Supremasi Laki-laki | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Supremasi Laki-laki Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:49 PM Rating: 4,5

Supremasi Laki-laki

Zaman belum berubah. Supremasi laki-laki atas perempuan masih menonjol. Kecenderungan menambah istri tak pernah surut meskipun mereka tahu akan berujung petaka. Hasrat kedagingan yang menyengsarakan.

Itulah antara lain pesan yang disampaikan Jose Rizal Manua saat bermonolog ”Mas Joko” di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (30/7), yang naskahnya ditulis oleh Remy Sylado. Mas Joko adalah lelaki paruh baya yang masih melajang dan tengah jatuh cinta dengan seorang dara berusia 20 tahun.

Mas Joko muncul dengan baju merah dan celana putih. Rambutnya yang gondrong memutih dipuncaki topi pet. Celana putihnya berpadu dengan kaus kaki merah dan sepatu putih. Serba merah putih. Bahkan, bunga mawar plastik yang memenuhi kopernya pun berwarna merah putih.

”Ini warna kita dalam berbangsa. Dan hebatnya, ini bunga plastik. Tidak pernah layu. Tidak pernah kering. Jadi jangan lecehkan bunga plastik. Jangan bilang bunga plastik adalah bunga kelas dua,” sindir Mas Joko tentang kehidupan manusia modern yang serba artifisial, palsu tapi bangga.

Itu juga dia sampaikan saat menjelaskan tentang seorang gadis yang selalu memakai enam jenis parfum masing-masing di ketiak kiri, ketiak kanan, belakang kuping kiri, belakang kuping kanan, selangkangan kanan, dan selangkangan kiri. ”Karuan baunya seperti jin malam Jumat.”

Mas Joko sebenarnya sekadar panggilan. Nama aslinya adalah Anton Bastian Candra Darmono Emil Fransiskus Guntur Haryadi Isman Jamaluddin Kadaryono Lazarus Musa Nazaruddin Omar Paulus Quentin Rahmat Susilo Tomas Usman Vincentius Wahid Xerxes Yahya Zakarias. Panjang sekali mewakili urutan huruf-huruf alfabet dari A hingga Z.

Nama itu mewakili kebinekaan Indonesia yang menyimbolkan berbagai kelompok seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Remy ingin memotret Indonesia lewat nama Mas Joko.

Nama Mas Joko muncul sebagai simbol bahwa ia belum pernah menikah. Juga menyiratkan makna masih muda. Begitulah Mas Joko menjelaskan rancangan cara dia mengenalkan diri jika kelak bertemu dengan gadis pujaan hatinya yang tinggal di lantai 19 sebuah apartemen tempat dia berdiri di halamannya kini. Sayangnya, Mas Joko kehabisan tenaga saat menapaki tangga di lantai tujuh ketika lift apartemen itu mati lantaran listrik padam.

Sensitivitas jender

Di awal pementasan, Mas Joko menyapa penonton dengan sapaan ”Puan-puan dan Tuan-tuan”. Dia sengaja mendahulukan perempuan sebelum menyapa kaum Adam. Ini cara Mas Joko mengkritik pola pikir masyarakat modern yang cenderung memprioritaskan laki-laki. Ini sepenuhnya pengaruh budaya Barat yang menyebut tanah air sebagai ”tanah bapak”.

Padahal, sejatinya bangsa Indonesia sangat mengagungkan perempuan. Ini misalnya dapat dilihat dari penyebutan Tanah Air sebagai Ibu Pertiwi atau kota yang paling besar sebagai Ibu Kota. Bangsa Indonesia juga sangat elok dalam menghormati perempuan dengan menyebut jari jempol sebagai ibu jari. ”Simpulnya, bangsa yang punya adat menakzimi ibu itu bangsa yang jempolan,” kata Mas Joko.

Mas Joko pun menitip kritik terhadap para tukang kawin atau pelaku poligami. Bahwa poligami lebih banyak membawa petaka daripada bahagia. Dengan sangat cerdik, Mas Joko mengemukakan petaka poligami ini dengan metafora kehidupan Sapardi, rekan sebayanya.

Sapardi menikah lagi dengan gadis urban asal Gunung Kidul. Saat Sapardi tidur di rumah istri tua, istrinya mencabuti rambut hitamnya agar tampak sempurna sebagai orang tua yang menawan dengan rambut putihnya. Namun, saat tidur di rumah istri muda, istrinya mencabuti rambut putihnya agar tampak sempurna sebagai orang muda dengan rambut hitamnya.

Dalam dua bulan, kepala Sapardi seperti jeruk bali. Botak. Ketika kepala itu diterpa sinar matahari, kondisinya tampak mengkhawatirkan. Mas Joko menyebutnya tragedi bulan kedua. Sapardi terseret dalam arus dua kepentingan yang dia sendiri tak mampu mengendalikannya. Ini menjadi bencana yang jamak dialami pelaku poligami.

Itu akibatnya jika laki-laki selalu berpikir kedagingan. Laki-laki yang melulu melihat perempuan sebagai wanita, yakni seonggok daging hidup pemuas syahwat. Mas Joko seolah ingin mengatakan sebuah masalah besar ketika laki-laki melihat perempuan sebagai sesuatu, bukan seseorang. Pola pikir ini kemudian melahirkan tindakan-tindakan yang merendahkan perempuan.

Dalam usianya yang memasuki 60 tahun, stamina pendiri teater Tanah Air itu terbilang masih sangat bagus. Rizal menyanyi, berteriak, dan bercerita hampir tanpa jeda selama 50 menit. Di awal dia menyanyi rock campur jazz dan di akhir pentas menyanyikan lagu berlanggam Jawa campur Tiongkok. Penonton seolah hanyut dalam ironi dan komedi yang dibawakannya lewat lakon ”Mas Joko”. Berkali-kali tawa penonton pecah dan sesekali nyengir menyimak monolog Jose Rizal.

Remy sebagai penulis naskah mengakui bahwa Jose Rizal mampu membawakan monolog itu dengan gaya yang segar dan enak untuk dinikmati. ”Meskipun ini naskah lama, tetapi masih segar saat dia bawakan,” kata Remy seusai pertunjukan.

Remy-lah yang pertama kali mementaskan naskahnya itu di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, pada 1978. Belakangan Jose Rizal mementaskan naskah karya temannya itu di berbagai tempat. Hingga Kamis malam, Jose Rizal telah delapan kali mementaskannya di Sumatera, Jawa, dan Sumbawa. Dia ingin keliling Indonesia membawa lakon ”Mas Joko” sembari mengingatkan bahaya laten hasrat kedagingan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Momammad Hilmi Faiq
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Kompas" pada 2 Agustus 2015