Penganut Kejawen Nyadran Berpakaian Jawa | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Penganut Kejawen Nyadran Berpakaian Jawa Reviewed by maztrie on 1:29 AM Rating: 4,5

Penganut Kejawen Nyadran Berpakaian Jawa

TRADISI nyadran biasanya dilakukan dengan berpakaian Muslim dan melafalkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Namun para pengangut kejawen di lereng Gunung Merapi menggelar penyadranan dengan mengenakan pakaian adat Jawa lengkap.

Dengan mengenakan ikat kepala, dan berkain jarit atau sarung, mereka melantunkan kidung-kidung berbahasa Jawa. Kidung Jawa ini mengajarkan manusia untuk selalu berbuat baik pada sesama dan berserah diri pada sang Pencipta.

Prosesi nyadran ini sendiri digelar di petilasan Sunan Giri di Dusun Wonogiri Kidul, Desa Kapuhan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. Sunan Giri merupakan salah satu dari Walisongo. Saat menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa, Sunan Giri pernah singgah di petilasan tersebut.
Para pengangut kejawen tersebut terlebih dulu menaburkan aneka bunga dan kemudian membacakan kidung Jawa. Mereka dengan khusuk mengikuti setiap prosesi nyadran. Setelah itu, mereka mendoakan para orang tua yang sudah meninggal dan para leluhur.

"Kami berhutang budi pada leluhur kami yang membuka hutan untuk membangun desa ini," kata Pemuka Adat Kejawen Ki Rekso Jiwo, seusai prosesi nyadran.
Menurut Ki Rekso Jiwo Sunan, pihaknya percaya bahwa Sunan Giri merupakan orang pertama yang membuka hutan di lereng Gunung Merapi. "Saat berdakwah menyebarkan Islam. Beliau singgah di sini dan membuka hutan. Tempat ini sekarang jadi petilasan,’’ jelas dia.

Sejarah
nyadran beskapan n surjanan
Seusai menggelar tradisi nyadran di petilasan Sunan Giri, warga kemudian berjalan kaki menuju makam leluhur mereka di lereng Merapi. Mereka menyusuri jalan setapak kecil yang terjal dan berbatu-batu. Selain berziarah, mereka juga menaburkan bunga dan membacakan kidung Jawa.

Ki Rekso Jiwo kemudian menceritakan sejarah lahirnya manusia Jawa seperti tertuang dalam Serat Sabdo Palon dan Kidung Tuntutan Urip Sejati. Ia juga mengajarkan tentang apa itu ajaran spiritual orang Jawa, dan perkembangan budaya Jawa hingga sekarang.

Dipaparkan, bahwa manusia harus hidup saling menghargai, dan menghormati adat dan kebudayaan masing-masing. Hal ini sesuai dengan inti pelajaran dan wejangan (nasehat) dari Sunan Giri. Bagi orang Jawa, kata Ki Rekso Jiwo, nyadran tidak sekedar tradisi namun sudah merupakan kewajiban.

Tradisi dan budaya Jawa ini diharapkan akan tetap lestari sehingga perlu diajarkan kepada kalangan generasi muda. "Ziarah ke makam leluhur akan mengingatkan kita pada Sangkan Paraning Dumadi, atau asal usul manusia. Kami mengingat kematian agar bisa mengubah perilaku agar lebih baik," kata dia.

Di Dusun Wonogiri Kidul ini ada sekitar 20 KK penganut kepercayaan urip sejati. Setiap tahun mereka menggelar prosesi nyadran ke petilasan Sunan Giri. Mereka juga menggelar kirab tumpeng keliling dusun dan pentas wayang kulit. [suaramerdeka]