak Nurdin Halid, lantas Gareng anti-Udin?

    "Kalau begitu cek dulu ke anakmu, Kang Gareng, sebenarnya calon suaminya itu Udin siapa?"
    Gareng ngelus-ngelus jidat.

    "Maaf Kang Gareng, bukan mau ikut campur, tapi saya setuju Mas Bagong," kata Dewi Bagnawati sambil menghidangkan nasi goreng. "Sebaiknya Kang Gareng tanya dulu ke Nunun ...Udin yang kumisan itu nama lengkapnya siapa...? Nazarudin apa Syarifuddin apa Udin Sedunia?"
    Saking kalutnya, Gareng malah ndagel. Katanya, "Nunun nggak bisa ditanya soal Udin. Nunun hanya bisa ditanya soal cek pelawat. Kalau cek pelawak tanya ke Nunung (Srimulat)."

***
    Ojo turu sore kaki
    Ono dewo nglanglang jagad
    Nyangking bokor kencanane
    Isine donga tetulak
    Sandang kalawan pangan
    Yo kuwi bagiyanipun
    Wong melek sabar narimo

    (Jangan bobo terlalu sore, sebab nanti di puncak malam banyak dewa turun ke mayapada, membawa bokor kencana, isinya doa tolak bala, dan harapan akan rezeki, itulah jatah bagi kaum yang melek, sabar dan ikhlas)

    Masih terdengar tembang klasik itu di halaman rumah di dusun Kembang Sore, ketika menjelang puncak malam Bagong dan Gareng bertandang ke rumah Petruk. Kedua ponokawan itu paham, hanya Petruk alias Kantong Bolong yang bisa berbicara enak kepada Dewi Sariwati, istri Gareng. Apalagi pembicaraan serius mengenai pernikahan Nunun dan Udin.
    Sayangnya Petruk melekan bukan untuk menunggu disambangi dewata yang membawa bokor kencana. Ia melekan untuk mabuk-mabukan sampai lupa segalanya. "Sudah aku larang minum banyak-banyak, tapi Kang Petruk ndak mau dengar saya," istri Petruk, Dewi Andanawati, wadul kepada ipar-iparnya Bagong dan Gareng.

    Jangankan diminta memberi saran ke istri Gareng soal pernikahan Nunun-Udin, lha wong Nunun itu siapa Petruk sudah lupa. Bahkan Kantong Bolong itu sudah lupa siapa Gareng siapa Bagong. "Kalau Udin, inget ?" tanya Bagong. Hah? Petruk memicing-micingkan matanya. "Udin siapa," dia balik bertanya. "Udin presiden Republik Indonesia? Atau Udin pahlawan jurnalistik? Dia terbunuh sesudah bikin berita soal korupsi pejabat di Yogya, waktu zaman Pak Harto. Udin itu?"
    Bangong dan Gareng celingukan di depan Dewi Andanawati.

***
    Satu-satunya yang diingat Petruk cuma kisah Adipati Karna. Itupun kisah ketika Adipati Karna lupa. Jadi yang diingatnya adalah soal lupa, yaitu ketika Raja Awangga di pihak Kurawa itu lupa membaca mantera saat menghadapi Arjuna dari pihak Pandawa dalam perang Baratayuda. Suami Dewi Surtikanti itu mati mengenaskan di Tegal Kuru Setra tempat perang berlangsung, hanya karena lupa mantera.

    "Kamu ingat kenapa kok Adipati Karna lupa?" tanya Petruk ke Bagong dan dijawabnya sendiri, "lantaran kutukan dari gurunya, Resi Rama Bargawa. Resi Rama Bargawa alias Rama Parasu itu memang benci pada kaum ksatria. Adipati Karna, anak Dewi Kunti dan Batara Surya, menyamarlah jadi rakyat jelata agar bisa berguru ke Resi Rama Bargawa. Tapi akhirnya Karna ketahuan sebagai ksatria..."
    "Ketahuannya bagaimana?" tanya Gareng.

