Gunung dalam Kosmologi Jawa | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Gunung dalam Kosmologi Jawa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:48 AM Rating: 4,5

Gunung dalam Kosmologi Jawa

INDONESIA dianugerahi kekayaan alam luar biasa, termasuk barisan gunung berapi di sepanjang khatulistiwa. Ketika tenang, sosok gunung berapi menjadi daya tarik wisata alam, religi, dan seni budaya bagi wisatawan. Sebaliknya, jika sedang aktif, letusannya mengancam kehidupan masyarakat. Gunung berapi membawa berkah dan mendatangkan bencana sekaligus.

Kini, kita sedang menghadapi bencana alam meletusnya gunung-gunung berapi seperti Raung di Jawa Timur, Sinabung di Sumatera Utara, dan Gamalama di Ternate. Bencana memang menciptakan kesedihan. Namun di baliknya, bencana alam gunung meletus sebenarnya mengingatkan kita bagaimana bangsa ini disusun oleh sikap-sikap budaya yang tidak hanya berhubungan dengan faktor ekonomi, tetapi lebih dari itu, berkait dengan sikap kosmik menjadi bagian dari siklus alam yang ditempatinya.

Elan vital semacam itu secara unik menjadi penanda peradaban bangsa. Gunung Merapi, misalnya, menyediakan penjelasan tentang ontologi dan kosmologi masyarakat Jawa di sekitarnya. Merapi menyimpan logika animisme dan dinamisme warisan leluhur. Di sisi selatan gunung itu berdiam Ki Sapu Jagad, yang dipercaya sebagai pembantu para penguasa Mataram. Di wilayah Selo, Boyolali, ada tradisi lisan Mbah Petruk sebagai penjaga Merapi yang berdiam di Gunung Bibi, sebutan masyarakat setempat terhadap salah satu bukit yang dianggap wingit. Karena itu, pada waktu khusus, rutin disajikan persembahan tumpeng berisi hasil pertanian dan aneka macam sesajen sebagai caosan, representasi nilai hormat dan rasa syukur kepada Tuhan.

Bentuk tumpeng yang mengerucut adalah simbolisasi kesatuan horizontal (manusia dan alam seisinya) serta vertikal (manusia dan Pencipta).

Radhar Panca Dahana (2010) menulis, sebagai bagian dari provinsi (Kerajaan Mataram) Yogyakarta, Merapi menempati posisi sangat vital dalam tata ruang dan waktu orang Yogya. Ia adalah ujung tertinggi (utara) dari sumbu imajiner yang berawal dari Laut Kidul (selatan) di mana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai pancer.

Di garis yang melalui Parangkusuma-Panggung Krapyak-Kraton-Tugu Pal Putih hingga Merapi itulah orang Jawa menciptakan hubungan antara jagad ageng (makrokosmos) dan jagad alit (mikrokosmos), antara manusia dan Pencipta dalam ajaran yang disebut sangkan paraning dumadi. Merapi juga disebut sebagai swarga pangrantunan, puncak dari perjalanan hidup manusia, sejak ia lahir (di bawah/selatan) hingga mati (mencapai keabadian di atas/utara).

Kearifan lokal semacam itu sebe-narnya bisa dibaca sebagai suatu pengakuan, penghormatan, sekaligus ruang dialog imajiner antara penduduk dan penguasa Merapi. Keyakinan itu membawa mereka pada sikap untuk tidak mengeksploitasi sumber daya alam agar terhindar dari bencana yang mungkin menimpa. Masyarakat gunung percaya, penunggu gunung akan melindungi anak-cucu mereka yang selalu menghaturkan sesaji dengan memberi tanda-tanda jika akan terjadi bencana.

Kayon

Tak hanya lewat ritual, konsep harmoni antara manusia dengan alam serta keseimbangan makrokosmos dan mikrokosmos ini juga terepresentasikan melalui seni pertunjukan. Dalam dunia wayang, kita mengenal kayon atau gunungan, simbol alam semesta yang tergambar melalui pohon-pohon rindang dengan cabang yang merangkul dan pucuk yang tinggi menyembul dalam ukiran yang renik.

Heri Priyatmoko (2014) menjelaskan, dalam kayon tergambar pintu gerbang yang melambangkan batas antara alam dunia dan alam adikodrati (kahyangan). Gambar rumah merupakan tempat para dewa di kahyangan dan ruang hunian manusia di bumi. Unsur pohon, dalam tradisi Hindu yang memengaruhi budaya Jawa, dimaknai sebagai tempat roh bersemayam. Pohon memayungi dan memberi kehidupan bagi manusia dengan menghasilkan oksigen untuk pernapasan dan sumber makanan.

Harimau dan lembu di kiri-kanan pohon menunjukkan keseimbangan binatang buas dan jinak. Lembu membantu petani, memberi daging untuk dikonsumsi dan kotoran untuk pupuk. Juga kala makara atau banaspati sebagai makhluk halus penjaga hutan, mitos yang digunakan untuk menakut-nakuti siapa pun yang hendak merusak ekologi hutan.

Gunung tidak sekadar bentukan bentang alam semata. Ia adalah representasi konsep nilai dan ruang yang memiliki kekuatan konstitutif bagi umat manusia. Gunung adalah pustaka kebijaksanaan yang patut dibaca dan dipahami supaya kita tidak abai belajar pada (pengetahuan) pegunungan serta mampu merefleksikan demi kehidupan yang seimbang dan harmonis secara vertikal dan horizontal. (41)

 Purnawan Andra, penata artistik Paguyuban Seni Sawung Gunung Selo, Boyolali

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Purnawan Andra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 9 Agustus 2015