Pesan Moral Ketupat | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Pesan Moral Ketupat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:19 PM Rating: 4,5

Pesan Moral Ketupat


Tradisi Lebaran ketupat menjadi perayaan wajib sepekan setelah Idul Fitri. Itu menjadi bukti adanya rasa saling memaafkan karena Islam itu harmonis.

SEPEKAN sudah perayaan Idul Fitri 1436 H berlalu. Umat Islam menyambut dengan penuh makna. Masyarakat di Pulau Jawa, misalnya, pun memiliki cara tersendiri. Mereka menyemarak kan datangnya hari kemenangan lewat Lebaran ketupat, pelengkap hari kemenangan.

Masyarakat Jawa mengenal dua kali pelaksanaan Lebaran. Yaitu, Idul Fitri dan Lebaran ketupat. Perayaan Idul Fitri sudah dilaksanakan pada 1 Syawal, sedangkan Lebaran ketupat pada 8 Syawal.

Tradisi Lebaran ketupat diselenggarakan pada hari kedelapan bulan Syawal setelah menyelesaikan puasa Syawal selama 6 hari. Hal itu berdasarkan sunah Nabi Muhammad SAW yang mengan jurkan umat Islam untuk berpuasa sunah.

“Ketupat selalu menghiasi meja saat perayaan di rumah. Perayaan Le baran ketupat menjadi tradisi yang masih kami lakukan bersama ke luarga,“ ujar Irwan Mustajab, seorang rekanan yang berlebaran, pekan lalu.

Tak diayal, Lebaran ketupat menjadi penting. Di situlah tampak kekerabatan. Ada silaturahim yang begitu erat. Itu membuat semuanya seakan kembali `lahir'. Itulah keunikan yang ada di Nusantara. Masyarakat merayakan Lebaran ketupat sebagai sebuah cara untuk menjaga identitas kultural.

Berdasarkan data sejarah, Lebaran ketupat pertama kali diperkenalkan Sunan Kalijaga. Ia menyebutkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa. Ada Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan salat id 1 Syawal hingga tradisi saling kun jung dan memaafkan sesama muslim. Sementara itu, Bakda Kupat dimulai seminggu se sudah Lebaran.

Pada Bakda Kupat, ma syarakat muslim Jawa umumnya membuat ketu pat. Panganan itu terbuat dari beras yang dimasukkan ke anyaman ja nur (daun kela pa). Se telah masak, ketupat pun disa jikan bagi kerabat ter dekat dan sese puh. Itu se bagai simbol kebersamaan dan lambang kasih.

Dalam tradisi masyarakat di Madura, Jawa Timur, terdapat aneka bentuk ketupat. Itu memiliki arti dan maksud tersendiri. Ada ketupat bawang yang berbentuk persegi empat sebagai ketupat penyedap. Kekhasan itu terletak pada bumbu utamanya yang berupa bawang.

Ada juga ketupat glabed yang populer di masyarakat Tegal, Jawa Tengah. Ketupat glabed memiliki ciri khas dengan kuah berwarna kuning kental.

Penamaan ketupat itu pun berasal dari ucapan orang Tegal yang mengekspresikan kekentalan kuah ketupat tersebut dengan istilah `glabed-glabed-glabed'.

Begitu pun masyarakat Betawi di Jakarta dan sekitarnya. Mereka juga punya kekhasan. Orang Betawi menyebutnya ketupat bebanci. Dalam penyajian kupat itu, terdapat kuah santan berisi daging sapi plus aneka bumbu yang membuat air liur bisa meleleh. Aroma bumbu dan rempahnya kuat terasa.

Haidar Bagir, dosen filsafat sekaligus cendekiawan muslim, menilai perayaan Lebaran ketupat tidak ada dalam kamus Islam. Perayaan itu hanya bersifat kultural yang berlangsung di Nusantara. Di sini, Nusantara, sebutnya, mencakup berbagai negara, termasuk Singapura, Malaysia, sebagian Thailand, dan Brunei Darussalam.

“Di negara Muslim, Idul Adha sering diperingati lebih besar ketimbang Idul Fitri. Di negeri kita, Idul Fitri diperingati lebih besar dari Idul Adha. Perlu pendekatan budaya untuk menelaah ini. Mudik Lebaran, misalnya, merupakan ciri khas Nusantara sehingga menjadi peristiwa besar,“ paparnya.

Menurut Haidar, Lebaran ketupat yang ada di Jawa merupakan perayaan. Itu dilakukan agar orang lebih tertarik menjaga kebiasaan halalbihalal (tradisi saling meminta dan memberi maaf satu sama). Tujuannya mulia, yakni menjaga hubungan erat.

“Lebaran ketupat tidak hanya di Jawa (Indonesia). Ada juga di Si ngapura dan Malaysia. Ketupat dilambangkan sebagai simbol saling memaafkan pada era Sultan Paku Buwono IV di Surakarta,“ jelas alumnus pendidikan pascasarjana di Pusat Studi Timur Tengah, Harvard Univer sity, Amerika Serikat, itu.Tradisi sungkeman Memang menarik bila mengupas tentang makna ketupat. Istilah ketupat atau kupat berasal dari bahasa Jawa, yaitu ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (menjalani empat tindakan).

Pada tahap ngaku lepat, anak-anak selalu melakukan tradisi sungkeman, yaitu bersimpuh dan memohon maaf kepada orangtua. Prosesi itu tidak hanya bertumpu pada tradisi sungkeman. Namun, memohon maaf kepada tetangga, kerabat, dan masyarakat.

Sementara itu, istilah laku papat dalam tatanan masyarakat Jawa diartikan dalam empat istilah, yaitu Lebaran, luberan, leburan, dan laburan.Lebaran berarti akhir dan selesai, yaitu menandakan telah berakhirnya waktu puasa Ramadan dan siap menyongsong hari kemenangan.

Luberan bermakna meluber atau melimpah. Ada makna penting dalam luberan, yaitu budaya mau membagi sebagian harta yang lebih kepada fakir miskin dan anak yatim piatu.Adapun leburan berarti habis dan melebur.

Terakhir, laburan berasal dari kata labur atau kapur. Kapur merupakan zat padat berwarna putih. Bisa menjernihkan zat cair. Dari sinilah, laburan mengandung makna seorang muslim haruslah kembali jernih nan putih laiknya kapur. Itu menjadi simbol kejernihan dan kesucian hati.

“Tradisi Lebaran ketupat pun mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Ini menjadi bukti saling memaafkan. Ajaran dalam Islam kan harus dipatuhi semua penganutnya. Islam itu harmonis,“ aku Haidar.

Lewat Lebaran ketupat, ada nilainilai kearifan lokal yang kuat mengakar. Sejatinya, itu terus terjaga dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Ada pesan moral untuk saling rendah hati dan berjiwa sosial.Jangan lupa bagikan sepiring ketupat ke rumah sebelah! (M-2)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iwan J Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 26 Juli 2015