Nandur Kopi di Jawa | Kliping Sastra Indonesia | Etnik dan Budaya
Nandur Kopi di Jawa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:43 PM Rating: 4,5

Nandur Kopi di Jawa

WARUNG kopi kini merebak di perkotaan Jawa. Selain dipakai ajang jagongan ngalor-ngidul, fungsi warung dilebarkan untuk menggelar rapat dan tempat diskusi. Disadari bahwa dewasa ini kenikmatan menyesap wedang kopi bikin masyarakat ketagihan.

Peluang itu ditangkap oleh sejumlah pengusaha dan pemikir kebudayaan untuk mendirikan warung kopi. Ada secuil pertanyaan yang bikin penasaran, bagaimana proses historis kopi hadir di tanah Jawa serta bagaimana budi daya tanaman itu?

Peneliti dari UGM, Retnandari dan Moeljarto Tjokrowinoto (1991), mengungkapkan kopi berasal dari kawasan jazirah Arab. Lantaran punya manfaat besar, tanaman itu begitu cepat menyebar ke seluruh dunia, terutama Asia dan Amerika Latin. Keterkaitan bumi Arab dan kopi diperkuat oleh sepotong bukti bahwa istilah “kopi” berasal dari bahasa Arab: quahweh.

Seiring perjalanan beranjak, terminologi itu diadopsi beberapa negara melalui perubahan lafal menjadi cafe (Perancis), caffe (Itali), kaffee (Jerman), koffie (Belanda), coffee (Inggris), dan coffea (Latin). Coffea tersebar ke penjuru dunia lewat peziarah haji, aksi kolonialisme, dan kapitalisme. Arus penyebarannya sebagian berlangsung dalam jangka pendek dan kecil-kecilan. Namun ada pula yang bergerak secara ekstensif, berkepanjangan, dan menjangkau tempat yang jauh dari habitat asal.

Thomas Raffles dalam buku tebal History of Java membeberkan, tanaman kopi dibawa oleh tuan kulit putih Belanda pada permulaan abad XVIII. Sebelum tahun 1808, kebun kopi (pakopen atau pagerkoffic) hanya ada di Distrik Sunda. Setelah tanah Jawa dikangkangi Marshal Daendels, pakopen
gampang dijumpai di banyak tempat. Dari penanaman, perawatan, sampai pengangkutan hasil ke gudang dikerjakan penduduk pribumi atas paksaan dan tekanan dari pemerintah Eropa.

Jalan bisnis menanam kopi tidak selalu lempeng dan meraup untung. Tahun 1878 pengusaha pakopen kelimpungan gara-gara merebak hama Hemilia Vestratrix yang menyerang kopi arabika, atau lebih sohor disebut kopi jawa. Hasil produksi kopi anjlok sampai 25%. Boleh dibilang, penyakit itu menghentikan pertumbuhan perkebunan kopi di Hindia Belanda hingga awal abad XX.

Istana Mangkunegaran yang memiliki pakopen di Wonogiri dan Karanganyar terkena imbas. Kegagalan panen petani kopi akibat ulah hama bikin kas praja kempis. Padahal, kurun itu keuangan keraton bertumpu pada industri perkebunan.

Agar lebih teratur, pakopen di pedesaan Jawa dikelola di bawah pengawasan mandor. Mulai aspek penanaman, memetik, mengangkut, pemupukan, pengairan, hingga pengamanan dari gangguan luwak dan tikus.

Diekspor

Di Perpustakaan Reksopustaka Mangkunegaran, saya mengais arsip beraksara Jawa yang dikeluarkan Mangkunegara IV (1853-1881). Laporan tua dan berdebu itu merekam soal pemeliharaan tanaman kopi oleh petani yang diupah f 21 selama 120 hari. Proses pemetikan di masa panen dikerjakan minimal 40 orang. Aturannya, 700 kuintal kopi dibayar f 3 dan 1400 kuintal diberi upah f 4,2. Sementara kegiatan pemetikan selama 120 hari diupahi f 0,75.

Sebubar dipetik, kopi diangkut serta disimpan di gudang kopi. Produksi kopi tidak dikirim langsung ke pabrik lantaran hasil kopi kudu dipilah ulang di gudang itu. Alasan kuatnya, pengelola menjamin mutu buah kopi terbaik untuk diolah dalam pabrik kopi milik Gubernemen. Ongkos pengangkutan kopi ke pabrik setiap 450 kuintal f 1,5.

Dalam dokumen itu dikatakan, pembuatan kopi di pabrik kopi ada tiga tahap. Pertama, mengupas, mencuci, dan menjemur kopi selama seminggu. Kegiatan menjemur dilakukan oleh delapan orang dan mencuci 45 orang yang diupah f 0,75. Kedua, menumbuk biji kopi yang dikerjakan 75 orang selama 90 hari dan dibayar f 0,9. Ketiga, menimbang dan menimbun kopi membutuhkan tenaga 50 orang. Selama 50 hari, mereka diberi upah f 0,9. Setelah kopi selesai diolah, lalu dijual ke pasar di Jawa dan Nusantara serta diekspor ke luar negeri.

Kemudian, keamanan pakopen dipasrahkan pada demang dan rangga. Sebulan sekali, mereka mengontrol pakopen dan melaporkan kondisi lapangan kepada administrator untuk bahan evaluasi sekaligus menyusun agenda berikutnya. Bila terlambat menghadap, pejabat itu bakal dijatuhi sanksi berupa denda Rp 2,00/hari.

Dilarang berperilaku semena-mena terhadap buruh, dan memanfaatkan tenaga mereka untuk jaga malam. Takkala menggelar hajat besar, demang dan rangga tidak diperbolehkan meminta upeti dari rakyat, kecuali diberi atas kehendak sendiri. Apabila tetap melanggar dan menyebabkan kerugian pada keuangan praja, Gusti Mangkunegara mengganjar hukuman dan menarik kembali payung kebesaran priayi (songsong).

Demikianlah, proses tandur kopi di Jawa pada masa lampau. Dari kilas balik itu, kita akhirnya paham bahwa kopi sudah ada sejak dulu, dan orang pribumi juga tampil gesit dalam olah produksinya. Fakta historis itu menunjukkan pula lidah orang Jawa akrab bersentuhan dengan wedang kopi sejak periode kerajaan. Berarti, budaya ngopi melintasi ruang dan waktu. Hari ini, pembaca yang budiman apakah sudah ngopi? (51)

Heri Priyatmoko, sejarawan Solo, dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heri Priyatmoko
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 15 November 2015