Virus Sengkuni | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Virus Sengkuni Reviewed by maztrie on 3:53 PM Rating: 4,5

Virus Sengkuni


TAMPAKNYA kultur primitif masih terpelihara dalam kehidupan kita hingga saat ini. Apa itu? Gemar cekcok, berantem. Yang memiriskan, hal itu juga dilakukan para elite politik yang rata-rata berpendidikan tinggi. Pemantiknya, biasanya ketika mereka berebut kekuasaan.

Perilaku terbelakang tersebut seolah mendapatkan tempat leluasa sejak reformasi lahir. Ini seperti paradoks, era 'modern' tiba, tetapi pada saat itu pula perilaku 'kuno' menyubur. Dengan begitu, hukum alamlah yang berlaku, siapa yang kuat yang menang. Dalam peribahasa Jawa itulah yang disebut Asu gedhe menang kerahe.

Narasi demikian itu selalu dilegitimasi ketika partai politik (parpol) menyelenggarakan gawean terkait dengan pokok agenda, terutama pemilihan ketua umum, perebutan kekuasaan. Para elite dan kader parpol berselisih. Mereka berebut klaim akan kebenaran masing-masing.

Karena tidak ada solusi yang baik, mereka yang kalah kemudian keluar dan mendirikan rumah baru. Maka tidak aneh bila ada parpol yang setiap menggelar musyawarah nasional, selalu beranak. 

Sebaliknya, yang menang (memimpin) kemudian dengan enteng dan segera memecat kader yang dinilai berseberangan atau tidak mendukungnya. Dengan demikian, yang terjadi ialah perilaku sapa sira sapa ingsung, kebijakan yang mendasarkan pada kekuasaan belaka. 

Kita semua paham bahwa sesungguhnya perebutan atau pergantian pemimpin merupakan ritual lumrah dalam setiap organisasi. Bahkan, estafet kepemimpinan itu merupakan keniscayaan. Akan tetapi, hal itu menjadi tidak sehat bila setiap perhelatan perebutan kepemimpinan selalu memunculkan perkelahian yang tidak terselesaikan. Pada akhirnya, sebagian dari mereka pun memilih jalan sendiri. 

Pamor Astina surut

Perselisihan dalam konteks perebutan kekuasaan juga banyak dilakonkan di dunia wayang. Seperti perebutan takhta Astina sepeninggal Prabu Pandudewanata. Kurawa, dengan kelicikannya, merampas kekuasaan Astina. Padahal, bila berdasarkan aturan dan asas fairness, takhta itu milik Pandawa karena mereka ahli waris. 

Namun, norma yang mengatur keharmonisan pemerintahan Astina diinjak-injak, diobrak-abrik oleh tokoh bernama Trigantalpati alias Sengkuni. Skenarionya, semata-mata agar jagonya menjadi penguasa Astina. Berkat dukungan bala yang banyak, akhirnya Sengkuni berhasil mendudukkan Duryudana, sulung Kurawa, di kursi nomor satu di Astina. 

Awalnya Bratasena, panenggak Pandawa, ingin meluruskan tindakan inkonstitusional Kurawa itu dengan kekerasan. Akan tetapi, langkah itu urung dilakukan setelah kakaknya, Puntadewa, mejang (menasihati) tentang ajaran keutamaan hidup. Kekuasaan bukan segalanya, apalagi mesti direbut dengan kekerasan. Semua kenikmatan yang ada di dunia ini hanyalah kefanaan. 

Selain itu, santiaji yang disampaikan Puntadewa terhadap Bratasena ialah bahwa ngalah dhuwur wekasane, artinya mengalah (untuk sementara) akan mendapatkan kebaikan atau kemenangan di kelak kemudian hari. Meladeni perilaku culas merupakan perbuatan percuma. Karena itu, Pandawa lantas memilih menyingkir, keluar dari Astina. Pandawa membangun negara baru dengan kekuatan sendiri.

Puntadewa bersama adik-adiknya, Bratasena, Arjuna, Pinten, dan Tangsen, dibantu sejumlah pendukung bahu membahu mendirikan rumah baru. Tidak ada sepeser pun modal dari pihak lain. Bahkan, mereka menolak uluran bantuan dari pakdenya, Destarastra, ayah Kurawa. 

Negara baru itu mereka namakan Amarta. Nama itu diambil dari wilayah berdirinya negara tersebut, belantara Wanamarta. Pandawa mengelola negara dengan berpegang teguh pada konstitusi. Semua tunduk terhadap semua aturan sehingga Amarta menjadi negara yang dicita-citakan. Keindahan Amarta digambarkan seperti Kahyangan-nya Bethara Indra sehingga negara tersebut juga bernama Indraprastha.  

Pada bagian lain, Astina yang semula merupakan negara besar dan kuncara lambat laun pamornya surut. Kondisi memilukan itu terjadi akibat selama di bawah kekuasaan oligarki Kurawa, praktik KKN di Astina berkecambah. Rakyat yang muak dengan situasi itu lantas meninggalkan Astina dan pindah kewarganegaraan ke Amarta.

Bubrahnya peradaban

Bila diselisik, yang menjadi biang keladi kemunduran Astina itu ialah karena bercokolnya Sengkuni di lingkaran istana. Semula, Sengkuni yang hanya nunut hidup--karena kakaknya (Dewi Gendari), menikah dengan Destarastra, kakak Pandudewanata--telah menjadi aktor utama bubrahnya peradaban Astina. Pada masa anak-anak, Kurawa merupakan insan-insan yang baik seperti halnya Pandawa. Namun, mereka berubah menjadi zalim saat berkuasa, setelah dimentori Sengkuni, paman mereka sendiri. 

Ini bisa dijadikan diskursus batin bagi para pengelola organisasi apa pun, termasuk parpol, untuk selalu eling dan waspada. Eling dalam arti selalu berada pada relnya, waspada jangan sampai muncul virus Sengkuni. Selama organisasi tidak dikelola dengan kepatuhan akan aturan dan kepatutan dalam bertindak, kerunyaman pasti akan terjadi.   

Jadi, hikmah dalam kisah di negara Astina itu, bahwa Sengkuni telah menjadi biang kerok bubrahnya peradaban negara. Dalam bahasa dalang Ki Anom Suroto, di mana pun ada Sengkuni, di situ pasti terjadi kekacauan. Bahkan, di atas meja judi sekali pun, bila ada Sengkuni-nya, pasti terjadi kerusuhan.

Sadarlah bahwa di kiri-kanan atau di sekeliling kita bukanlah tidak mungkin bergerombol Sengkuni. Atau, barangkali banyak para elite parpol yang tidak menyadari bahwa dirinya telah memerankan figur Sengkuni.  Dalam hal ini Sengkuni merupakan simbol perilaku tidak jujur, akal-akalan, mau menang sendiri, ambisius, dan pengabaian segala norma dan aturan.  

Dalam negara yang menganut paham demokrasi, keberadaan parpol merupakan keharusan. Namun, bagaimana bangsa dan negara akan sampai kepada tujuan yang dicita-citakan bersama bila perangkat negara yang bernama parpol tidak pernah mencapai kemapanan?

Dari waktu ke waktu, kehadiran parpol di mata publik seakan hanya persoalan perebutan kekuasaan (pemimpin) yang kisruh. Padahal, idealnya, dari sana muncul ide, gagasan, dan kemudian tindakan untuk menentukan kemajuan bangsa. (M-2)


Rujukan

[1] Disalin dari karya Ono Sarwono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 07 Desember 2014