Ritual Tegak Odalan Pura Puncak Gunungsewu | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Ritual Tegak Odalan Pura Puncak Gunungsewu Reviewed by maztrie on 1:45 AM Rating: 4,5

Ritual Tegak Odalan Pura Puncak Gunungsewu

GENAP setahun usia Pura Puncak Jagad Spiritual Gunungsewu. Menandai ulang tahun pertama pura di kompleks Museum Kars Dunia Indonesia (MKDI) Dusun Mudal Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri ini, digelar ritual tegak odalan atau piodalan.

Sebanyak 1.262 pemedak (umat) Hindu dari Bali, datang untuk melakukan piodalan di Pura Puncak (sekitar 45 kilometer arah barat daya ibukota Kabupaten Wonogiri). Ikut hadir pula, para pemedak dari berbagai kota di Jateng, Jabar, DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Penetapan hari H piodalan, ditentukan jatuh bersamaan dengan purnamasidi tanggal 15 hari Ge Tegeh Wage, sasih (bulan) Mala Sadha, Ngunya (wuku) Kepitu, tahun Lembu Misa 1933 Tahun Saka, Windu Kuntara.

Pura Puncak, merupakan bangunan monumental di hamparan perbukitan Gunung Sewu Dusun Mudal Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro, yang lokasinya menyatu dengan MKDI. Oleh Pemkab Wonogiri, kawasan itu dirancang untuk dikembangkan menjadi kawasan jagad spiritual. Yakni menjadi pusat pembangunan bangunan-bangunan monumental dari berbagai agama, seperti masjid, pura, wihara, klenteng, patung salib dan lain-lain.

Yang konsep pembangunannya dikembangkan dari, oleh dan untuk umat. Ritual tegak odalan di Pura Puncak, dipimpin Duaji I Gede Dewa Nuaba, tokoh umat Hindu Bali yang memprakarsai pembangunan pura di Wonogiri. I Gede Dewa Nuaba, mengatakan, susah-susah membangun pura di Gebangharjo Praimantoro Wonogiri, hanya demi memenuhi permintaan Pemkab Wonogiri. Bangunan pura itu dibangun, agar menjadi bangunan seni yang monumental khas Bali.

Ritual Tegak Piodalan Pura Puncak Gunungsewu

Supaya menjadi daya tarik wisatawan agar mau berkunjung ke Desa Gebangharjo Pracimantoro Wonogiri. Ketika para wisatawan datang, mereka ringan membelanjakan uangnya di sini, agar warga masyarakat di sini tambah sejahtera. ''Tidak ada kehendak untuk meng-Hindu-kan warga Wonogiri. Sebab kami sudah sangat sibuk mengurus umat di Bali,'' ujar Dewa yang tokoh spiritual ini.

Pura Puncak, dibangun dari dana umat komunitas Koperasi Adil Bali pimpinan Dewa Nuaba. Karena itu, kepada umat yang datang merayakan piodalan, ramai-ramai melakukan ritual cap tapak tangan memakai cairan parfum untuk ditempelkan di semua bangunan pura yang terdiri atas padmasana, pengerurah, pengenter, gedong dan balai kul-kul, serta pondasi pagar.

Ritual piodalan pura, diawali puja bhakti muspa. Ini dilakukan setelah semua banten piodalan, sesaji pejati, canangsari dan air wangsupada, tirta tamba beserta dengan segala kelengkapannya, dinaikkan ke altar. Untuk memeriahkannya juga ditampilkan tari-tarian khas Bali. Ikut hadir memberikan sambutan, Ketua Parisadha Hindu Kabupaten Wonogiri Dewa Putu Suprapta. Kapolres Wonogiri AKBP Ni Ketut Swastika, juga hadir menungguinya.

Di tengah-tengah ritual piodalan, Dewa Nuaba, juga memberikan layanan doa untuk memohonkan kesembuhan penyakit bagi umat. Seorang ibu yang ketika naik ke pura digendong karena mengalami kesulitan berjalan, dapat langsung sembuh. Penderita lain yang merasa tidak tersembuhkan oleh dokter, juga dapat sehat ketika dimohonkan kesembuhannya di Pura Puncak. Kepada semua umat hadir, dibagikan buah jeruk yang dimohonkan dapat menjadi tamba (sarana penyembuh) sakit jantung, liver, dan ginjal. Kepada para pengusaha yang ingin maju usahanya, diberikan sarana bunga kantil yang telah di-pasupati. [suaramerdeka]