    Bagong menjawil Gareng, bahwa kedatangannya ke Kembang Sore ini bukan untuk mendengar kisah Adipati Karna. Mereka berdua datang untuk meminta tolong Petruk ngomong ke istri Gareng soal pernikahan Nunun-Udin. Tapi ternyata Gareng juga sudah lupa untuk apa dia datang ke tempat Petruk. Bahkan Gareng sudah lupa bahwa Nunun itu adalah anak gadisnya.

    Gareng sebenarnya sudah tahu cerita tentang kutukan Rama Bargawa terhadap Adipati Karna alias Basukarna. Gareng sudah tahu bagaimana setelah memperoleh ilmu Bramastra, yakni ilmu tentang kemahiran memanah, kemudian Karna dikutuk oleh Rama Bargawa bahwa kelak Karna akan lupa membaca mantera dalam peperangan.

    "Kamu kan sudah tahu ceritanya, Kang Gareng. Kok nanya lagi? Kamu ngetes aku, Reng?" tanya Petruk.
    Bukannya Petruk nggak mau njawab, baik karena ditanya beneran maupun sekadar dites,  tapi masalahnya tiba-tiba Petruk juga sudah lupa lakon tersebut. Bagong, sambil kesal karena Gareng lupa urusan Nunun, ingin sekali membantu Petruk dan Gareng soal lakon itu. Celakanya, Bagong mendadak juga lupa lelakon bagaimana sampai Karna dikutuk oleh Rama Bargawa alias Rama Parasu.

    Padahal, sebelumnya, Bagong tahu bahwa suatu malam Resi Rama Parasu mengantuk dan ketiduran di paha Basukarna. Saat itu ada seekor binatang berbisa mirip kalajengking yang menyengat Basukarna alias Suryaputra. Takut gurunya terbangun, Suryaputra alias Suryaatmaja ini diam tak bergerak cuma menahan sakit. Hanya keringat Surayaatmaja yang dleweran menahan sakit sampai ia kuyup seperti orang mandi. Padahal Rama Bargawa saking pulasnya tertidur sampai selapan alias 35 hari.

    Biasanya Bagong inget, apa yang dilakukan Rama Parasu yang tubuhnya lebih gempal dari Rambo itu bangun. Sang "Rambo" tahu ada binatang berbisa menyengat Karna. Sergahnya, "Kamu menipuku, Karna! Ini pasti sudah lama terjadi. Tubuhmu membengkak dan membiru. Hanya manusia berdarah ksatria yang kuat menahan sakit seperti kamu. Padahal aku sudah bersumpah tak akan mempunyai murid kalangan ksatria! Maka aku kutuk kamu lupa mantera saat kamu memerlukannya!"

    Bagong biasanya juga inget, karena kutukan tersebut maka semua senjata Adipati Karna tak ada gunanya kelak dalam Baratayuda. Senjata Kunta, senjata Wijayacapa, senjata Kaladete ...semua sia-sia dalam menghadapi Arjuna.

    Kini Bagong, Gareng dan Petruk, semuanya sakit lupa.

***
    Istri Bagong dan Istri Petruk juga sakit ingatan. Satu-satunya yang belum dilanda lupa cuma istri Gareng, Dewi Sariwati. Katanya ke sang suami yang tak kunjung ngasih keputusan tentang pernikahan Nunun-Udin, "Perempuan suka cokelat dan es krim, tapi lebih suka kepastian."

    Ah, cinta. Sariwati menyangka Gareng jadi sakit ingatan lantaran tak setuju pada garis keturunan atau darah Udin. Bagi Sariwati, ilmu dan pernikahan sebaiknya sudah tidak membeda-bedakan darah, apa darah si calon murid atau si calon suami itu darah ksatria atau darah jelata.

    Nunun sendiri akhirnya dilanda penyakit lupa. Kini ia sedang membaca SMS lama dari Udin, tapi Nunun sudah lupa siapakah pengirim SMS ini sebenarnya, "Puncak kangen yang paling dahsyat itu ketika dua orang tidak saling menelepon, SMS, BBM dan lain-lain tetapi keduanya diam-diam saling mendoakan..." [sujiwotejo]