Doktor You Know Me So Well | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Doktor You Know Me So Well Reviewed by maztrie on 2:58 AM Rating: 4,5

Doktor You Know Me So Well

BANYAK umbul-umbul dan bau kemenyan. Pak Presiden dan Pak-Pak Menterinya sedang siap-siap pidato soal tenaga kerja yang dipancung di laladan Ngarab. Orasi akhirnya melenceng ke perkara lain akibat permintaan pemirsa. Gara-garanya ya Pak Presiden sendiri. Sabda Pak Presiden dalam mimpi ponokawan Bagong, ”Di negera demokrasi ini, semua warga cocotnya boleh menjeplakkan permintaan masing-masing, tapi kami juga berhak nyablak.’’

”Dan seperti berkali-kali telah aku ingatkan,” timpal Pak Menteri tanpa seizin Pak Presiden, ”Di negara demokrasi ini, siapa boleh apa, si anu boleh anu, asal sesuai dengan apa yang sudah dianu...”
Ada penonton yang bertepuk pramuka dan tepuk apa saja.

Doktor You Know Me So Well
Asap kemenyan makin membubung. Janur-janur melengkapi riuhnya umbul-umbul dan baliho kain poleng. Dalam mimpi ponokawan Bagong pada hari Jumat pasaran Kliwon wuku Julungwangi kemarin, Petruk yang hadir dalam acara Jumpa Pak Presiden dan Fans-nya itu nyeletuk begini: Sudahlah Pak Presiden dan Pak-Pak Menteri, ketimbang bela diri terus soal pemancungan TKW, mending cerita soal wayang. Soal bela diri biarlah diurus oleh persatuanpersatuan pencak silat.
”Wah, masih mending pencak silat!!!’’ teriak Dewi Sariwati, istri Gareng, yang duduk di bangku tribun. Perempuan itu sambil mengeluarkan jurus-jurus dan berlompatan di antara ribuan hadirin. ’’Pencak silat seperti Cimande, Bandar Karima, Silek Minang, dan lain-lain silat se-Nunsantara mengajar bela diri tanpa lempar-lemparan tanggung jawab....Iya kan?’’
Mantuk-mantuklah Presiden dilengkapi gerak tangan dan jari-jari nya. ”Baiklah kalau begitu,” retorikanya campur-campur Inggris. ”Karena di samping seorang presiden saya juga seorang doktor, maka sebagai solidaritas saya kepada doktor-doktor, saya akan bercerita tentang seorang doktor juga di dalam wayang...Yaitu, Doktor You Know atawa Dr Uno alias Druno... Saya akan kisahkan banjaran atau riwayat hidup sang Doktor...’’
’’Wow, Pak Presiden! Kenapa harus Druno alias Durno?’’ hadirin lain yang berkostum merah-merah protes, tetapi diledek oleh yang berkostum biru-biru, ’’Huuu.....’’
’’Kami ingin lakon wayang Alapalapan Surtikanti, putri Mandaraka yang kelak diperistri oleh Bung Karno, eh, Adipati Karno!!!’’ si kostum merah tetap ngotot.
Pak Presiden: Ya, ini kan negara demokrasi. Siapa boleh apa. Si anu boleh anu. Kalian boleh menyuarakan apa saja. Tapi, keputusan ada di tangan saya....
Plok-plok-plok-plok....
Tepuk tangan membahana dari kostum biru-biru, didukung oleh biru jenis lain dan yang hijau-hijau. Yang berkostum kuning-kuning bertepuk sebelah tangan...
***
Alkisah Dr You Know yang sedang pengin nikah banyak seperti seorang wali kota...
Doktor Uno alias Druno ya Durna dalam lakon Peksi Dewata pernah ingin menikahi Doktor Upadi atawa Dr Upadi ya Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala. Putri Prabu Doktor Upada alias Dr Upada ya Drupada itu mengajukan syarat. Drupadi, perempuan yang kelak secara poliandri diperistri para Pandawa, meminta agar Druno, guru Pandawa, sanggup berdebat dengan burung atau peksi kesayangan sang dewi.
Nyatanya, Dr Uno keok, tak bisa menjawab ketika burung kesayangan Dr Upadi menanyakan di manakah posisi Pak Nazaruddin dan Bu Nunun saat ini? Sang burung selanjutnya mempermudah dengan sasmito, ”Apakah dua tokoh kunci korupsi itu ada di dalam Tenda Biru-nya Deasy Ratnasari?” Itu pun Dr Uno tak mampu menjawab.
Dalam lakon Taman Maherakaca, Dr Uno kembali ditantang merenovasi taman yang rusak di negeri Pancala itu. Taman tenggelam oleh lumpur yang lebih becek jika dibandingkan dengan lumpur Lapindo. Imbalannya adalah menikahi Dewi Srikandi, adik Dr Upadi. Malang tak dapat ditolak. Nasib manusia siapa sangka. Ternyata, Dr Uno gagal. Yang berhasil memperbaiki taman malah murid Dr Uno, yaitu Arjuna.
Kenapa mahaguru yang keterampilan dan pengetahuannya lebih luas ketimbang muridnya bergelar doktor pula, tak kuasa mencapai cita-citanya?
”Karena setiap manusia pada hakikatnya mengejar impian terpendamnya sejak anak-anak, tapi sedikit sekali manusia yang mengingat impian terpendamnya itu...Hanya manusia yang mengejar impian terpendamnya yang akan mencapainya. Arjuna menyadari itu dan Arjuna mengejarnya,” perempuan berambut panjang dekat rumpun bambu berwasiat kepada Gareng. Si manis berambut sepinggang ini rupanya sedikit membocorkan spirit kitab Jitapsara.
