Teror Tipu di Atas Tipu | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Teror Tipu di Atas Tipu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:58 PM Rating: 4,5

Teror Tipu di Atas Tipu

Dengan teror mental dan kegigihan untuk berangkat dari yang ada, Teater Mandiri menapaki dan mencapai usia 44 tahun. Perayaannya dihadirkan generasi kedua Teater Mandiri, yang memainkan lakon Kok karya Putu Wijaya. Panggung mereka belum seberapa meneror, tetapi kemunafikan yang dimain-mainkan naskah Putu Wijaya sungguh mengganggu.

Tipu di atas tipu, muslihat di atas muslihat, kebohongan di atas kebohongan. Itulah drama sesungguhnya dari lakon ini. Lakon yang meneror mental dengan kisah para penipu, yang tertipu tipuan para penipu lain, yang juga tengah tertipu oleh para penipu lain yang juga sedang tertipu.

Jangan membayangkan pentas Kok di Teater Jakarta pada 4 dan 5 Agustus lalu seperti dalil filsafat yang sulit dicerna. Putu Wijaya membangun naskahnya dari cerita sederhana, yang setiap hari terjadi di planet yang sesak oleh beragam kepentingan ini. Cerita tentang sebuah kampung yang berada di persimpangan nasib, antara bertahan menjadi kampung yang aman tenteram dan bersalin menjadi kantong urban.

Semuanya gara-gara seorang nyonya kaya, Nyonya Baron (Dwi Hastuti). Nyonya Baron, seorang asing yang datang, menawarkan mimpi Astya Pura yang menjadi pusat bisnis berupa gedung 100 lantai. ”Akan tercipta lapangan kerja, warga Astya Pura bakal sejahtera,” kata sang nyonya.

Warga geger, terpecah. Sebagian tergiur mimpi Nyonya Baron, membuat semua saling bercuriga, bahwa warga yang lain sudah ”curi start” menikmati uang tebal Nyonya Baron. Sebagian warga lainnya merasa tawaran Nyonya Baron adalah ”mimpi palsu” yang bakal menyengsarakan mereka, tawaran dari seorang ”Nyonya Baron van Iblis”.

Berlapis-lapis tipu

Dalam adonan saling curiga dan pilinan tipu di atas tipu itulah lakon Kok mengalirkan berlapis-lapis kemunafikan. Warga mengamuk, melempari rumah Nyonya Baron dengan batu dan bom. Nyonya Baron balik dari kampung, mendapati rumah yang luluh lantak. Karena jeri, ia pun membatalkan proyek gedung 100 lantai. Pak RT si penyimpan kunci rumah Nyonya Baron dianggap berjasa karena mengibarkan Merah-Putih terbalik yang membuat warga menghancurkan rumah Nyonya Baron. Gara-gara Pak RT, yang menyangkal menjadi pemasang bendera terbalik, Nyonya Baron jeri dan pergi, menyelamatkan para warga dari ”mimpi palsu” Nyonya Baron.

Di sini kejutan tipu di atas tipu. Belakangan Nyonya Baron muncul ke panggung dengan bersukacita. Asuransi rumah itu membuat Nyonya Baron kaya raya, tanpa perlu repot-repot membangun gedung 100 lantai. Panggung Kok kian sesak dengan tipuan ketika Nyonya Baron menggelar ”audisi” provokator. Provokator yang akan memprovokasi warga kampung lain agar membakar rumah lain Nyonya Baron.

Drama satir itu menjadi tontonan kocak gara-gara para pelakon yang piawai mengolok-olok kemunafikan diri sendiri. Dua pelakonnya, Izul Julung dan Laila Uliel Elnama, pernah mementaskan versi lain Kok, yaitu Trik yang dipentaskan di Bentara Budaya Jakarta pada 29-30 Januari 2015. Keduanya benar-benar piawai saling mengolok kemunafikan dan sifat mata duitan karakter yang mereka lakonkan, Pak RT dan Bu RT.

Teror baru

Sayangnya, ”teror mental” yang dibangun dari ketegangan tipu di atas tipu itu menjadi kendur ketika para pelakon harus membangun skenario kebohongan kedua. Skenario kebohongan lanjutan yang akan membuat warga kampung lain membakar rumah lain Nyonya Baron, menjadikannya semakin kaya oleh asuransi kebakaran yang dirancangnya sendiri.

Tipu berlapis tipu yang jenaka dan satir berujung dengan penonton yang terkecoh-kecoh menanti akhir Kok, yang ternyata masih berlanjut dan berlanjut tanpa cukup daya. Klimaks kedua lakon ini nyaris tak terasakan karena hambarnya energi panggung setelah adegan audisi provokator oleh Nyonya Baron.

Apa pun, Kok berhasil menegaskan generasi kedua Teater Mandiri cukup punya gigi dan tangkas untuk berangkat dari apa yang ada. Para pemain muda, seperti Taksu Wijaya (pemeran Taksu), Elvis Ticoalu (pemeran provokator), dan Ari (pemeran Lurah), memang belum semeneror para aktor kawakan Teater Mandiri, tetapi laku berteater mereka masih terbentang panjang. Tinggal menunggu waktu, generasi baru Teater Mandiri itu akan menghantui penontonnya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Aryo Wisanggeni G
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" pada 9 Agustus 2015