Sejurus Diam, Sejurus Gerak | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Sejurus Diam, Sejurus Gerak Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:56 PM Rating: 4,5

Sejurus Diam, Sejurus Gerak

Silat yang bergerak dan patung yang diam menyatu dalam pameran yang digelar untuk mengenang mendiang pendekar dan peneliti pencak silat O’ong Maryono. Pameran yang menghadirkan silat dalam ruang-ruang baru akhirnya membangun percakapan baru.

Pesilat dan pematung, laku ini sepintas sama-sama laku yang ”sepi”. Pencak silat cenderung kalah pamor dari berbagai seni bela diri mancanegara. Menjadi pematung juga pilihan jarang di antara para seniman rupa meskipun tentu saja banyak pelukis yang juga membuat patung.

Di Taman Ismail Marzuki, dua ”laku sunyi” itu bertemu. Tanpa tanggung-tanggung, 27 pematung menjadi ”tuan rumah” pertemuan itu dengan menghadirkan 40 ”pendekar”, 40 patung yang menjadikan seni pencak silat sebagai pangkal tolak penciptaan karya mereka.

Hasilnya beraneka rasa. Pematung Dolorosa Sinaga, misalnya, hadir menonjol dengan sejumlah karya berseri ”Tarian Silat”, berupa patung pipih aluminium foil khas Dolorosa. Dari kepiawaian jemarinya melekuk-lekuk lembaran aluminium foil, Dolorosa membangun imajinasi gerak jurus-jurus para ”pendekarnya”.

”Tarian Silat 3” (2015), misalnya, justru hidup karena anatomi tubuh yang minimal, tanpa rinci wajah, jemari, ataupun kaki misalnya. ”Sang pendekar” menjadi berkelebat karena kewajaran postur tubuh yang seolah dibekukan dari tarikan-tarikan otot yang belum selesai menuju satu titik diam—membangun kesan cepat, agresif, sekaligus indah.

Patung keramik ”Tarung” (2015) karya Adhy Putraka juga indah mengabstraksi pertarungan dua pendekar. Alih-alih membangun rincian sosok dua ”pendekarnya”, Adhy justru menghadirkan keindahan rupa tiga dimensi abstrak yang masif, berupa lempengan tebal keramik yang melengkung dan meliuk, menghadirkan rasa pertarungan dua raksasa yang penuh tenaga.

”Sapuan dan Guntingan” (2015) menjadi contoh lain rupa tiga dimensi abstraksi yang berhulu dari gebrakan-gebrakan silat. Tak ada sapuan dan guntingan yang bisa dilihat dalam karya Artherio. Ia lebih memilih menghadirkan indahnya permainan komposisi bentuk dan kerincian permainan tekstur rupa tiga dimensi karyanya.

Pameran ”Ekspresi Keindahan Rasa dan Bentuk dalam Gerak Pencak Silat” yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 1-15 Agustus memang penuh ragam. Karya-karya realis, figuratif, ataupun abstrak muncul dari berbagai bahan patung—mulai dari patung-patung kayu jati Ilham Rohadi atau Nanang Petrusi, fiberglass karya Johan Abe, hingga pelat besi karya Dwi S Wibowo.

Pendekar peneliti

”Sepertinya, pencak silat tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri.” Kalimat gelisah yang sering diucapkan mendiang O’ong Maryono—seorang pendekar sekaligus peneliti pencak silat—menjadi lecutan yang merangsang para perupa. Janda O’ong Maryono, Rosalia Sciortino Sumaryono, adalah ibu bagi perhelatan seni yang merayakan pencak silat dalam sebuah ruang galeri seni itu.

Pada 20 Maret 2013, O’ong Maryono berpulang, mewariskan semangat besarnya meneliti dan menulis pencak silat. O’ong yang lahir di Bondowoso pada 28 Juli 1953 belajar silat sejak berumur 9 tahun. Kakeknya, Matrawi, menjadi guru pertama yang mengenalkan O’ong kepada pencak aliran macan kumbang.

Selain mempelajari berbagai aliran silat, ia juga belajar berbagai bela diri mancanegara, mulai dari karate, judo, aikido, jujitsu, hingga taekwondo. Sepanjang 1979 sampai 1987, O’ong mendominasi berbagai kompetisi pencak silat, termasuk dua kali menjadi juara dunia kelas bebas pada 1982 dan 1984. Ia mengenalkan silat dengan membuka cabang perguruan Keluarga Pencak Silat Nusantara di Belanda, Italia, dan Jerman, menjadi pelatih tim nasional pencak silat Brunei, Filipina, dan Thailand.

”Semangat itulah yang kami jaga, dengan mendirikan O’ong Maryono Pencak Silat Award yang memberikan hibah kepada para peneliti pencak silat. Awalnya, pendanaan hibah berasal dari sumbangan keluarga O’ong Maryono,” tutur Rosalia.

Sejak setahun silam, Rosalia dan Dolorosa mendiskusikan gagasan pameran patung silat dengan para pematung dan perupa yang menerima tantangan itu. ”Ini kali pertama pematung bersama-sama membuat karya yang terinspirasi dari pencak silat. Sebagaimana pencak silat yang sangat beragam, interpretasi pencak silat sebagai sumber penciptaan patung pun sangat beragam,” kata Dolorosa.

O’ong Maryono Pencak Silat Award selaku penyelenggara pun piawai mengelola pameran patung itu sebagai peristiwa seni yang hidup dan berinteraksi dengan para pesilat berbagai aliran. Setiap Senin, Rabu, dan Jumat pada pekan penyelenggaraan pameran, selalu digelar atraksi silat yang menghadirkan para pesilat dari berbagai perguruan di sekitar Jakarta. Pada 8 dan 9 Agustus, Teater Koma juga mementaskan teater yang mengambil kisah para pendekar silat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aryo Wisanggeni G
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 9 Agustus 2015