Dalam mimpi Bagong di Jumat pasaran Pon wuku Julungwangi, Gareng lantas termangu di bebatuan. Tangannyamengepal menyangga pipinya. Sikunya bertumpu pada paha. Kakinya menekuk. Orang-orang Pusat Bahasa mengatakannya duduk ”mencangkung”. Itulah cara duduk patung bikinan August Rodin yang terkenal untuk menghiasi buku-buku fi lsafat. Dan itulah cara duduk Gareng yang sedang merenungkan kata-kata seseorang di rumpun bambu, yaitu seorang perempuan dengan kesabaran daun bambu menunggu hujan musim kemarau.
***
Seluruh hadirin yang semula berprotesan akhirnya terkesiap oleh kisah Pak Presiden tentang banjaran atawa riwayat hidup Dr You Know, yang bernama lengkap You Know Me So Well.
Dalam Lakon Kresna Kembang, Dr Uno hampir saja menikahi Dewi Rukmini, Putri Prabu Bismaka dari Kumbina. Tapi, itu batal gara-gara Sang Dewi lebih terbuai kepada Sri Kresna. Pasalnya, ketika Dewi Bertanya kepada Dr Uno tentang cinta, Dr Uno bilang bahwa cinta itu perlu pengorbanan. Menurut sang Dewi, ini pengetahuan kuno.
Kresna menjawab lebih segar. Kata Kresna kepada Dewi Rukmini, ”Cinta tidak mengenal pengorbanan. Ketika kau sudah mulai merasa berkorban, pada saat itu juga cintamu sudah mulai memudar...”
Hah?
Dalam mimpi itu, Bagong protes kepada Pak Presiden. ”Pak Presiden, kan Dewi Rukmini dibawa kabur oleh Kresna...? Bukan karena berdebat soal makna cinta...!”
Salah satu Pak Menteri membantu Pak Presiden menjelaskan. ”Kalau menurut surat Mahkamah Konstitusi, yang benar adalah yang versi Kresna dan Dr Uno kalah debat soal cinta. Soal versi Andi Nur Rukmini dibawa kabur oleh Andi Nur Kresna, itu mungkin dasarnya adalah surat Mahkamah Konstitusi yang dibawa oleh seorang sopir Andi Nur Buat...”
Bagong manggut-manggut. Seorang yang duduk di sebelahnya, mirip Raden Gatutkaca, berbisik, ”Nama saya Andi Nur Baeti alias Nunun: Ini memang banyak versi, Pak Bagong. Kalau menurut Surat Kresnayana karya Empu Triguna, Kresna tidak merebut Dewi Rukmini dari Dr Uno, tapi dari Sang Suniti, Raja dari Cedhi. Surat Hariwangsa karangan Empu Panuluh juga bilang gicu...”
Lalu, muncul lagi dalam impian Bagong, seorang perempuan berambut panjang di dekat rumpun bambu. Parasnya mirip sekali dengan Dewi Kanastren, istri Semar.
”Maka, kamu tak usah terlalu banyak baca buku, nanti kamu tambah pusing saking begitu banyaknya versiversi,” kata perempuan ayu itu kepada Gareng di bawah rumpun bambu. ”Penjelasan tentang Kitab Suci juga banyak sekali tafsir dan versi...Kamu ikut yang mana? Kenapa kamu nggak langsung saja menyumberkan diri pada Kitab Suci? Dan Kitab Suci yang sesungguhnya adalah kehidupan dan alam semesta ini...”
Angin mengelus-elus rumpun bambu. Satu dua titik gerimis mulai membasahi daun-daun bambu yang tengadah dan tabah. Perempuan mirip Dewi Kanastren itu meminta Gareng mengerjakan hal yang paling disukainya agar bisa langsung membaca Kitab Suci yang sejati.
”Saya suka jalan-jalan dan pemandangan alam, Dewi,” jawab Gareng.
”Kalau begitu, jadilah bocah angon, gembala dalam tembang Ilir-ilir gubahan Wali Songo...”
Lalu, perempuan itu menghilang.
***
Ke mana hilangnya sang perempuan dari rumpun bambu di negeri rayuan pulau kelapa?
Kabar terakhir bilang, mustaka nya sudah dipancung di Saudi Ngarabiah dan mustaka atau kepalanya telah menggelinding sampai kahyangan Suralaya. Itu berbarengan saat Pak Presiden berpidato tentang kalahnya Dr Uno bertanding melawan Semar. Banyak yang tidak tahu bahwa Mahaguru dari Sokalima itu pernah bertempur melawan TKI untuk Pandawa yakni Semar, yaitu dalam lakon Cahyandadari.
Dikisahkan bahwa di suatu senja yang tak begitu jingga, Dr Uno yang menyamar sebagai Suryandadari, berperang melawan Semar yang menyamar sebagai Cahyandadari. Dua pihak saling tahu samaran masing-masing. Tujuan Dr Uno membunuh Semar adalah mengurangi kekuatan Pandawa sehingga kalahlah kelak Pandawa dalam Perang Baratayuda.
Karena Semar sakti, titisan Batara Ismaya ini tak terbunuh dalam peperangan. Tetapi istrinya, Dewi Kanastren, menyangka suaminya mati. Ia mencari jenazah Semar ke Timur Tengah dan berakhir di pemancungan.
Bagong terbangun dan kaget. Ia bukan kaget pada jalan cerita mimpi nya yang aneh. Bungsu Semar itu kaget ketika tahu eh, ternyata, air liurnya dianggap air liur burung walet dan dijadikan obat awet muda oleh politisi di Jakarta. [sujiwotejo.com]